Kamis, 28 Mei 2015

Wake Up And Live

"Come di island. Jrengjrengjrengjreng. Jrengjrengjrengjreng"

Intro lagu Flores Island dari Matahari Reggae Band itu selalu terdengar setiap kali ada yang menelepon saya. Maklum, itu ringtone-nya.
Awal saya tahu band ini waktu masih kuliah dulu. Lupa siapa yang kasih tahu soal mereka, tapi saat mendengar lagu-lagunya, apalagi setelah itu tahu kalau para personilnya rata-rata orang Flores semua, saya yang primordial akut ini langsung suka. Beberapa kali sempat lihat langsung penampilan mereka, di Ancol dan kampus saya. Tapi yang lebih sering di La Piazza Kelapa Gading, karena dulu mereka tampil rutin di mall yang sering saya datangi bersama teman-teman itu.
Sayang, band ini sekarang entah piye kabare (maaf kalau saya kurang update :D)

Vokalisnya, Conrad, sudah membentuk band bernama Conrad Good Vibration, yang sebelumnya adalah project solonya. Dia (Conrad) juga sempat mengisi posisi sebagai vokalis di Pace Rasta. Band reggae bentukan mantan bassist Rastafara, Roy Putuhena.
Band Conrad Good Vibration ini digawangi oleh Conrad sendiri sebagai vokalis, Javier (gitar), Noezry (keyboard), Sofyan (drum), Dondon (bass-add) dan Yuyud (synth & keyboard-add).


* * * 
Sebagai penikmat musik reggae, yang tingkat ke-sotoy-annya tinggi, saya tahu betul kalau perkembangan skena musik ala Jamaika ini di Indonesia sudah sangat masif sekali. Di setiap daerah banyak bermunculan band-band baru, baik itu yang roots reggae maupun aliran jamaican music lainnya seperti ska & rocksteady. Kecuali dancehall yang memang masih sedikit. Para pecintanya pun makin pesat nan asoy.
Namun dari semuanya itu, menurut saya hanya segelintir band saja yang punya karakter kuat dan musikalitas yang baik. Tapi bukan berarti yang lain tidak bagus, hanya saja agak mirip satu dengan yang lainnya.

Nah, dari yang segelintir tadi, bagi saya salah satunya adalah Conrad Good Vibration ini. Karakter vokalnya Conrad sangat kuat. Kita bisa langsung menebak kalau lagu Flores Island dan Nagi Reinha (salah satu lagu dari album solo-tribute to the land-nya Conrad) dinyanyikan oleh orang yang sama, tanpa harus mengetahuinya terlebih dahulu.
Dari segi musikalitasnya pun berbeda dengan yang lainnya. Punya ciri khas sendiri. Dan itu ditunjukkannya di dalam album berjudul Wake Up And Live ini. Album perdana sejak band ini dibentuk tahun 2010 silam.

Judulnya tipikal 'reggae banget', yang selalu ingin menularkan semangat positif dalam menjalani hidup. Apalagi di zaman galau-nium akut ini. Seperti kata Om Bob, "Don't worry about a thing. Every little thing is gonna be alright". "Mendingan kita happy aja. Ayo goyang dumang", begitu pesan neng Cita Citata.

Berisi delapan lagu, mereka membuka dengan lagu yang sepertinya mewakili perasaan semua pecinta reggae pada saat mendengar musik ini. Feel the rhythm n keep on dancin', reggae make you smile, reggae the only remedy. Kira-kira begitulah 'penjelasan' Conrad dalam lagu ini. Yapz, he is right. Reggae Make Me Smile.
Hal itu dipertegas di lagu Damai dan Cinta, yang menyatakan bagaimana big impact dari musik reggae bagi para penikmatnya. Musik yang selalu menenangkan hati dan jiwa, menghilangkan gundah gulana, memberi rasa damai dan cinta. Amiiiin!

Sementara itu, semangat yang diusung lewat judul album Wake Up Anda Live (menurut saya) diwakili oleh lagu Doing Your Best, Be Together, dan Santai Saja Esok Masih Ada. Walau memiliki 'tema' yang berbeda, ketiganya punya pesan yang kurang lebih sama : YAKUSA. Yakin Usaha Sampai. Apapun yang terjadi dalam hidup, jangan sampai patah arang. Galau itu sangat tidak berguna. Sama seperti begadang, kalau tiada artinya.
Harus selalu percaya pada kemampuan diri sendiri, terus berusaha apapun yang terjadi, manfaatkan waktu sebaik-baiknya, dan jangan lupa ajak teman untuk berjuang bersama-sama meraih apa yang diimpi-impikan. Kira-kira itulah secuil pesan dari lagu Doing Your Best dan Be Together (menurut saya).

Sementara di lagu Santai Saja Esok Masih Ada, lagu yang sudah lama 'duduk manis' di playlist hape saya, mereka seolah mengingatkan kalau segala usaha yang dilakukan belum tentu langsung berbuah manis (kecuali usaha lu nanam tebu, baru pasti selalu manis hasilnya). Kalau langsung berhasil ya Puji Tuhan, tapi kalau masih banyak aral melintang, berjalan tidak sesuai rencana dan tidak semulus paha Sasha Grey, tetap harus selalu semangat. Jangan sampai galau menahun. Terus berusaha dan berserah pada Yang Maha Kuasa (maksudnya berdoa. Bukan tulis status Facebook/ngetweet).
Santai saja. Terus berusaha. Sruput kopinya. Nikmati hidup Anda.
Lagu ini memang sangat pas dijadikan sebagai lagu penutup di album.

Selain Be Together dan Santai Saja Esok Masih Ada, lagu yang sudah pernah saya dengar (salah satunya lewat program Jamaican Sound yang dipandu Ras Muhamad di Radio Mustang FM) adalah P.A.P.U.A. Lagu yang khusus dipersembahkan untuk pulau di ujung timur Indonesia itu, yang oleh Conrad didapuk sebagai the island of reggae. Sama halnya dengan di kampung saya, orang-orang Papua memang sangat menyukai musik reggae. Kalau ada yang tidak suka, kemungkinan besar dia kebanyakan terkena radiasi sinar ultraviolet =)))
Tapi inti dari lagu ini lebih ke sebuah ajakan/pesan agar selalu hidup dalam damai dan cinta, bergandengan tangan satu sama lain. Walaupun disini dikhususkan untuk masyarakat Papua, tapi saya rasa bisa juga ditujukan buat semua orang. Kan daripada berkelahi, lebih baik bercinta. Duduk bersama, sambil nonton goyang driblle Duo Serigala.
Dengan memasukkan sedikit sentuhan musik etnik Papua, lagu ini jadi terdengar unik dan enak :D

Dalam album ini juga disisipkan satu lagu bertema 'cinta-cintaan', yaitu I've Got The Love. Menceritakan kebahagiaan seorang pria yang sudah berhasil menggaet wanita idamannya.
Sepertinya lagu ini dibuat Conrad sehabis minum Moke (minuman tradisional kampung saya yang mengandung alkohol). Soalnya saya juga suka lihat wajah cewek saat bulan purnama, kalau sudah kena Moke sebotol. hahahaha *kidding

Terakhir, Reggae Party. Lagu favorit saya, selain Santai Saja Esok Masih Ada. Beat-nya asyik. Sangat jogetable. Minimal kalau bukan kepala, ya jempol gerak-gerak :D

Intinya, menurut saya album ini 'ramah telinga'. Musiknya yang easy listening, sangat cocok dijadikan sebagai mood booster di kala hati sedang gundah gulana tiada terkira. Enak sekali didengar sambil minum kopi di atas atap kosan di saat sunset tiba. Akan lebih sempurna kalau ditemani Raisa. Sempurna ngayal-nya.
Kurangnya cuma satu album ini. Kurang tandatangan personilnya :D *dikeplak

Jadi buruan ke toko musik terdekat, atau beli online di sini.
Jangan cari di jalanan Lokasari. Adanya cuma lapak obat kuat disana.

#SupportYourLocalBand ;)


Tabe!

Jumat, 15 Mei 2015

Become United

Beberapa tahun yang lalu, saya suka dibilang FANS MUSIMAN oleh teman saya, gara-gara katanya suka mendukung klub yang berbeda-beda. Gak konsisten.
Jadi karena itulah saya memutuskan untuk membuat klarifikasi ini, agar tidak ada dusta diantara kita :p
__________

Cabang olahraga favorit saya saat masih SD sebenarnya adalah bulutangkis. Maklum, di awal sampai pertengahan tahun '90an, olahraga 'tepok bulu' itu sedang jaya-jayanya. Susi Susanti, Alan Budikusuma, Ricky Subagja, Rexy Mainaki, dan lain-lain, selalu wara-wiri di layar kaca. Ditambah lagi channel tivi yang bisa 'ditangkap' oleh antena biasa di kampung saya cuma TVRI saja, yang kebetulan selalu menayangkan secara live pertandingan bulutangkis.
Sementara sepakbola, di tivi nasional ini cuma Liga Dunhill saja yang ditayangkan. Itupun tidak rutin (kalau tidak salah ingat). Liga-liga luar cuma bisa di-update lewat siaran Dunia Dalam Berita TVRI, yang tentunya berkategori B ('Bapak-bapak'). Gak lazim bocah ingusan nonton yang begituan.

Brasil adalah tim sepakbola pertama yang saya suka. Itupun bukan karena nonton pertandingan mereka di tivi, tapi karena pengaruh orang-orang di kampung saya yang sepertinya born to be sambaholic. Tidak ada tim lain, selain Brasil, yang dibicarakan di sana saat itu. Bahkan negara lain yang mereka tahu cuma Maradona, Campos, Ruud Gullit, dan segelintir pemain bintang lainnya.
Final Piala Dunia '98 di Prancis menjadi tontonan perdana saya, walaupun masih sekedar ikut-ikutan saja. Kesan pertama yang agak tidak enak, karena harus melihat Zidane cengar-cengir di saat Ronaldo tertunduk lesu, melihat orang-orang menggerutu karena Brasil kalah, dan mendengar celotehan mereka yang merasa kalau Ronaldo diguna-guna pakai ilmu hitam biar lemas mainnya. #WTH

Tahun 2002 bisa dibilang sebagai turning point bagi saya untuk benar-benar 'terjerumus' ke dalam lubang besar pecinta sepakbola. Menyaksikan langsung para pemain tim Samba mengalahkan lawan-lawannya, sejak pertandingan pertama sampai merengkuh gelar juara dunia untuk kelima kalinya. Merasakan euforia kemenangan bersama (kemungkinan besar) 99% pendukung Brasil lainnya di tempat itu.
Tahun yang membuat saya menjadi seperti Bung Towel, karena tahu semua informasi sepakbola, berkat setumpuk ulasan piala dunia dari Pos Kupang.
Tahun yang membuat saya akhirnya punya seorang pemain favorit, RONALDINHO.

Pindahnya Ronaldinho ke Barcelona di tahun 2004, dan seiring bertambah banyaknya orang yang punya receiver digital, membuat saya selalu menghabiskan weekend bersama teman-teman menunggu tayangnya LaLiga Spanyol. Sepertinya tidak ada satupun pertandingan Barcelona yang tidak saya tonton, karena tidak mau melewatkan aksi sang idola. Tapi itu bukan berarti saya jadi fans Barcelona. Karena kalau Ronaldinho tidak main, malas nontonnya :D
Saat dia akhirnya dilego ke AC Milan di tahun 2008, saya pun berhenti nonton LaLiga, dan beralih ke Serie A Italia. Demi Idola :D
Dan gara-gara di tahun yang sama saya mulai kepincut permainan Manchester United, lalu sesekali menonton pertandingan mereka, disitulah saya dianggap seperti Fans Musiman tadi. Apalagi, di beberapa kesempatan, saya juga mendukung tim lain yang sedang melawan klub favorit teman saya. Maksudnya biar suasananya jadi agak panas. Nonton bola dengan tensi tinggi kan enak ya :D
__________

Manchester United sendiri sudah lama saya tahu. Bahkan dulu saya punya poster timnya saat meraih treeble winner di musim 1998/1999. Mudah-mudahan sih posternya masih tertempel di dinding kamar saya sampai sekarang. Tapi memang waktu itu belinya karena suka sama gambarnya saja. Dulu saya punya banyak poster di kamar. Agak random memang. Ada Zidane, Karel Poborsky, Inzaghi, Boomerang, Zamrud, Bob Marley, Eminem, bahkan poster film Kuch Kuch Hota Hai dan Rani Mukherjee pun ada (*semua orang punya masa alay-nya masing-masing :p).

Saya juga pernah sekali menonton mereka (MU). Kalau tidak salah waktu itu pertandingan Liga Champions melawan Juventus. Lupa siapa yang menang. Yang saya ingat cuma Scholes yang hampir saja mencetak gol dengan dadanya, dan juga kibasan rambut Edgar Davids dengan kacamata gaulnya.

Baru di tahun 2008, saya mulai mencoba 'mendekati' dan mengenal lebih jauh si Setan Merah ini. Eh tak disangka tak diduga, aku jatuh cinta :D
Walaupun di awal-awal masih malu dan sembunyi-sembunyi, karena banyak teman saya yang sudah sejak lama jadi fans Manchester United, sebelumnya pernah saya ejek kalau MU itu tim gak jelas, tim banci kaleng, tim ayam sayur, dan lain-lain. Kan malu ya kalau ketahuan akhirnya suka juga. Jadi kayak kisah percintaan ala FTV. Benci jadi cinta. Cinta pacarnya Rangga.
Tapi tidak apalah. Toh tidak masuk neraka ini :D
__________

Sebenarnya agak dilematis juga untuk mengakhiri tulisan ini. Karena intro-nya lebih banyak daripada cerita inti saya jadi fans Manchester United.
Tapi ya sudahlah.
Yang pasti, dengan ini saya nyatakan dengan seksama, demi kemaslahatan penghuni Galaksi Bima Sakti, kalau saya adalah fans Manchester United terhitung sejak tahun 2008. Sekian dan terimakasih ;)

*semoga foto-foto Chaning Tatum di bawah ini bisa menjelaskan semuanya :p =)))








Tabe!