Sabtu, 17 Februari 2018

Jakarta Malam dari Puncak Monas

Niat saya sejak pertama kali datang Jakarta di tahun 2005, naik ke puncak Tugu Monumen Nasional, akhirnya tercapai bulan Maret 2015 lalu. Senang rasanya, bisa merasakan sendiri bagaimana meneropong Jakarta dari Puncak Monas. Memandangi dari kejauhan, barisan gedung-gedung pencakar langit nan digdaya menghalangi pepohonan yang tumbuh sekadarnya di 59 hutan kota yang ada (katanya).


Lewat setahun lamanya, saya kembali menyempatkan diri untuk menyambangi lagi salah satu ikon kota Jakarta itu (yang sekaligus ikon nasional tentunya).
Berita di tivi tentang dibukanya kunjungan malam ke Monas [per 5 April 2016] sepertinya memiliki daya tarik tersendiri. Kelap-kelip cahaya dari gedung-gedung pencakar langit di seputaran Monas, menjanjikan pemandangan yang indah dari atas sana.

Sebenarnya, tanpa harus naik hingga ke atas pun, Monas di malam hari sudah cukup elok untuk dinikmati. Permainan lampu sorot warna-warni yang ditembakkan ke arah tugu sungguh memesona, 'menemani' kilau cahaya keemasan dari puncak nyala api tugu ini.


Pemandangan dari atas ketinggian 132 meter di malam hari ini, memang punya kekhasannya sendiri dibandingkan di siang hari. Walau gedung-gedungnya tidak terlihat jelas, namun titik-titik cahaya yang terlihat sungguh semarak. Kontras dengan langit yang semakin gelap tak berbintang [ironi kota-kota besar. terang di bawah gelap di atas. he-he].

Deretan kendaraan yang bergerak di sejumlah ruas jalan yang tampak dari atas puncak Monas, memberi efek cahaya tersendiri, membentuk garis panjang yang terus bergerak.
Lampu sorot yang menghiasi Masjid Istiglal, atau cahaya lampu di Istana Merdeka pun tak kalah menarik perhatian pengunjung.


Senja yang turun, memberi semarak pada Jakarta hingga malam menjelang.


Wisata malam Monas menjadi alternatif bagi warga ibukota--yang selalu disibukkan dengan kegiatan dan pekerjaan pada siang hari--untuk menikmati panorama kota Jakarta dari sisi yang berbeda.
Sisi yang tidak perlu dilabeli underground, seperti yang 'ITU', walau sama-sama berwisata malam. he-he.



Tabe!


PS:
> Jadwal buka kawasan Monas: Selasa-Minggu (libur tetap buka): 08.00-22.00
> Jam operasional lift ke Puncak Monas: pagi: 08.00-16.00; malam: 19.00-22.00

Jumat, 12 Januari 2018

de Kantine

Bisnis kopi yang sedang berkembang dengan pesatnya saat ini, membuat banyak bermunculan kedai-kedai kopi di setiap kota, terutama kota-kota besar, dengan tampilan wah, interior mentereng keostrali-ostralian [😀], berada di lokasi premium dan [tentu saja] berharga mahal.

Tapi tidak sedikit juga kedai kopi yang sederhana saja, hanya mengandalkan racikan kopinya, walau tetap nyaman sebagai tempat untuk nongkrong ria.
de Kantine ini salah satunya. Lokasinya cukup tersembunyi, dengan hanya memanfaatkan teras dan halaman sebuah rumah. Dengan papan nama yang tak begitu mencolok, ditambah deretan warung-warung tenda yang berjejer didepannya, orang tidak akan ngeh kalau ini adalah sebuah kedai kopi.


Unsur kayu sangat mendominasi desain interiornya. Rangka kayu penuh gantungan papan-papan kecil bergambar dan daun-daun artifisial akan langsung tampak saat kita masuk. Kain putih yang dijadikan sebagai penutup plafon, menjadi pemanis ruangan. Di salah satu sisi, dinding berwarna hitam dilapisi gambar mural yang cantik.
Ada cermin besar yang dipasang di salah satu dinding kedai. Sepertinya untuk memanipulasi ruangan yang kecil, agar tampak luas. Mungkin. Karena begitu yang saya sering baca di artikel-artikel arsitektur.

Namun, walau tak seberapa luas dan tidak ber-AC, kedai kopi ini tetap nyaman untuk ngopi sambil mengobrol santai, kerja, meeting atau membaca buku berlama-lama.


Ada beberapa single origin yang tersedia di sini, seperti Gayo, Papua, Toraja, Lintong, dan lain-lain. Tapi niat untuk mencobanya dengan seduh manual sedikit tertunda karena mas barista de Kantine sedang keluar.

Tidak ingin menunggu hingga bosan tanpa mencicip sesuatu, saya lalu memesan ke si mbak di coffee bar, menu lain yang dia bisa buat. Si mbak pun menawarkan Iced Vietnam kepada saya. Yang langsung saya iyakan tanpa pikir panjang lagi.
Namun tidak seperti Vietnamese Coffee biasa, kopi yang ini tidak diseduh menggunakan vietnam drip. Saya memang tidak memperhatikan prosesnya dari awal, hanya melihat si mbak itu menggunakan shaker atau apalah itu namanya, seperti yang biasa dipakai oleh para bartender untuk mencampur cocktail. Caranya pun sama seperti halnya para bartender itu.


Segelas kopi yang penuh busa diatasnya pun tidak lama hadir di meja. Mengingatkan saya akan Kopi Susu Spesial milik Kedai Kopi Phoenam, juga tentunya 'Mas Bintang'; bir idola yang logonya mendominasi desain kaos oblong di Bali itu 😁

Dibandingkan vietnam coffee yang pernah saya coba, Iced Vietnam de Kantine ini lebih ringan. Ada sensasi 'gigitan' alkohol yang samar-samar. Entah karena cara pembuatannya tadi atau halusinasi saya saja yang sudah jarang mencicipi minuman beralkohol. he-he

Alunan musik rock klasik dari The Beatles menemani saya menikmati kopi itu, sambil 'menghabiskan' tulisan berat Horace Campbell dalam bukunya Rasta dan Perlawanan. Asyik nian. Kopi dan buku memang pasangan berjodoh yang sempurna.


Tak lama setelah menghabiskan iced vietnam saya, mas barista yang ditunggu-tunggu sebagian dari pengunjung yang ada pun datang. Niat mencoba racikannya pun muncul kembali.
Setelah memilah-milah, pilihan jatuh kepada LINTONG. Satu-satunya, dari single origin yang tersedia di de Kantine, yang belum pernah saya coba sebelumnya.

Lintong Tubruk. Nikmat tak terbantahkan. Dan sempurnalah sore saya.
Walaupun niat sebelumnya ingin mencoba seduh manual lain. Apalah daya selera berbicara. he-he


Mencoba melipir kesini, setelah 'menemukannya' ketika hadir di event Festival Kopi Flores di Bentara Budaya lalu, membuat saya tersenyum puas ketika mengingat kembali ucapan teman saya saat itu. "Kedai kopi gini mah jualnya kopi gitu-gitu. Ga usahlah. Cari yang lain", begitu katanya.

Ah sudahlah.
Coba saja kesini, siapa tahu lidah saya tidak salah rasa. he-he
Pun kalau tidak suka kopi, ada es cokelat atau es teh leci. Makanan berat atau camilan santai pun tersedia. Ada nasi bakar, nasi gepuk, spaghetti, fettucini, kentang, sosis goreng, dan lain-lain.

Katanya, de Kantine yang tersembunyi ini sering dikunjungi karyawan Grup Kompas Gramedia. Siapa tahu ada yang cantik. eh 😁



Tabe!


PS:
> Alamat de Kantine : Jl. Gelora IX No. 1, Kel. Gelora, Palmerah Selatan, Jakarta
   (persis di samping kantor pusat Kompas Gramedia).
> Buka Senin - Jumat : 10.00 - 22.00.
> Arah menuju de Kantine : Pas belok masuk Jl. Gelora (arah mau ke pintu masuk kantor Kompas atau Bentara Budaya), lurus terus sampai gapura bertuliskan "lingkungan RW.02 Gelora". Ada gang di sebelah kiri. Dia rumah pertama sebelah kanan, berhadapan dengan warung-warung kecil.
> IG : deKantine_JKT

#SekapurSirih

Kedai kopi tua memang hanya punya menu sederhana. Jauh dari tetek bengek metode seduh, dengan segala macam gelombangnya. Tapi tidaklah kurang istimewanya. Karena ada nostalgia masa lalu di sana.


lokasi : Kedai Kopi Purnama, Bandung

*Artikel selengkapnya bisa dibaca di sini ← klikz 😏

Selasa, 26 Desember 2017

Warung Hajar Bleh/Warkopman

Menemukan kedai kopi secara tidak sengaja adalah berkah.

Begitulah halnya dengan Warkopman ini. saya 'menemukannya' di Instagram, karena [entah kenapa] akun miliknya mem-follow saya yang fotografer abal-abal ini. Bahagianya tentu berlipat bagi saya yang fakir follower. Tak hanya menambah jumlah pengikut, tapi juga destinasi kopi bagi saya.

Tentu, seperti biasa, segera saya stalking akun Instagram si kedai kopi yang mem-follow saya itu. Mencari informasinya untuk disambangi.
Berita bagusnya, lokasi kedai ini berada sering saya lewati ketika mau ke Bogor. Hanya masuk lagi sedikit. Harga setiap menunya yang juga murah, membuat saya ingin secepatnya melipir kesana.

Namun, berselang satu atau dua bulan kemudian baru bisa saya datangi. Sudah hampir maghrib saat itu.
Tidak sulit menemukannya, karena patokan kampus Uhamka dan sebuah pusat kebugaran, yang cukup jelas. Yang menjadi masalah dan membuat saya sempat kebingungan bahkan hampir memutuskan untuk pulang, dikarenakan warung di samping gym itu (sesuai alamat yang tertulis) bukan Warkopman tapi Warung Hajar Bleh. Saya lupa slogannya. Pokoknya berhubungan tentang mie yang pedas begitu. Walau ada 'embel-embel' kopinya.

Hanya karena deretan stoples berisi biji kopi yang terlihat berjejer rapi di depan 'bar'-nyalah yang membuat saya memaksakan diri untuk masuk. Baru setelah melihat daftar menu, saya akhirnya yakin kalau tempat yang saya datangi ini adalah sebuah warung kopi. Setidaknya banyak menu kopi yang tersedia.

Saya sempat mengecek kembali akun Instagram Warkopman. Interiornya yang sama persis, membuat saya beranggapan kalau mereka hanya mengganti namanya saja.



Menu kopi yang tersedia memang cukup beragam. Ada espresso based, manual brewing, juga single origin nusantara yang cukup lengkap variannya. Dari Arabica Aceh Gayo, Mandailing Malabar, hingga Flores Bajawa dan Papua Wamena.

Biasanya, kalau agak ragu dengan kedainya [sok sekali 😁], saya selalu memesan 'menu kunci' yaitu KOPI TUBRUK. Entah kenapa, saya merasa kalau kopi tradisional Indonesia itu selalu enak, siapapun peraciknya.
Begitupula Arabica Ijen Tubruk yang saya pesan di Warung Hajar Bleh ini. Nikmat apa adanya. Membuat saya yang tadi sempat kebingungan, menjadi sumringah lega. Kopi tubruk yang biasanya 'berat', terasa begitu 'ringan' di sini. Aroma coklat dari si kopi Ijen pun menyeruak tak karuan.

Menutup hari dengan kopi nikmat memang sungguhlah indah.


Tapi, seperti slogan mereka, di Warung Hajar Bleh ini ada beberapa macam menu Indomie Pedas, yaitu Mie Telor, Mie Tebas (Telor Bakso), Mie Tesis (Telor Sosis), Mie Tekor (Telor Korned), Mie Juned (Keju Korned), Mie Tomyam dan Mie Tenderloin. Juga menu lain seperti nasi goreng, roti panggang, sandwich, snacks, dan menu minuman non-kopi yang beragam.
Dengan harga mahasiswa alias terjangkau, karena memang sasarannya adalah para mahasiswa Uhamka yang ingin nongkrong sehabis kuliah.

Jadi jangan kaget ketika sedang asyik-asyiknya ngopi, tiba-tiba dari pintu masuk muncul serombongan anak kuliah dengan suara lantang penuh canda tawa, bahkan ketika sedang menikmati makanan atau minuman pesanan mereka.
Seperti yang saya 'alami' saat itu.

Karena suasananya yang 'mahasiswa banget' itulah, membuat kedai kopi ini menjadi tempat yang kurang tepat bagi yang mau menyendiri atau mau mencari inspirasi sambil ngopi. Tapi kalau sekedar untuk ngopi menghabiskan waktu, bolehlah melipir kesini.


Entah dia Warung Hajar Bleh atau Warkopman, yang jelas kedai kopi ini menjadi berkah tersendiri bagi para mahasiswa-mahasiswi untuk bisa tetap ngopi enak, tanpa harus menilep uang buku, atau menggadaikan kehormatan. Lah! hehe. piss yo 😜



Tabe!


PS:
> Alamat Warung Hajar Bleh/Warkopman: Jl. Tanah Merdeka No. 23A (King Gym UHAMKA) Pasar Rebo, Jakarta Timur.
> Jam buka: 12.00 - 24.00 (minggu & hari libur tutup)
> Untuk situasi terkini, silahkan cek sendiri ke IG: @warbleh

Kamis, 07 Desember 2017

WISANG KOPI yang Tanpa 'Gelombang'

Kopi dan gelombangnya.
Mungkin bagi sebagian orang menjadi sesuatu yang terdengar asing. Begitupun saya pada awalnya. Tahu kopi hanya sekedar "seduh & seruput", tidak dengan tetek bengek lainnya.
Namun, seiring mulai seringnya saya mengunjungi kedai kopi dan mulai 'sok-sokan' menjauhi kopi instant, saya 'terpaksa' mencari-cari artikel tentang kopi, agar tidak kagok ketika ngobrol dengan barista atau teman ngopi yang cantik di samping meja.

Secara garis besar, [saat ini] ada tiga 'gelombang' dalam dunia per-kopi-an. Seperti yang saya baca di Majalah Otten Coffee, 'gelombang pertama' diawali pada tahun 1800-an. Pada 'gelombang' ini yang dikedepankan adalah kepraktisan dan kemudahan demi konsumsi kopi yang sebanyak-banyaknya. Harga terjangkau dan mudah disajikan, namun kualitas rasa yang bisa dikatakan buruk.
'Gelombang kedua' lahir karena 'kopi buruk' tersebut. Peminum kopi di era ini menginginkan kopi yang nikmat dan mau mengetahui asal-usul dari kopi yang mereka minum. Kopi bukan hanya minuman, tetapi sebuah proses. Namun hal itu menjadikan ritual minum kopi berubah menjadi gaya hidup, seiring munculnya bisnis kedai kopi dan cafe di kota-kota besar.
Sementara 'gelombang ketiga' (third wave coffee)--yang muncul sekitar tahun 2002--ditandai dengan mulai tertariknya para peminum kopi terhadap kopi itu sendiri. Mulai dari asal bijinya, prosesnya hingga saat kopi disajikan.


* * *
"Kedai Kopi dan Rumah Sangrai Tanpa Gelombang".
Tulisan di depan kaca kedai kopi yang berlokasi di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan itu, menjadi slogan bagi Wisang Kopi. Namun itu tidak lantas membuat mereka mengabaikan segala hal tentang kopi yang disajikan. Karena saat saya kesini, si pemilik sekaligus tukang seduh, tetap menjelaskan asal biji kopi yang saya pesan, proses pengolahan bijinya, juga profil roasting-annya, dan lalu menanyakan rasa kopinya  setelah saya minum.

Untuk alat seduh, Wisang Kopi adalah salah satu dari sekian banyak kedai kopi yang hanya mengandalkan manual brewing semata, tanpa mesin espresso dan alat giling kopi mahal. Pun tanpa koneksi internet dan suasana mewah. Wisang Kopi hadir untuk yang benar-benar suka kopi dan menikmati pembuatannya.


Menempati sebuah bangunan kecil dengan bentuk memanjang di sudut sebuah rumah, hanya sekitar 24 meter persegi, kedai kopi ini cukup nyaman untuk sekadar ngobrol santai sambil ngopi.
Biji kopi pilihan yang ditawarkan di sini pun sangat beragam, yang kebetulan di-roasting sendiri oleh mereka.

Wisang Kopi berada di Jl. H. Abdul Majid No. 67, Cipete, Jakarta Selatan. Buka dari Senin hingga Sabtu, dari jam 7 malam sampai 12 malam, dan libur di hari Minggu karena mau turut Ayah ke kota naik delman istimewa.


Seperti kopi Papandayan pesanan saya waktu itu, yang diseduh dengan Kono Filter, 'ngopi tanpa gelombang' pun tetap nikmat apa adanya.



Tabe!


*maafkan kualitas foto-fotonya. Hape saya ini suka hilang kecanggihannya kalau low light. hehe

Jumat, 01 Desember 2017

#SekapurSirih

Selalu ada ide yang muncul di kedai kopi. Membuncah di tengah harum kopi yang khas. Mengalir seiring bibir menyentuh cangkir, dan seteguk nikmat membasahi lidah.


lokasi : Bengawan Solo Coffee, Duta Merlin, Harmoni, Jakarta.

*Artikel selengkapnya bisa dibaca di sini ← diklik ya kalau mau baca 😉

Kamis, 05 Oktober 2017

[Photo]: Museum Layang Layang Indonesia

Sering sekali teman-teman di facebook membagi tautan atau gambar tentang permainan-permainan tradisional yang dulu sering dimainkan saat masih kecil.
Sebagai generasi yang besar di tahun 90-an (sebut saja tua 😁), senang juga melihatnya. Flashback ke masa dimana permainan-permainan seperti petak umpet, bola bekel, lompat tali, gobak sodor, dll, menjadi 'raja' di kalangan bocah. Mengingat kembali segala keseruan yang ada, tawa pongah yang menang, juga sesenggukan si payah.

Nah, dari sekian banyak permainan-permainan tradisional itu, kini praktis hanya layang-layang yang masih bertahan (sepertinya).
Walau zaman sudah berganti ke era digital dan membuat permainan-permainan itu tergeser (khususnya di kota), layang-layang masih biasa dimainkan, tidak hanya generasi yang tua tapi juga anak-anak masa kini, di desa maupun kota.


Mainan sederhana dari kertas/plastik, potongan bambu kecil dan lem, yang diterbangkan menggunakan benang gelasan ini (sepertinya semua orang sudah tahu), punya sejarah yang cukup panjang.

**
Dimulai jauh sejak tahun 400 SM, oleh pemikir besar Tiongkok Mozi dan sesepuh tukang kayu Tiongkok Luban, dengan burung kayu/bambu buatan mereka; "Muyuan", yang kemudian berubah menjadi "Zhiyuan" (burung kertas) setelah bahan baku pembuatannya dirubah menggunakan kain sutera/kertas, lalu dirubah kembali namanya menjadi "Fengzheng" atau layang-layang.
Dari "Negeri Tirai Bambu" barulah kemudian menyebar ke pelosok Asia hingga Eropa. Walaupun ada pendapat lain yang mengatakan kalau penyebaran layang-layang dimulai dari Yunani.

Sementara itu, catatan sejarah mengenai 'peradaban' layang-layang di Nusantara adalah dari Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) dari abad ke-17, yang menceritakan suatu festival layang-layang yang diikuti oleh seorang pembesar kerajaan.
Penemuan sebuah lukisan gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, pada awal abad ke-21, yang memberikan kesan orang bermain layang-layang, juga menimbulkan spekulasi bahwa tradisi layang-layang sudah lama muncul di Nusantara.

Dan mungkin karena sejarah panjang layang-layang itulah, Ibu Endang Ernawati menginisiasi pembangunan Museum Layang Layang Indonesia ini sejak tanggal 21 Maret 2003, seiring kecintaannya pada layang-layang dan jumlah koleksi layang-layang miliknya yang mulai banyak.



Museum ini berada di Jl. H. Kamang No. 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Sedikit membutuhkan usaha memang untuk menemukan tempat ini. Selain karena papan namanya yang agak tertutup, juga karena konsep bangunannya yang seperti rumah tinggal di Jawa.

Ada beberapa bangunan yang terdapat di dalam area museum. Bangunan terdepan yang akan ditemukan setelah masuk gerbang adalah kantor dan tempat penerimaan tamu. Setelah melapor dan membeli tiket di sini, guide akan membawa kita ke bangunan lain, yaitu ruangan audio-visual, untuk menonton video tentang sejarah dan festival layang-layang.

Selain itu, ada bangunan lain tempat dilakukannya semua kegiatan workshop dari museum, seperti membuat keramik, batik, melukis layang-layang, dll.
Sementara bagian utama museum berupa sebuah pendopo berlantai merah. Bagian dalam dari pendopo ini terdapat ruang pamer yang berisi koleksi layang-layang dari berbagai daerah dan mancanegara. Beraneka rupa dan warna. Dari yang berukuran paling besar hingga yang terkecil. Yang dua dimensi, juga tiga dimensi. Ada juga layangan berusia tua yang terbuat dari daun umbi-umbian, yang berasal dari Muna, Sulawesi Tenggara.

Layangan Kereta Kuda
Layangan Burung Garuda
Layangan Naga
Layangan Kuda Terbang
Layangan Perahu Layar
Layangan Bidadari
Layangan Ikan Terbang
Layang-layang dari daun umbi-umbian (Muna)


Layangan Capung
Layang-layang terkecil dari China
Ruang koleksi layang-layang dari mancanegara
Setelah puas melihat-lihat di dalam ruang pamer museum dengan segala jenis layang-layangnya, guide akan mengajak kita membuat layang-layang aduan sederhana di pendopo, untuk dibawa pulang.

mari membuat layang-layang
layang-layang hasil karya saya
yang sungguh artistik & menakjubkan 😜
Ajaklah anak-anak anda kesini. Museum ini bisa menjadi sebuah sarana edukasi yang baik bagi mereka, untuk mengenalkan mereka pada layang-layang sebagai salah satu permainan tradisional dan sebagai khasanah budaya bangsa, yang harus dilestarikan agar tidak hilang ditelan zaman.




Tabe!


PS:
** dari berbagai sumber
> Alamat Museum Layang Layang Indonesia: Jl. H. Kamang No. 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan (depan Yayasan Pendidikan Diniyah Ibtidaiyah)
> Jam buka: 09.00 - 17.00 WIB (hari besar tutup)
> Telp: 021-7658075/021-7505112
> Tiket masuk Museum Layang Layang Indonesia: 15.000 (Audiovisual, Tour & Membuat Layang); untuk Workshop berkisar antara 40.000 - 60.000 *per September 2016
> Angkot menuju Museum Layang Layang Indonesia:
Naik angkot apa saja yang ke arah Pondok Labu (yang lewat Jl. Fatmawati). Turun di depan toko Bangun Jaya Digital Printing atau Nasi Goreng Pekalongan (setelah SD Pondok Labu, atau sebelum Seven Eleven Pondok Labu, kalau dari arah RS Fatmawati). Dari situ baru lanjut jalan kaki masuk Jl. H. Kamang, kira-kira 600 meter.
Yang naik kendaraan pribadi, ikuti peta di bawah ini.
>  Peta lokasi:

Lokasi di bintang biru. Yang buat peta ngasal 😁