Kamis, 26 April 2018

Kopikina

Harum kopi dari mesin roasting yang sedang 'bekerja' di sudut ruangan, 'menemani' saya yang sedang menunggu pesanan kopi datang.
Stoples-stoples berisi beragam single origin nusantara, berjejer rapi di sebuah rak, di sisi coffee bar, tepat di samping mesin sangrai itu berada.

*pic: IG Kopikina
Kopikina, si rumah sangrai kopi nusantara yang saya datangi kali ini sudah lama ada dalam list saya. Banyak artikel yang sudah membahas tentang kedai kopi yang satu ini, baik di internet maupun koran. Karena mereka punya 'kisah' andalan yang patut untuk diceritakan. Kedai sekaligus rumah sangrai kopi ini sudah melakukan kurasi kopi dari 100 lebih daerah di Indonesia. Sungguh sebuah 'petualangan' rasa yang luar biasa jika kesini setiap hari. he-he


Tempatnya yang hanya sekitar 80 meter persegi, terlihat bersahaja dengan segala hiasan furniture tua. Beberapa foto hitam putih ditempel di dinding bata merah yang dibiarkan terekspos begitu saja. Sederet kamera analog pun ikut dipajang. Sebuah perangkat musik menempati salah satu sudut.
Komposisi yang apik.

*pic: IG Kopikina
Lokasinya yang berada di jalan utama Tebet, membuat Kopikina tidak sulit untuk ditemukan. Asalkan tidak naik ke jembatan layang, anda akan langsung melihat bangunan kedainya dengan logo Kopikina yang terpasang di atas pintu masuknya. Tempatnya hanya sekitar lima meter dari titik awal pembagian jalan biasa dengan jalan layang tersebut.

*pic: IG Kopikina
Saat kesini, saya memesan Yellow Catura dari Manggarai, Flores. Pilihan yang pas. Rasa nanas mendominasi di setiap tegukan. Sungguh menyegarkan. Tidak ada malam yang lebih indah lagi, dari malam yang 'dihabiskan' dengan kopi nikmat seperti ini. he-he


Sebagai sebuah rumah sangrai, Kopikina tentu saja menyediakan 'buah tangan' berupa kantung-kantung berisi biji kopi pilihan. Tinggal 'melipir' sejenak ke website mereka, maka segala pengalaman rasa yang beraneka akan bisa kita dapatkan 😁



Tabe!


PS:
>> Alamat Kopikina: Jl. Abdullah Syafi'ie No. 1, Tebet, Jakarta
>> Jam buka: 10.00 - 02.00
>> Website: www.kopikina.id
>> IG: @kopikina

*Hape canggih saya memang suka menyedihkan begitu hasil fotonya (berlogo PDC) kalau low light. Maklumi saja ya 😉

Senin, 02 April 2018

Restaurant Yougwa

PAPEDA...
Nama salah satu makanan khas dari Papua dan Maluku itu, menjadi salah satu penyebab saya berbuat dosa. he-he
Tanya kenapa?
Alasannya karena setiap kali teman-teman kuliah saya bertanya, "Lu di Flores tiap hari makan sagu dan papeda ya?", saya selalu mengiyakan, sambil menambahkan kalau banyak pohon sagu yang tumbuh di belakang rumah.

Saya suka ketawa sendiri melihat 'kepolosan' teman-teman saya itu. Entahlah. Apa mungkin mereka lupa atau tidak pernah memperhatikan saat guru menjelaskan dulu. Seumur hidup saya bahkan tahu bagaimana wujud pohon sagu itu hanya dari gambar di buku pelajaran.
Memang banyak pohon di belakang rumah saya. Tapi cuma kemiri dan kakao saja 😁

Namun, setelah sekian lama berbohong soal makan sagu dan papeda, saya akhirnya punya kesempatan untuk mencicipi makanan asli Indonesia Timur itu. Tidak di Papua atau Maluku, tapi dekat saja, di sebuah restoran di Jakarta Utara.
Saya tahu tempat makan di Kelapa Gading ini dari sebuah surat kabar. Dan langsung tertarik untuk menyambanginya. Selain agar saya tidak perlu berbohong lagi soal rasa makanan ini karena sudah mencobanya, juga karena makanan Papua yang relatif lebih sulit dijumpai daripada makanan dari Jawa atau Padang. Jadi tidak harus menunggu ada kesempatan untuk mengunjungi bumi Cendrawasih itu, yang entah kapan waktunya.


Tidak susah mencari Restaurant Yougwa ini, karena memang berada di lokasi premium, diantara deretan ruko-ruko sepanjang Jl. Boulevard Raya. Tidak jauh dari mall La Piaza.
Papan namanya cukup besar dan mencolok dengan dominasi warna kuning, merah dan hijau. Di papan nama itu tertulis kalau Yougwa adalah cabang langsung dari Danau Sentani di Papua.

Suasananya sepi ketika saya masuk. Hanya saya satu-satunya pengunjung saat itu.
Hiasan khas Papua, juga foto-foto tentang Papua dan kesan-pesan dari warga Papua mengenai restoran ini, tergantung rapi di dinding.


Seorang pelayan perempuan lalu menyodorkan daftar menu kepada saya yang masih sibuk memilih tempat duduk. Maklum, sebagai fotografer makanan abal-abal, posisi sangat menentukan hasil akhir jepretan. he-he

Agak lama saya memilih makanan yang ingin saya pesan. Bukan masalah Papeda--karena memang cuma ada dua opsi; porsi besar dan porsi sedang--tapi soal makanan pendamping bagi Papeda itu (termasuk menimbang kemampuan kantong 😁 ).
Pilihan akhirnya jatuh kepada Ikan Bobara Kuah Asam. Tidak ada alasan berarti, hanya karena namanya yang asing saja bagi saya.


Ikan Bobara (Trevally Fish)
pic: www.daf.qld.gov.au
Berikut sedikit penjelasan tentang Ikan Bobara ini, yang saya kutip dari situs indonesiakaya.com:
Ikan Bobara (Trevally Fish) banyak sekali hidup di wilayah perairan Propinsi Papua dan Papua Barat. Ikan ini merupakan ikan jenis petarung. Habitatnya di laut yang berkarang dan hidup dalam kelompok.


Agak lama menunggu pesanan saya itu datang. Dan selama itu saya masih sendiri saja. Belum ada pengunjung lain yang datang menemani.
Sekalinya datang pesanan itu, saya dibuat kaget. Papeda Porsi Sedang yang saya pesan ternyata tidak sesedang yang saya bayangkan. Porsinya bisa untuk berdua. Begitupula kuah asam Bobara-nya.

Apa mungkin ini karena di Papua segalanya rata-rata berukuran jumbo semua? Ukuran pulau mereka contohnya 😉
Ah sudahlah!


Dengan perlahan saya menyendok kuah asam yang berwarna kuning pekat itu (tentu saja setelah difoto dulu, demi kepentingan blog abal-abal ini 😁 ), ditambah sedikit potongan ikan yang saya letakkan dipinggirnya.
Lalu, dengan perlahan pula saya beralih ke Papeda. Putih, dengan tekstur yang lengket seperti lem. Dengan dua kayu yang ujungnya dibuat seperti garpu salad--atau garputala pun mirip--saya lalu menyendok/menyerok/??? (maaf saya tidak tahu kata yang pas untuk proses ini 😁 ), dan dengan 'garpu' yang kanan saya memutar-mutarkan papeda itu agar terlilit dengan sempurna di 'garpu' kiri. Kemudian dengan sedikit cepat memindahkan 'lilitan' papeda itu ke piring yang berisi kuah asam Bobara tadi.
Setelah berpindah, saya pun mulai menikmati makanan khas Papua itu. 'Menyedotnya' dengan perlahan hingga tuntas, sembari menyesap kuah asam ditambah ikan Bobara-nya.

Setelah piring tandas, dengan tingkat kekakuan yang sama saya mengulang kembali proses tadi. Mudah-mudahan cara makan Papeda yang saya lakukan di atas tidak salah, karena seperti itulah yang saya tonton di video Youtube.
Iya, saya memang sudah mencari terlebih dahulu 'tutorial' untuk makan Papeda itu sebelum kesini. Takut salah guys. ha-ha-ha


Papeda-nya cenderung tak berasa. Tapi ketika sudah dicampur dengan kuah asam saat makan, menjadi sangat menagih.
Kuah asamnya mengingatkan saya sama buatan mama saya. Di Maumere (Flores), kami menyebutnya "lurun mage wair". Kuahnya enak, pedasnya nampol. Berpadu sempurna dengan daging Ikan Bobara yang legit dan gurih.

Walau terasa agak mahal (kalau cuma sendiri) bagi saya, tapi Restaurant Yougwa ini berhasil membuat saya pulang dengan perut yang kenyang, keringat bercucuran dan wajah berseri nan menggemaskan.


Selain papeda dan beraneka racikan seafood, ada juga beberapa makanan ringan yang ditawarkan di sini, seperti Twisties (PNG), Kripik Keladi (Sorong), Kripik Sukun (Sorong) dan Sagu Rangi (Papua), yang sungguh patut untuk dicicip juga.

Restaurant Yougwa ini benar-benar memberi rasa Papua di utara Jakarta



Tabe!



PS:
>> Alamat Restaurant Yougwa: Jl. Boulevard Raya, Blok WA 2, No. 31, Kelapa Gading, Jakarta (sebelum Warung Teko kalau dari arah prapatan Jl. Perintis Kemerdekaan).
>> Jam buka: 10.00 - 22.00 WIB.
>> Telp: (021) 453 0419

#SekapurSirih

Wanita dan Kopi. Kini sudah tak lagi asing. Di balik mesin espresso dan segala macam alat seduh, mencipta sejuta nikmat, atau berbaur diriuhnya kedai, menyesap kopi dengan perlahan sambil meninggalkan jejak gincu di bibir cangkir.


lokasi : Dreezel Coffee, Bandung

* Artikel selengkapnya bisa dibaca di sini ← klikzz 😉