Sabtu, 07 Januari 2017

Sate Anggrek di Bandung

Harum daging bakar yang tercium saat saya turun dari angkot, membuat saya lalu melangkahkan kaki menuju ke arah sumber datangnya bau harum itu.
Tampak tiga orang laki-laki sedang membakar sate yang berjejer di atas tiga tungku pembakaran sepanjang satu meteran lebih (masing-masing).

Semakin dekat, harumnya semakin terasa. Membangkitkan nafsu.
Nafsu makan tentunya 😁



Saya yang pecinta sate ini pun memutuskan untuk memuaskan 'nafsu' itu terlebih dahulu, sebelum mencari si kedai kopi berpintu biru; Blue Doors.

Warung tenda pinggir jalan itu bernama Sate Anggrek (H. Ahmad Nawawi). Sesuai dengan nama jalan tempat warung ini berdiri.
Saat itu hanya saya yang datang membeli. Ternyata mereka baru saja membuka 'lapak' satenya. Berarti saya pertamax, kalau kata para kaskuser. Namun karena sudah ada sate yang matang, jadi saya pun tidak terlalu lama menunggu. Dan 'nafsu' itu pun bisa segera terpuaskan.


Saya memesan sate sapi.
Dagingnya empuk. Tidak bau amis atau bau prengus, apalagi bau keringat.
Karena ini adalah sate madura, jadi bumbunya adalah bumbu kacang. Dan seperti biasa, bumbu kacang itu tidak pernah mengecewakan. Selalu enak, siapapun peraciknya.
Entahlah. Mungkin karena saya memang dasarnya menyukai sate madura, jadi bawaannya enak saja. hahahaha. upssst.

Tapi tidak hanya sate sapi. Di warung tenda ini juga tersedia sate ayam, sate kambing (14rb/10 tusuk), soto ayam, soto sulung (12rb/porsi), sate telor (3rb/tusuk) dan baso tahu (2rb/biji).

bumbunya meleleh cyiiiin 😉
Sepertinya warung ini mulai buka sekitar pukul 4 sore. Kata pengunjung lain, datanglah lebih awal, sebelum tempatnya mulai ramai orang yang berdatangan.

Letaknya strategis, pas di belokan, persimpangan antara Jl. Riau dan Jl. Anggrek. Persimpangan kedua setelah Taman Pramuka (kalau dari arah Jl. Juanda). Tepat di samping Suis Butcher Steak House.


Tabe!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar