Sabtu, 26 Desember 2015

Jakarta. Malam.

21.30
Angka yang terpampang di jam analog hapeku.
Akhirnya selesai juga kerjaanku hari ini. BENAR-BENAR SELESAI. Komputer sudah shut down. Tumpukan berkas sudah kembali berjejer rapi di rak kecil di bawah meja.
Kulangkahkan kaki menuju pintu keluar. Menganggukan kepala sambil tersenyum kepada atasan yang terlihat di balik jendela kaca, saat melewati ruang meeting. Berharap tak dipanggil lagi seperti tadi, dan dikasih tugas kembali. Ruangan itu masih penuh berisi. Wajah-wajah kusut yang kelelahan, masih berjejer disekeliling meja rapat panjang itu. Rapi seperti berkas-berkas di rak kecilku. Entah apa yang sedang dibicarakan di sana, sampai begitu sangat lama.

Akhir tahun memang menjadi momok yang menakutkan bagi semua karyawan di kantor ini. Deadline mengejar setiap saat. Aku pun setali tiga uang. Kolom-kolom tabel Excel dan suara atasan yang memanggil, akan selalu menghantui.

*     *     *

Jalanan masih dipenuhi ratusan kendaraan yang berjubel 'mengantri'. Suara klakson bersahut-sahutan. Entah apa maksudnya. Seolah hal itu-membunyikan klakson-bisa mengurai kemacetan.

Jakarta memang sudah tidak bisa tertolong lagi dengan 'penyakitnya' ini. Sudah kronis.

Aku berjalan menyusuri trotoar menuju Halte Transjakarta Sarinah. Hal yang selalu aku lakukan sejak Halte Bundaran Hotel Indonesia ditutup sementara, karena adanya proyek pembangunan MRT (Mass Rapid Transit), yang katanya bisa menjadi solusi mengatasi macetnya Jakarta.
Entah kapan selesainya proyek ini.

Beriringan, juga berpapasan dengan orang kantoran lain. Ternyata banyak juga yang bernasib sama seperti aku. Mungkin. Mungkin juga mereka sekedar ingin menghindari macet, atau justru mengejar uang lemburan.

Saat mulai menaiki satu demi satu anak tangga jembatan penyeberangan, entah kenapa aku malah melangkahkan kaki menuju Sarinah.
Pusat perbelanjaan pertama di Indonesia. Pencakar langit pertama di Jakarta.

*     *     *

Wangi kopi menyeruak saat aku memasuki kafe yang berada di lantai dua pusat perbelanjaan ini. Deretan kursi-kursi penuh terisi. Sang Barista berada di balik Victoria Arduino* yang agung, memberi sentuhan magisnya pada setiap racikan kopi, demi memuaskan hasrat para penggila kafein.

Pada pelayan kupesan kopi favoritku; Long Black, yang air panasnya dikurangi hingga sepertiga. Agar tidak terlalu watery. Begitu kata temanku.

Malam ini ada sesi live akustik. Gadis cantik dengan rambut sebahu, seorang diri di panggung, hanya ditemani gitar miliknya.
Selalu terlihat seksi memang wanita yang memainkan gitar.

"Mau sekalian pesan sama makanannya Mas?"
Suara pelayan yang mengantar pesanan, menyadarkan aku dari buaian suara lembut si gadis.

Aroma kopi di cangkir itu langsung tercium. Sangat menenangkan. Juga warna keemasan dari crema di atas permukaan kopi yang terlihat begitu indah. Mumetnya kepala sedari pagi tadi tiba-tiba hilang tak berbekas.
Coklat memang memberi efek bahagia, tapi kafein memberi lebih dari itu.

Tiba-tiba angka 12 pada papan nomor dari acrylic yang berada di atas meja, membangkitkan memori yang telah lama hilang. Menghadirkan kembali senyum indah itu kehadapanku. Meja ini adalah tempat favorit kami berdua menghabiskan waktu setiap Kamis malam. Tepat di sudut ruangan, di samping jendela kaca.
Dia yang memilih kafe, juga meja ini. Lampu yang temaram, berpadu dengan alunan irama jazz, membuat tempat ini terasa begitu syahdu dan romantis. Begitu dia beralasan.
Setiap Kamis malam, di kafe ini memang selalu menghadirkan musisi-musisi jazz ibukota. "Jazz Malam Jumat" namanya.

Ah aku jadi rindu.
Rindu melihat bibir mungilnya menyentuh pinggir cangkir, menyeruput dengan perlahan, berusaha menghabiskan Cappuccino miliknya tanpa harus merusak latte art yang ada di atas kopi itu.
Rindu dengan senyum puasnya, saat bunga lotus karya si Barista itu masih tetap utuh, walau kopinya sudah tandas.

Kata si bijak, "lebih baik katakan apa adanya bila memang rindu, karena waktu takkan mampu berpihak pada perasaan yang meragu".

Sayangnya aku tak tahu kemana harus mengirim rindu ini. Entah dimana gerangan dirinya kini.

Aku, di sudut ruang ini, hanya berteman secangkir kopi, dengan tenang menyelami sepi, membelai sunyi, menata hati.



-Jakarta, Agustus 2015-



*mesin Espresso manual dari Italia

Rabu, 23 Desember 2015

Kuliner Khas Daerah di Jakarta

Kekayaan kuliner yang dimiliki Indonesia sangat beragam. Sepertinya ada seribu satu menu, dengan sejuta rasa. Di setiap sudut nusantara, tersebar segala macam makanan dengan cita rasa yang kuat dan berbeda-beda. Rempah-rempah yang dulu memicu kedatangan bangsa Eropa kesini adalah rahasia dibaliknya.

Masing-masing daerah memiliki makanan khas sendiri-sendiri, yang dipengaruhi oleh budaya dan kearifan lokal daerah tersebut. Setiap orang yang berkunjung ke suatu daerah tertentu, selain mengunjungi tempat-tempat wisata di daerah tersebut, pasti akan berburu makanan lokal juga.

Tapi untuk ukuran kota sebesar Jakarta, sepertinya tidak harus mengeluarkan budget berlebih untuk jalan-jalan keliling Indonesia, demi sekedar mencicipi makanan daerahnya, karena semua tersedia di sini. *gak semua juga sih :D
Berikut 7 kuliner khas daerah yang ada di Jakarta (dari sekian banyak yang ada), yang baru pertama kali saya coba makan (kecuali yang terakhir), yang mungkin mau dicoba juga sama saudara-saudaraku yang terkasih dimanapun kalian berada.

Jangan ditanya kenapa cuma tujuh. Kenapa tidak ditambah lagi tiga biar pas jadi sepuluh, atau dikurangi dua biar hanya lima saja. Terlalu susah untuk dijelaskan dengan kata-kata. *dikeplak*

*   *   * 

1. Mie Aceh & Teh Tarik (Bendungan Hilir)

Selain memiliki 'sayur hijau' yang kualitasnya merupakan salah satu yang terbaik di dunia, Aceh juga punya kuliner khas yaitu Mie Aceh. Lebih jelasnya olahan mie khas Aceh. Karena mie kan asli dari China, seperti halnya beras plastik yang juga dari sana asalnya.

Mie Aceh berbahan dasar mie kuning tebal, yang dicampur dengan bumbu yang kaya akan rempah-rempah. Biasanya ditambahkan dengan irisan daging sapi/kambing/ayam/makanan laut seperti kepiting, udang & cumi. Sebagai pelengkapnya diberi tambahan potongan bawang merah, emping dan mentimun. Dihidangkan dalam tiga varian, yaitu Goreng, Kuah dan Basah.

Sementara Teh Tarik adalah minuman khas yang merupakan perpaduan bubuk teh hitam dan susu kental manis. Minuman ini bisa ditemukan di Malaysia, India, Thailand, Singapura dan Indonesia (Riau, Kep. Riau, Aceh).
Diberi nama teh tarik karena cara pembuatannya dilakukan dengan menuangkan campuran teh dan susu tadi, dari satu gelas ke gelas lainnya, sehingga menyerupai tarikan. Proses 'penarikan' tersebut dilakukan terus menerus sampai tercampur sempurna, kandungannya semakin pekat, aromanya keluar dan terbentuk lapisan busa lembut diatasnya.

Nah, kedua kuliner ini pernah saya coba di sebuah rumah makan di daerah Bendungan Hilir. Tepatnya berada di deretan ruko-ruko di Jl. Raya Bendungan Hilir, No. 16, setelah Pasar Benhil, seberang RM. Sederhana.
Tidak ada nama, hanya ada tulisan Mie Aceh saja di depan pintunya.

Walau baru pertama kali coba, tapi kalau dibandingkan dengan jenis olahan mie yang lain, sepertinya Mie Aceh jauh lebih enak (menurut saya).
Gurih sekali. Bumbu rempahnya banyak. Aroma kemiri dan lada hitam membuat cita rasanya menjadi maknyos sempurna. Sayangnya agak kurang pedas. Kata pelayan, itu karena bumbunya sudah disesuaikan dengan lidah orang Jakarta, jadi tidak terlalu pekat dan pedasnya pun tidak terlalu menyengat seperti Mie Aceh sebenarnya.

Kalau untuk Teh Tarik, kurang begitu spesial di lidah saya. Kurang spesial maksudnya tidak mungkin membuat saya akan tiba-tiba 'ngidam' mau minum.
Tapi perpaduan rasa teh, susu dan kayu manis, dan senyum chelsea islan, enak juga kok. Patut dicoba untuk dibuat di rumah. Walau tidak harus 'ditarik-tarik' juga pas buatnya. Mungkin coba cara lain, misalnya dijambak-jambak atau dielus-elus. *dikeplak*




*   *   *

2. Rendang Bakar RM. Serbaraso

Bukan rahasia lagi kalau masakan Padang sudah menjadi salah satu makanan favorit orang Indonesia. Dimana-mana pasti ada restoran Padang.
Dan dari sekian banyak jenis masakannya, rendang merupakan salah satu yang sangat digemari karena citarasanya yang luar biasa. Karena citarasa dan proses memasaknya yang lama, membuat harganya lebih mahal dari jenis masakan lain. Karena citarasanya itu pulalah, pada tahun 2011, rendang dinobatkan sebagai hidangan peringkat pertama dalam daftar World's 50 Most Delicious Foods dari CNN International.
Karena citarasanya itu juga yang membuat Datuk Maringgih ngebet mau menikahi Siti Nurbaya, tanpa peduli walau Gusti Randa sudah jadi anggota DPR. *dikeplak*

Namun, berbeda dengan rumah makan Padang lain, rumah makan yang berada di Jl. Batu Tulis Raya No. 41, Pecenongan ini menyediakan menu rendang unik, yaitu Rendang Bakar. Menu spesial yang diklaim sebagai yang pertama dan satu-satunya di Jakarta.

Walau perbedaan rasanya tidak terlalu signifikan dengan rendang 'konvensional', tapi rendang bakar ini menurut saya lebih enak. Tingkat kematangan dagingnya pas, tidak overcooked, sehingga tidak menjadi liat/kenyal/alot/apalah itu istilahnya, seperti yang kadang ditemukan di tempat lain.
Kalau dibuat sedikit lebih pedas lagi, pasti akan terasa lebih 'asoy'. Sangat pas 'disandingkan' dengan nasi putih hangat. Saya bahkan menghabiskan satu bakul nasi sendiri, walau hanya dengan 'seonggok' rendang bakar itu.

maaf kalau fotonya terlihat seperti 'anu'.
saya bingung cari angle yang bagus.
lihat yang bawah saja, itu dari twitter-nya serbaraso :D
rendang bakar dengan angle yang lebih 'manusiawi' [@serbaraso]
*RM Serbaraso buka setiap hari, pukul 11.00 - 22.00 WIB

*   *   *

3. Tahu Thek-Thek Cak Madjid

Berbeda dengan Mie Thek-Thek, makanan ini tidak berbahan dasar Mie tapi Tahu :D
Ini adalah masakan asli Lamongan, yang terdiri atas tahu goreng yang dipotong kecil-kecil, kentang goreng, tauge, lontong, dan disiram dengan bumbu yang terbuat dari petis, kacang tanah, cabe dan bawang putih.
Rasanya mirip ketoprak (menurut saya), yang mungkin karena kepekatan rasa bawang putihnya yang sama.


Selain Tahu Thek-Thek, warung tenda yang berada di Jl. Garuda, tak jauh dari Stasiun Kemayoran ini juga menyediakan Tahu Campur dan Rujak Cingur.

*   *   *

4. Pempek Unyil

Tempat yang menyediakan panganan khas Palembang ini, letaknya tidak jauh dari warungnya Cak Madjid, yang tidak jauh dari Stasiun Kemayoran tadi.

Saat kesini, karena ketidaktahuan saya tentang olahan dari pempek dan list menu yang tidak bergambar seperti komik dan kemalasan saya untuk bertanya, maka datanglah hidangan seperti foto di bawah ini.


Foto itu adalah menu Lenggang Goreng.
Maksud hati mencoba pempek, apalah daya telor-telor juga yang dicicip. "Seharusnya pesan yang panjang, bulat atau panjang besar berurat". Begitu kata mbak-mbak pelayan yang mirip Raisa dengan bedak sedikit lebih tebal, setelah saya tanya, sehabis makan.

Ah sudahlah. 'Dadar telor bebek dengan topping pempek' itu juga enak kok. Yah setidaknya sekarang saya pun akhirnya tahu kalau rasa telor bebek itu ternyata telor banget*dikeplak*

*   *   *

5. Kedai Nasi Kapau Bukittinggi

Kawasan Jl. Kramat Soka, Senen, sejak tahun 70-an sudah terkenal sebagai tempat makan Masakan Minang. Dan seperti yang kita ketahui pula, kalau masakan dari ranah Sumatera Barat ini juga sudah menjadi pilihan makan sehari-hari bagi masyarakat Indonesia, tidak terbatas pada keturunan Malin Kundang dan Siti Nurbaya (baca: orang Padang) saja.

Dari sekian banyak tempat makan yang ada di sini (Kramat Soka), salah satunya adalah Kedai Nasi Kapau milik Pak Haji yang saya lupa namanya ini. Warung makan ini menyajikan masakan ala Kapau (nama desa di Bukittinggi, yang terkenal mewariskan resep masakan ternikmat di Sumbar).
Tapi karena sudah sering makan masakan yang lain, saya hanya mencoba dessert ala Minang saja, yaitu Es Tebak & Bubur Kampiun.

Untuk Es Tebak, menurut saya, ini adalah es cendol ala Bukittinggi. Rasa dan isiannya hampir sama, bahkan mungkin sama. Segarnya juga. Bikin adem, seperti lihat wajah Chelsea Islan :D

Sementara Bubur Kampiun, yang biasanya dijadikan sarapan, memiliki isian berupa kolak pisang, bubur candil, bubur sumsum, biji salak dan ketan, yang dilumuri dengan santan dan dicampur sedikit gula merah (kalau lidah saya tidak salah :D). Bagi yang tidak suka manis, mungkin akan kurang menyukainya, karena perpaduan antara gula merah dan ketan memang sedikit bikin enek. Tapi bisa dinetralisir dengan minum air putih, atau menambahkan es batu pada bubur kampiunnya (seperti yang saya lakukan).

Bubur Kampiun (kiri); Es Tebak (kanan)

*   *   *

6. Sabana Lamang Tapai Bukittinggi

Makanan khas dari Sumatera Barat selain Nasi Kapau, Es Tebak dan Bubur Kampiun adalah Lamang Tapai. Perpaduan antara Lamang dan Tapai.
Lamang adalah beras ketan putih yang dicampuri santan kelapa, daun pandan dan sedikit garam, yang dimasak dalam bambu muda.
Sementara Tapai adalah tape beras ketan hitam yang difermentasi dengan ragi.


*Lokasi kedai ini ada di jejeran kedai-kedai di sepanjang jalan Kramat Raya, tepat di samping flyover Senen.

*   *   *

7. Kedai Sate Padang Mak Adjat

Citarasa dari Sate Padang itu terletak pada bumbu kuah kacang kental, yang kaya akan rempah, dengan sensasi rasa pedas. Sepertinya banyak yang sudah tahu soal ini. *lalu kenapa masih saya tulis?

Sama seperti warung makan Padang, kedai-kedai Sate Padang juga bertebaran di seantero nusantara. Yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan saya, kenapa rumah makan Padang tidak ada yang menjual Sate Padang, begitupula kedai Sate Padang pasti tidak ada makanan Padang lainnya. Why? Please tell me uni.

Dan dari sekian banyak kedai sate Padang yang ada di Jakarta, salah satunya adalah Kedai Sate Mak Adjat ini. Warung tenda (gak biru), yang berdiri di trotoar Jl. Gunung Sahari Raya, di dekat prapatan (yang saya tidak tahu namanya), di seberang Hotel Golden Boutique, di depan Bank Danamon, di samping toko kamera Octagon.
Warung ini baru mulai buka saat maghrib, saat macet yang melanda Kota Jakarta sedang parah-parahnya, sampai abang tukang bajaj pun mati kutu.

Wangi rempah akan langsung tercium saat masuk ke dalam kedai.
Seporsi sate lidah sapi, dengan ukuran per potong yang cukup besar (tidak setipis biasanya) akan segera 'meluncur' ke depan muka untuk disantap (setelah dipesan dulu tentunya :p).
Tingkat kematangan dagingnya pas, jadi terasa sangat lunak, tidak sekeras batu bata. Bumbunya tidak kental. Agak sedikit berair, dengan sedikit rasa asam. Pedasnya pas, nampol kiri kanan. Taburan bawang goreng menambah citarasa. Dan segarnya es kelapa muda pun menjadi pendamping yang ciamik.


Kali ini adalah yang ketujuh kalinya saya ke kedai sate ini. Enam kesempatan sebelumnya pada tahun 2011 lalu, bersama seseorang yang entah sekarang menjadi 'milik' siapa. Orang yang kemudian menyadari ke-khilafan-nya bersama saya, setelah tiga bulan lamanya, dan lalu pergi begitu saja.

Ah, kenapa saya malah curhat di posting-an rekomendasi tempat makan ini coba. Penutup tulisan yang sungguh tak layak, padahal blog ini ditujukan untuk kemaslahatan umat manusia :p
Sudahlah.
Yuk mari makan kaka!



Tabe!

Sabtu, 12 Desember 2015

[Photo]: Sudut - Sudut Braga

Ah masih kuingat indahnya semalam
Waktu gadis itu memeluk erat lenganku
Beriringan menikmati gemerlapnya Braga
Dan ku yakin dia kan merindukanku
Setelah kemesraan malam tadi
Saat ku kan berlalu darinya
Dia mendaratkan ciuman dan berujar lembut
"Kembalilah ke kota ini lagi"
Ku lemparkan setangkai bunga mawar
Berbalik, lalu berucap selamat tinggal

Puisi yang berjudul Bandung, Awal Januari itu saya buat untuk mengenang sebuah kisah, disuatu waktu, di salah satu sisi Bandung ini. Di kota Paris van Java. Kota dimana you can find neng-neng geulis modis in the angkot.
Sok atuh dinikmati 'seuprit' potret Braga di bawah ini. Mangga! harum manis






Neng, tunggu akang atuh!

Neng, tunggu akang atuh!

Neng, tunggu akang atuh!
cie cie
*Bonus*  Museum Konferensi Asia Afrika
*Bonus*  Supermodel Jagat Raya :p


Tabe!


*Jangan diambil tanpa izin ya semua foto abal-abal hasil karya agung Kaka Chivo ini. Nanti masuk NERAKA! #Disclaimer

Sabtu, 21 November 2015

Rie

"Nanti pulang bareng ya bu. Sekalian buka puasa"

Entah setan apa yang sedang memenuhi isi kepalaku, sampai keluar kata-kata itu. Padahal kita sedang kerja. Padahal kamu sedang sibuk mengatur tumpukan berkas-berkas yang harus diserahkan ke aku. Padahal kita hanya rekanan kerja, beda perusahaan. Padahal aku non muslim, tidak berpuasa.

Kamu berhenti sejenak, lalu memandang ke arahku.
Hhmm. Mata itu. Mata yang selalu membuat hatiku berdebar-debar tak karuan. Yang selalu membuat emosiku hilang tak berbekas, walau setumpuk berkas yang kamu kasih harus direvisi 70%-nya. Kamu salah melulu, tapi aku tetap selalu luluh. Karena mata itu.

"Boleh. Tapi aku pulangnya setengah enam. Gak apa-apa nunggu?", begitu katamu.

Aku mengangguk mengiyakan.

Kamu kembali membereskan berkas, sambil menyunggingkan segaris senyuman. Harapku kamu pun senang dengan ajakan ini.
Lalu aku bergeser ke kursi terdekat denganmu, berniat untuk membantu.

*    *    *

Di ruangan yang sama, hampir setahun yang lalu, kita bertemu. Saat itu kamu baru masuk menggantikan PIC yang sebelumnya. Perempuan kurang piknik yang juteknya ampun-ampunan.
Pagi-pagi sekali, saat itu, kamu menelpon ke kantor minta bicara dengan aku. Mengenalkan diri dan minta bertemu.

Kurang lebih satu jam, aku menjelaskan semua hal tentang pekerjaan ini. Berkas yang dibutuhkan, surat-surat yang harus dibuat, dan tetek bengek yang lain sampai sedetail-detailnya. Kamu begitu serius mendengarkan. Takut salah katamu.
Awalnya malas menjelaskan seperti ini, karena bukanlah domain-ku. Aku bukan senior kamu, apalagi atasan. Perusahaan tempat kita masing-masing bekerja hanyalah rekanan.
Tapi raut wajah kebingungan saat kamu bertanya, membuat aku berubah kasihan. Kemana senior-senior kamu ya?
Ah sudahlah. Membantu gadis cantik yang sedang kebingungan mungkin pahalanya akan besar.

Sehabis itu, kamu lalu permisi keluar sebentar.
Tak lama kamu kembali dengan dua gelas kopi-dari kedai ternama asal negeri Paman Sam-di tangan. Kamu tahu betul apa yang aku suka. Seolah ada tulisan besar di jidatku : "PECINTA KOPI AKUT. TANPA KOPI AKU GALAU".
Obrolan kita jadi lebih luwes, tak sekaku tadi. Kamu pun terlihat lebih tenang. Ketenangan yang membuat aku akhirnya menyadari betapa indahnya matamu, dan senyummu yang kelewat manis. Ketenangan yang membuat aku ingin selalu ke kantor kamu, demi melihatnya setiap hari.

*    *    *

Dan kini, malam ini, kamu kembali duduk dihadapanku. Bukan di ruangan yang biasa, tapi di sebuah restoran, sedang membolak-balik lembar demi lembar buku menu dengan tenangnya. Sesekali kamu merapikan rambut sebahumu. Melempar senyum ke pelayan yang datang membawakan takjil gratis.
Kamu memang lebih cantik saat jauh dari tumpukan berkas-berkas itu. Tidak panik dan kebingungan.

Awalnya kamu agak kaget, saat kita sampai di restoran ini. Kamu bingung kok aku bisa tahu kalau kamu lagi mau makan di sini.
Bukan. Bukan karena aku jago membaca pikiran layaknya Deddy Corbuzier, atau punya kemampuan supranatural seperti Ki Joko Bodo. Tapi karena Jack Dorsey cs, yang sudah menciptakan media sosial bernama Twitter, yang memberi kesempatan siapapun untuk stalking akun orang lain tanpa harus mem-follow-nya.
Terimakasih juga buat kamu yang sudah menuliskan nama lengkap di akun Twitter-mu, sehingga mudah untuk aku search dan membaca setiap kicauanmu.
'Surprise' di kesempatan pertama kita makan berdua, yang sepertinya membuat kamu terkesan.

"Thank you. Hope it's not the first and the last ({}) #RamadanMubarak"

Begitu cuitan kamu di Twitter sehabis kita pulang.




-Jakarta, Juli 2015-

Selasa, 03 November 2015

Jejak Pemakaman Bangsawan di Museum Taman Prasasti

"Di taman ini terlukis peristiwa sepanjang masa dari goresan prasasti mereka yang pergi"

Tulisan yang tergores di prasasti peresmian 'taman' ini, menunjukkan kalau banyak 'cerita' yang tertanam di sini. Di area seluas 1,3 hektare, yang sudah berdiri sejak tahun 1795, sejak Jakarta masih bernama Batavia.
Di atas tanah hibah milik Gubernur Jenderal Jeremias van Riemsdijk.


* * * * *
Pohon-pohon yang rindang dan teduh disekelilingnya, membuat kesejukan tempat ini akan langsung terasa saat kita mulai memasukinya. Namun, nuansa dark yang kental dan semerbak wangi kamboja yang menyeruak, seolah juga ingin menyadarkan kita. Menyadarkan kalau taman ini bukanlah seperti taman bunga yang ditiduri Syahrini di Italia. Menyadarkan kalau yang tertanam di sini adalah berbagai jenis patung, monumen, lempeng batu persegi, replika dan penanda pusara.
Ratusan nisan para bangsawan Belanda dan tokoh-tokoh zaman baheula.

Dahulu bernama Kerkhof Laan, lalu menjadi Kebon Jahe Kober, dan kini-sejak diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pada tanggal 9 Juli 1977-jadi Museum Taman Prasasti.
Dahulu lokasi kuburan, kini sebuah tempat wisata.




* * * * *
Pada mulanya, tempat pemakaman umum ini dibangun karena terjadi suatu wabah yang membuat banyak warga Belanda di Batavia meninggal. Dan karena ketika itu kuburan warga Belanda di samping Gereja Baru (Nieuwe Hollandse Kerk, sekarang Museum Wayang) dianggap sudah terlalu padat, dibuatlah pusat pemakaman baru di pinggiran kota, yang jauh dari kepadatan penduduk.

Lokasi ini dipilih karena letaknya sangat strategis, hanya berjarak sekitar seratus meter dari Kali Krukut, yang menjadi jalur pengiriman jenazah oleh penduduk Kota Batavia di masa itu. *kalau masa sekarang kalinya jadi jalur sampah :D

Lalu, setelah 182 tahun lamanya, berubah fungsi menjadi museum, setelah sebelumnya dilakukan pemindahan jenazah ke Menteng Pulo, sehingga yang tersisa hanya batu nisannya saja.
Total ada sekitar 1.372 buah koleksi prasasti, nisan dan makam yang memenuhi Museum Taman Prasasti ini, dengan gaya yang berbeda-beda, seperti neogotik, klasik, hingga Hindu-Jawa. Sebagian besar berasal dari abad ke-18 hingga ke-20. Bahan pembuatan nisannya pun bervariasi, ada yang dari batu alam, perunggu, juga marmer, yang sebagian besarnya adalah produk impor asal Italia.

Beberapa nisan dibuat begitu mewah. Ada yang berbentuk persegi dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Ada pusara yang menggunakan konstruksi setengah bangunan dengan atap tertutup.

Diantara ribuan nisan yang nama-nama 'pemiliknya' tidak dikenal sama sekali, entah nenek moyang siapa, ada beberapa nisan tokoh-tokoh penting pada zamannya, seperti Dr. H.F. Roll (pendiri Sekolah Dokter Hindia/STOVIA - "School tot Opleiding van Indische Artsen"), Olivia Marianne Raffles (istri Thomas Stamford Raffles), Miss Riboet (pemain opera terkenal era 1920-an), dan J.L. Andries Brandes (filolog penemu manuskrip Kakawin Nagarakertagama).
Selain itu, ada pula nisan aktivis pergerakan mahasiswa pada tahun 1960-an, Soe Hok Gie (walaupun jasadnya tidak dimakamkan di sini). Juga ada Pieter Elbeverd, pemberontak yang mendapat hukuman pecah kulit (yang prasastinya saya cari-cari, tapi tidak ketemu. Setelah pulang, lalu googling, saya baru sadar kalau prasastinya sempat saya foto, paling pertama sekali, tapi langsung saya hapus -_-').
Replika peti mati dua proklamator kemerdekaan, Bung Karno dan Bung Hatta pun ada di sini. Bahkan kereta pengangkut jenasah pada saat itu juga masih tersimpan.

Di Indonesia, rasanya tidak lengkap kalau tanpa sesuatu yang misterius 'ala-ala'. Begitu pula di sini, yang 'diwakili' oleh 'makam' Kapitan Jas. Tidak diketahui benar siapa sebenarnya yang pernah dimakamkan di balik batu nisan tersebut, tetapi ada kepercayaan bahwa makam ini dapat memberikan kesuburan, keselamatan, dan kemakmuran bagi peziarahnya.






* * * * *
Di tengah hingar bingar pusat kota Jakarta yang panas, Museum Taman Prasasti menjadi tempat yang penuh kedamaian. Sentuhan tangan dingin para pemahat di setiap nisan, prasasti dan patung, seolah menghidupkan dan memberikan aura yang luar biasa. Memaksa orang yang datang untuk berimajinasi, menggali seribu cerita dan kisah yang tersimpan di balik nisan yang ada, serta mendalami karakter 'pemilik' nisan dari karya para perupa yang penuh pesona itu.

Walau sudah tidak ada lagi jasad manusia yang bersemayam, suasananya masih tetap membuat hati bergidik. Deretan pepohonan yang menjulang tinggi, wangi kamboja yang menyeruak, ditambah barisan patung-patung berwajah datar, memberi kesan menyeramkan.

Nuansa kelam yang menjadikan tempat ini sebagai salah satu 'taman bermain' favorit para fotografer yang ingin mengabadikan gambar. Model cantik berpadu dengan aura mistis itu ibarat papeda yang disantap bersama ikan kuah kuning. PAS.
Film-film horor Indonesia dengan judul yang aneh-aneh itu sudah membuktikannya bukan? :D





fotografer beraksi


* * * * *
Namun sangat disayangkan, di balik sejarah dan karya seni tinggi, museum ini terlihat tidak terurus. Rumput yang tinggi, serta sampah yang berserakan (termasuk 'sumbangan' dari pengunjung) menjadi pemandangan yang mengganggu. Belum lagi banyak nisan yang seolah hanya tergeletak begitu saja di beberapa tempat.

Padahal posisinya strategis. Di tengah kota, tidak jauh dari Istana Negara, Balai Kota, Monumen Nasional dan Museum Nasional.
Kalau dikelola dengan lebih baik dan profesional lagi, pasti bisa menjadi alternatif wisata sejarah yang bagus, seperti taman pemakaman bersejarah Pere Lachaise di Perancis atau Fort Canning Park di Singapura. Apalagi taksiran usianya (Museum Taman Prasasti) jauh lebih tua ketimbang pusat pekuburan modern lain di dunia.

Ayo Pak Gubernur, anda pasti bisa membuat lahan mungil ini jadi lebih keren lagi ;)



Tabe!


PS :
- Alamat : Jl. Tanah Abang I, No. 1, Jakarta Pusat.

















- Info Museum :


















*disclaimer : semua foto abal-abal ini hasil karya agung Kaka Paul de Chivo, jadi jangan diambil tanpa seizin beliau. nanti masuk neraka!

Jumat, 25 September 2015

25+1 Lagu Reggae Pilihan Kaka Chivo Buat Kamu

Saya lahir dan besar di kampung yang reggaeholic akut (selain alkoholik :p). Mereka yang tidak suka reggae mungkin orang-orang terbuang yang telinganya ketutup jamur merang :p
Bob Marley (tentu), Alpha Blondy, UB40, Big Mountain, Inner Circle, O'yaba dengan lagu Paradise-nya, Shaggy dengan hits Bombastic-nya, Lucky Dube, Rhoma Irama, Caca Handika, Neneng Anjarwati, adalah segelintir musisi reggae yang 'membesarkan' saya dengan lagu-lagunya, sejak saya masih jongkok di bangku SD.

Setiap hari, terutama menjelang sore, setiap rumah yang ada soundsystem-nya pasti memutar lagu-lagu itu. Tentu, selayaknya seorang bocah unyu, saya juga pasti mendengarkan lagunya Trio Kwek Kwek dan artis cilik lainnya seperti Ateng. *dikeplak*

Gara-gara itulah, sampai sekarang saya seolah mati rasa kalau dengar lagu genre lain. Hanya segelintir saja yang bisa 'masuk' ke telinga saya.
Saya punya banyak lagu reggae, dari ratusan artis. Memang, tidak semua saya beli albumnya, ada yang ................. yah you know lah ;)
Oke lupakan.
Dari sekian banyak lagu tadi, saya berusaha memilihkan beberapa untuk kamu dengarkan. Iya kamu. Kamu yang sudah kurang piknik, selera musiknya juga ancur pula. Kasihan.

Kenapa 25+1?
Karena kalau ditulis 26 lagu, jadi tanggung. Judulnya jadi sedikit kurang 'menjual'. Begitu kata Bang Minggus.
Untuk urutannya pun bukan berdasarkan bagus atau tidaknya itu lagu. Hanya penomoran biasa tanpa arti apa-apa. "Apalah arti sebuah nomor", kata Bang Minggus lagi. Walau beberapa lagu memang layak untuk ada di urutannya itu.
Yang pasti, lagu-lagu ini akan bisa membuat kalian bebas dari rasa galau berkepanjangan. Dan yang lebih penting, lagu-lagu ini akan merubah pola pikir kalian yang menganggap reggae itu identik dengan santai, pantai dan just encet-encet.

Satu lagi. Judulnya memang "lagu reggae", tapi di list ini ada ska dan dancehall juga. Soalnya kalau ditulis semua, jadi terlalu panjang judulnya. Kan ini artikel, bukan jalan tol Cipali.

Oke, cukup basa basinya. Sebelum benaran basi.
Berikut lagu-lagu reggae pilihan kaka Chivo buat kamu. Enjoy!


+1. Salam - Ras Muhamad

Lagu yang juga dijadikan sebagai judul album terbarunya Ras Muhamad.
Album internasional pertamanya dia.
Album internasional pertama dari musisi reggae Indonesia.
Album reggae terbaru yang saya punya.

Ras Muhamad menunjukkan ke-ambassador-annya lewat album internasional ini. Tentu kakak bangga *dikeplak*
Reggae Indonesia to the world. Boom!



25. Nightshift/One More Night - Busy Signal

Reggae deejay satu ini, di ranah Dancehall, adalah salah satu yang toasting-annya agak 'tidak ramah' telinga pendengar reggae (dancehall khususnya), apalagi yang tidak suka reggae. Ibarat kalau di Rock ya seperti underground/deathmetal/apalah itu sebutannya, yang vokalisnya lebih seperti orang mabuk yang sedang muntah ketimbang nyanyi. Bukan mau bilang jelek ya, cuma saya tidak mengerti saja :D

Nah, di lagu ini, Busy Signal menyuguhkannya dengan lembut sekali.



24. Bale Nagi - Conrad Floresman

Lagu ini ada dalam album solo-nya "Tribute to the Land". Musiknya gak reggae banget, karena dibawakan secara akustik plus-plus (artiin sendiri deh tuh).



23. Rubadub (Done Know) - The Skints

Band asal London, yang melakukan inovasi dengan menggabungkan reggae, ska, dub, punk dan hip-hop di lagu-lagunya.
Unik. Fresh.
Dengarkan saja!



22. 123 I Love You - Tarrus Riley

Liriknya sederhana.
Musiknya easy listening.
Vokalnya serak-serak menggoda.
Ih cucok ciin!



21. Strength of a Woman - Shaggy

Lagu ini diperuntukkan bagi semua wanita di seluruh dunia. Wanita tulen ya, yang sudah sejak dari kandungan adalah wanita, bukan yang jadi-jadian.

Begini lirik pada chorus-nya :

She'll put a smile upon your face
And take you to that higher place
So don't you under estimate
The strength of a woman

Simple tapi dalem :D
Aransemen-nya pun 'ramah telinga' segala kalangan masyarakat, termasuk yang alay sekalipun.
Video klipnya juga keren.



20. Niang Flores - Florasta

Lagu berbahasa daerah dari band reggae lokal Maumere ini menceritakan tentang pulau saya tercinta.
Niang Flores itu artinya Pulau Flores. Tanah leluhur. Tanah pusaka. 'Till death do us part  *loh
Musiknya tidak pure reggae. Tipikal musik reggae Indonesia era '90an banget. Tapi asyik, dan masih bisa dinikmati oleh para kaum alay zaman sekarang.

*maaf saya tidak ketemu video klip ataupun fotonya, jadi ke rumah saya saja, nanti saya putarkan kasetnya :p


19. Judge Dread - Prince Buster

Prince Buster adalah salah satu legenda musik ska di Jamaika. Seorang penyanyi dan juga produser.
Lagu ini merupakan sebuah sindiran kepada seorang hakim yang otoriter dalam memberikan hukuman. Di lagu ini sebenarnya dia tidak bernyanyi, tapi lebih ke deklamasi (cenderung baca), dengan meng-impersonate si hakim pada saat jalannya sidang, yang diiringi musik ska.



18. Shot by Love - Protoje ft. Toi

Musiknya easy listening, lebih menonjolkan suara manjanya Toi dan toasting-an dari Protoje.
So good vibes!



17. One Day - Matisyahu

Lagu yang berisi harapan penyanyi berdarah Yahudi ini, yang juga pasti adalah harapan semua orang di dunia. Harapan untuk hidup damai, berdampingan satu sama lain, tanpa perang, kekerasan dan permusuhan. Satu hari nanti.
Say Amen saudara-saudara!



16. Lighthouse - Ziggy Marley

Lagu yang terdapat di album terbarunya Ziggy (Fly Rasta - 2014) ini, hanya sedikit saja memasukkan reggae tune di dalamnya. Lebih menonjolkan suara khasnya dia.
Mungkin biar pesan yang ada di dalam lagu ini lebih mudah tersampaikan ke pendengar. Entahlah. Mungkin saya sotoy.



15. Yele Kuye - Ras Muhamad & Daddy T

Lagu yang ada dalam album kolaborasi mereka berdua (Berjaya - 2012) ini, beat-nya asyik. Joget-able!
Salah satu album yang saya punya, lengkap dengan tandatangan Ras ;)



14. Cherry Oh Baby - Eric Donaldson

Salah satu band reggae yang 'membesarkan' saya adalah UB40. Sialnya baru beberapa tahun terakhir ini saya baru tahu kalau lagu Cherry Oh Baby yang ada dalam album Labour of Love (1983), ternyata penyanyi aslinya bukan mereka, tapi salah satu legenda reggae, Eric Donaldson.

Lagu ini spesial, karena di tahun 1971 memenangi Jamaican Festival Song Competition. Saking hitnya, The Rolling Stones pun meng-cover-nya di album mereka, Black and Blue (1976).

Nuansa lawasnya begitu terasa. Juga suara uniknya Eric Donaldson yang sangat menonjol.
Every baheula vibration, is always a good vibration. Betul tidak sahabat super?



13. Tunggulah Tunggu - Monkey Boots

Suaranya si Denny yang renyah, diiringi musik ska dengan sedikit sentuhan keroncong yang lembut, membuat lagu ini menjadi krenyes-krenyes. *kerupuk kali mas*

Albumnya sudah lama nangkring di rak saya. Walau belum dilegalisir :D



12. The One - Sara Lugo

Track pertama dalam album terbaru dari penyanyi berdarah Jerman ini (Hit Me with Music - 2014).
Aransemen musiknya ala-ala ska jadul yang uptempo. Ditambah dengan suaranya yang seksi.
Asyik banget!



11. Hold My Hand - Sean Paul

Lagu dari salah satu musisi dancehall favorit saya ini cocok sekali buat kalian yang mau gombalin pasangan. Dijamin pasti disambit sendal sama bapaknya.
Kalau yang tidak ada pasangan, tonton saja video klipnya. Pasir pantainya bagus ;)



10. Yeshua - Avion Blackman

Penyanyi yang bernama asli Avion Claudette Trudy Henrietta Blackman ini adalah istri dari front-man band reggae: Christafari, yaitu Mark Mohr, yang juga sekaligus sebagai vokalis di band tersebut.

Lagu gospel dengan balutan irama roots reggae yang smooth ini terdapat dalam albumnya yang berjudul Sweet Life.
Coba dengarkan sambil tutup mata. Adem tenan rek!



09. Nurani Bicara - Tony Q ft. Vicky 'Burgerkill'

Di dalam album Menjemput Mimpi yang dirilis akhir 2014 lalu, Tony Q bereksplorasi dengan mengajak beberapa musisi-lebih tepatnya rocker-untuk berkolaborasi. Ada Roy Jeconiah, Candil, Ipang Lazuardi, Melanie Subono, Vicky Burgerkill, dan Nugie.

Dan single Nurani Bicara ini adalah favorit saya.
Dengarin saja, biar tahu bagaimana cetar-nya nge-growl (atau apalah itu istilahnya) yang dipadukan dengan irama musik reggae. Rasanya seperti lelehan coklat yang lumer dalam mulut. Pecaaah!

Sayang album ini tidak diproduksi massal. Hanya beberapa saja pada saat launching, yang sialnya diadakan saat dompet saya sedang kosong :D



08. Rock Fort Rock - The Skatalites

Saya tidak mau banyak cincong lagi lah soal mbah-nya jamaican music ini. Dengarin sajalah lagu instrumentalnya ini.
Salam super!



07. Turn Your Lights Down Low - Bob Marley

Salah satu lagu cinta dari beliau (Exodus - 1977), yang katanya ditulis untuk Cindy Breakspeare (ibunya Damian Marley).

Lagu ini dan tiga lagu lain (Is This Love, Waiting in Vain, No Woman No Cry), konten liriknya bahkan dianalisa oleh Professor Carolyn Cooper untuk mengetahui pandangan seorang Bob Marley tentang perempuan. Keren!



06. Smile Jamaica - Chronixx

Salah satu generasi baru musisi reggae Jamaika.
Lagu ini, menurut analisa sotoy saya, menceritakan tentang negaranya, Jamaika, yang dianalogikan oleh dia dengan seorang gadis.
Lihat saja penggalan liriknya berikut ini :

She has a rich history
A beautiful woman with the sweetest gifts
Beautiful sunrise and an evening kiss
I find a nice sunset on the evening seas
But she told me that she's tired
Tired of exploit and liars
She gave them reggae beaches flowers and ferns
All she got was abusing in turn

*cocok ditujukan buat Indonesia juga kan :D

Vokalnya si Chronixx yang renyah, dengan aransemen musik yang easy listening, membuat lagunya benar-benar asyik.



05. A Letter To Mama - Ras Muhamad

Saya sangat suka dengan lagu-lagu yang khusus dipersembahkan untuk ibu. Saya bahkan punya CD kompilasi lagu-lagu seperti itu, dari band/penyanyi lintas genre. Memang sih itu burning-an dari hasil download di youtube. Soalnya tidak ada yang dikeluarkan label resmi. Saya sudah cari kemana-mana. Sumpah deh! ;)

Dan Ras Muhamad, lewat lagu ini, melakukannya dengan sangat keren. Favorit saya, selain lagu Ibu dari Iwan Fals.



04. Well Done - Kabaka Pyramid

Kekuatan musisi yang satu ini ada pada lirik-liriknya yang brilian. Termasuk lagu ini.
Cocok di putar di sela-sela sidang paripurna DPR/MPR atau sidang kabinet, biar pada mudeng sama apa yang dikerjakannya.



03. Haleluya, Alhamdulillah - Tony Q

Yang saya suka dari legenda reggae Indonesia ini adalah lirik lagu-lagunya yang sederhana dan mudah dicerna, tapi pesannya dalam banget.
Salah satunya lagu yang ada dalam album Membentang Sayap ini.



02. Jerusalem - Alpha Blondy

Salah satu legenda reggae yang 'membesarkan' saya.
Lagu ini mungkin lagunya Alpha Blondy yang paling sering dinyanyikan/di-cover oleh band-band reggae lain. Papa Bakoye juga. Mungkin.

Lagu ini tentang kota tua penuh sejarah di Israel. Kota suci bagi para penganut agama-agama samawi. Kota dimana you can see Christians, Jews and Muslims, living together and praying. Begitu kata kaka Alpha.



01. Redemption Song - Bob Marley

Salah satu dari sekian banyak 'lagu berat' yang dibuat Bob Marley. Single terakhir dari Bapak Reggae ini.

Mungkin karena versi original-nya akustikan, kalau ada yang cover, saya pun lebih suka dengar versi cover yang akustik daripada full band. Termasuk versi full band resminya yang dirilis Oktober 1980 (maaf kalau saya salah data). Lebih dapat feel-nya dari lagu ini kalau akustik (bagi saya).




So, yang mana favorit kamu?


Sampai ketemu di rekomendasi lagu-lagu reggae lainnya.
Tunggu saja.
Kaka Chivo janji ;)



Tabe!


*Disclaimer :
- Saya hanya sekedar share. Copyright milik yang empunya lagu & video.
- Maaf untuk yang videonya bukan official. Tidak ada maksud apa-apa, cuma karena tidak dapat saja :D

Selasa, 08 September 2015

Bolak-Balik Mencari Curug Dago

"Ojek a"

Godaan dari pria-pria berjaket kulit yang duduk di atas motor itu berulangkali terdengar di telinga saya. Pasalnya gara-gara saya yang sedang kebingungan mencari jalan setapak menuju Curug Dago, setelah turun dari angkutan umum (angkot).
Info yang saya print dari hasil browsing di mbah google, tertulis "kalau dari Terminal Dago, masuk ke jalan setapak yang berukuran satu meter di seberangnya". Ada dua jalan, lebih tepatnya gang, yang spesifik (setidaknya mendekati) dengan info itu. Tapi karena agak ragu, saya memutuskan untuk jalan sedikit ke arah selatan, menyusuri Jl. Ir. H. Juanda. Langkah kaki saya terhenti, saat sampai di sebuah jalan masuk, karena saya langsung yakin 100% kalau itu bukan jalannya. Berdasarkan info yang saya print, jalan masuknya itu cuma bisa menggunakan kendaraan roda dua atau dengan berjalan kaki, sementara jalan di depan saya banyak mobil yang lalu lalang. Jelas BUKAN berarti!

Akhirnya saya balik lagi ke arah pintu terminal, menuju belokan sekaligus turunan yang mau ke arah Lembang, sambil tetap mengabaikan godaan para pria berjaket kulit yang semakin menjadi-jadi. Setelah berjalan kira-kira 700 meter, saya kembali ragu dengan jalan ini.
Berhenti sejenak. Berpikir.
Opsi-nya cuma dua: turun terus dengan resiko naiknya ngos-ngosan dan betis mengencang, atau kembali ke titik awal depan Terminal Dago dengan resiko ketemu lagi dengan pria-pria penggoda itu. Ah, seandainya ada Dora di saat seperti ini, pasti petanya bisa membantu.
Saya lalu memutuskan untuk memilih opsi yang kedua. Kembali ke titik awal.

Mungkin sampai paragraf ini, yang baca pasti pada bingung kenapa saya tidak bertanya saja.
Sebenarnya saya sudah sempat bertanya ke sopir angkot saat turun, tapi alih-alih menunjukkan jalannya dia malah menyuruh saya naik ojek, bahkan dipanggilkan pula sama dia. Kebaikan yang patut ditolak saudara-saudara!
Sebagai pejalan yang menyandang predikat cheap bastard, saya tahu betul kalau ojek menuju tempat wisata itu ongkosnya pasti mahal, sedekat apapun jaraknya. Apalagi walaupun penampilan bak gembel ibukota, wajah Bradley Cooper saya ini tidak bisa membohongi kalau saya turis, bukan Kabayan yang sedang mencari Siti Romlah. Jadi lebih baik jalan kaki, walau kebingungan. Tuhan memberikan sepasang kaki buat manusia, ya untuk dipakai jalan kan. Bisa menguatkan tulang malah, kalau jalan kaki ribuan langkah sehari. *sudah, diaminkan saja*

Nah, setelah balik dari turunan, saya memutuskan untuk coba masuk ke dua gang kecil tadi. Sayang yang ini malah lebih parah. Gang pertama cuma 100 meter saja sudah buntu. Gang kedua pun sama. Sudah jalan jauh kira-kira 700 meter, ujung-ujungnya buntu juga.
Balik lagi ke depan terminal, ketemu lagi dengan pria-pria penggoda berjaket kulit yang masih terus menawarkan jasanya.
Saya pun lalu memutuskan kembali ke belokan sekaligus turunan ke arah Lembang tadi. Tapi baru beberapa langkah ke bawah, saya akhirnya sadar kalau saya punya sebuah produk kemajuan teknologi bernama smartphone, berbasis android, keluaran Samsung, yang ada aplikasi google maps didalamnya, yang kebetulan aktif juga paket internetnya.
Setelah percobaan pertama dengan mengetik kata Curug Dago gagal, karena yang ditunjuk malah daerah Tebing Keraton, saya lalu coba mencari dengan kata petunjuk Taman Budaya Ganesha (sesuai info yang saya print). Dan setelah keluar hasilnya, ternyata jalan menuju Taman Budaya itu adalah jalan pertama yang saya yakin 100% bukan tadi. Namanya Jl. Bukit Dago Utara.

Setelah masuk kesitu, terus lewat Jl. Bukit Dago Utara III (sesuai petunjuk maps), masuk kira-kira 800 meter, sampailah saya ke titik yang ditunjuk google maps tadi, yaitu tempat parkir Balai Pengelolaan Taman Budaya, yang tidak ada satupun kendaraan yang parkir, dan tidak ada juga tukang parkirnya. Mau tanya ke siapa. Bahkan rumput yang bergoyang pun tidak ada, karena tempat parkirnya diaspal.
Akhirnya saya coba lewat jalan yang menurun, dengan asumsi kalau curug itu biasanya selalu ada di lembah.

Tidak lama berjalan, ketemu seorang ibu separuh baya yang sepertinya mau mengantarkan makanan untuk suaminya di kebun, yang lalu menunjukan ke saya arah menuju jalan yang benar. Disuruh bertobat.
"Kalau mau ka curug dago teh si ujang mesti lewat jalan itu, lurus terus, nanti ketemu pohon jati gede, di situ ada tangga-tanggaan, nah baru si ujang turun lewat situ".
Begitu kata si Ibu tadi, tanpa menjelaskan siapa sosok si ujang* yang dia maksud.

Singkat cerita, jalanlah saya mengikuti arahan ibu itu. Tapi sudah sepuluh menit kok tidak ketemu-ketemu pohon jati gede-nya. Banyak memang pohon-pohon besar, tapi saya yakin itu bukan jati.
Dan tiba-tiba sampailah saya di depan sebuah papan nama jalan, bertuliskan Jl. Bukit Dago Utara. Tempat saya masuk tadi. Ternyata jalannya berbentuk huruf U, jadi saya hanya berjalan memutari saja tempat ini dari tadi.

Walau sudah agak hilang semangat, tapi karena masih penasaran, apalagi sudah kepalang tanggung dan kepalang pegal, jadi balik lagi saya ke dalam. Coba masuk ke Jl. Bukit Dago Utara II, tapi nihil. Ketemu rumah-rumah warga saja.
Sempat bertanya dulu ke seorang perjaka terakhir yang ada di kampus Pasca Sarjana Fisip Universitas Padjajaran, tapi tidak tahu juga. Sepertinya, menunjukkan arah jalan menuju Curug Dago bukanlah spesialisasinya dia. Dari penampilannya, mungkin dia hanya tahu tentang harga lipstik dan maskara saja.

Saya lalu coba masuk ke Jl. Bukit Dago Utara I, dan memutuskan akan langsung pulang kalau kali ini tidak ketemu juga. Dan buah kesabaran itu ternyata selalu manis, seperti kolak pisang. Yang disuap Chelsea Islan.
Tidak lama berjalan, akhirnya saya menemukan sebuah tangga menurun dari beton yang cukup curam, menuju ke arah lembah. Walau tidak menemukan pohon jati besar seperti kata ibu-ibu tadi, hati tetap terasa lega, dan timbul percikan energi untuk buang air kecil. Pencarian ini membuat saya kebelet saudara-saudara.

Tangga-tanggaan
Sayup-sayup mulai terdengar suara aliran air, setelah 1 KM (mungkin kurang) menuruni tangga.

Berada di tengah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, air terjun yang tidak seberapa tinggi ini tersembunyi di balik rindangnya pepohonan. Terbentuk dari aliran Sungai Cikapundung, yang mengalir dari Maribaya menuju Kota Bandung.

Masih ada secuil keindahan masa lalu yang tersisa dari curug mungil ini. Keindahan yang dulu memikat hati duo raja Thailand beda generasi dari Dinasti Chakri; Raja Rama V (Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara). Jejak sejarah keduanya terpatri dalam dua buah prasasti batu tulis yang berada di dalam dua bangunan bercorak Thailand di dekat curug berada.
Sejarah yang mungkin mempengaruhi pandangan si petugas di pintu masuk, yang mengira saya berasal dari Thailand. Padahal kontur wajah saya lebih mirip India atau Arab atau China, kalau dilihat lewat sedotan dari puncak Monas. Atau jangan-jangan dikira orang Thailand karena perawakan saya mirip ladyboy gagal operasi. *ih cucok*




Sayang, kemolekan curug ini sudah termakan zaman. Terenggut ke-masif-an pembangunan. Pemukiman yang makin padat diatasnya, juga banyaknya pabrik-pabrik pengolahan, menyebabkan hutan yang dahulunya berfungsi sebagai pelindung ekosistim alam semakin lama semakin tergerus.
Hutan tergerus, Sungai Cikapundung terkena dampaknya, Curug Dago ikut kena imbasnya. Debit air sungainya makin berkurang. Airnya pun makin keruh, berwarna kecoklatan, dan banyak sampah yang mengotori aliran sungai. Belum lagi pengelolaan objek wisata ini yang sepertinya begitu-begitu saja. Kedua bangunan tempat prasasti berada, terlihat penuh debu dan tak terawat. Mungkin kalau kedua prasasti itu bisa ngomong, pasti tidak akan bohong, kalau sakitnya tuh di sini.


Kang Goofy pengen eksis
Dengan pengelolaan yang biasa-biasa saja itu, biaya karcis masuk yang dikenakan sebesar 11.000 rupiah terasa sangat amat mahal sekali. Gak worth it kalau kata anak gaul Jakarta. Padahal lumayan penuh perjuangan untuk mencari tempat ini, karena ketiadaan papan penunjuk arah.
Harus lebih diperhatikan lagi oleh Pemda Kota Bandung (maaf kalau salah). Tidak harus dengan menambah debit air, karena itu sepertinya susah. Sangat susah. Karena entah butuh berapa galon air buat mengairi sungai seperti itu. Tapi setidaknya dengan menjaga keasrian dan merawat fasilitas yang ada, atau membuat taman konseptual seperti yang sudah dibuat di tengah kota Bandung itu. Karena tempatnya cukup sejuk, yang bisa menjadi salah satu alternatif untuk 'melarikan diri' dari ruwetnya rutinitas harian.



Tabe!


*Ujang itu panggilan orang Sunda untuk anak muda. Saya tahu, cuma sengaja, biar tulisannya sedikit menarik saja :D

- Ane bikinin petanya deh ;)