Kamis, 07 Desember 2017

WISANG KOPI yang Tanpa 'Gelombang'

Kopi dan gelombangnya.
Mungkin bagi sebagian orang menjadi sesuatu yang terdengar asing. Begitupun saya pada awalnya. Tahu kopi hanya sekedar "seduh & seruput", tidak dengan tetek bengek lainnya.
Namun, seiring mulai seringnya saya mengunjungi kedai kopi dan mulai 'sok-sokan' menjauhi kopi instant, saya 'terpaksa' mencari-cari artikel tentang kopi, agar tidak kagok ketika ngobrol dengan barista atau teman ngopi yang cantik di samping meja.

Secara garis besar, [saat ini] ada tiga 'gelombang' dalam dunia per-kopi-an. Seperti yang saya baca di Majalah Otten Coffee, 'gelombang pertama' diawali pada tahun 1800-an. Pada 'gelombang' ini yang dikedepankan adalah kepraktisan dan kemudahan demi konsumsi kopi yang sebanyak-banyaknya. Harga terjangkau dan mudah disajikan, namun kualitas rasa yang bisa dikatakan buruk.
'Gelombang kedua' lahir karena 'kopi buruk' tersebut. Peminum kopi di era ini menginginkan kopi yang nikmat dan mau mengetahui asal-usul dari kopi yang mereka minum. Kopi bukan hanya minuman, tetapi sebuah proses. Namun hal itu menjadikan ritual minum kopi berubah menjadi gaya hidup, seiring munculnya bisnis kedai kopi dan cafe di kota-kota besar.
Sementara 'gelombang ketiga' (third wave coffee)--yang muncul sekitar tahun 2002--ditandai dengan mulai tertariknya para peminum kopi terhadap kopi itu sendiri. Mulai dari asal bijinya, prosesnya hingga saat kopi disajikan.


* * *
"Kedai Kopi dan Rumah Sangrai Tanpa Gelombang".
Tulisan di depan kaca kedai kopi yang berlokasi di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan itu, menjadi slogan bagi Wisang Kopi. Namun itu tidak lantas membuat mereka mengabaikan segala hal tentang kopi yang disajikan. Karena saat saya kesini, si pemilik sekaligus tukang seduh, tetap menjelaskan asal biji kopi yang saya pesan, proses pengolahan bijinya, juga profil roasting-annya, dan lalu menanyakan rasa kopinya  setelah saya minum.

Untuk alat seduh, Wisang Kopi adalah salah satu dari sekian banyak kedai kopi yang hanya mengandalkan manual brewing semata, tanpa mesin espresso dan alat giling kopi mahal. Pun tanpa koneksi internet dan suasana mewah. Wisang Kopi hadir untuk yang benar-benar suka kopi dan menikmati pembuatannya.


Menempati sebuah bangunan kecil dengan bentuk memanjang di sudut sebuah rumah, hanya sekitar 24 meter persegi, kedai kopi ini cukup nyaman untuk sekadar ngobrol santai sambil ngopi.
Biji kopi pilihan yang ditawarkan di sini pun sangat beragam, yang kebetulan di-roasting sendiri oleh mereka.

Wisang Kopi berada di Jl. H. Abdul Majid No. 67, Cipete, Jakarta Selatan. Buka dari Senin hingga Sabtu, dari jam 7 malam sampai 12 malam, dan libur di hari Minggu karena mau turut Ayah ke kota naik delman istimewa.


Seperti kopi Papandayan pesanan saya waktu itu, yang diseduh dengan Kono Filter, 'ngopi tanpa gelombang' pun tetap nikmat apa adanya.



Tabe!


*maafkan kualitas foto-fotonya. Hape saya ini suka hilang kecanggihannya kalau low light. hehe

Jumat, 01 Desember 2017

#SekapurSirih

Selalu ada ide yang muncul di kedai kopi. Membuncah di tengah harum kopi yang khas. Mengalir seiring bibir menyentuh cangkir, dan seteguk nikmat membasahi lidah.


lokasi : Bengawan Solo Coffee, Duta Merlin, Harmoni, Jakarta.

*Artikel selengkapnya bisa dibaca di sini ← diklik ya kalau mau baca 😉

Kamis, 05 Oktober 2017

[Photo]: Museum Layang Layang Indonesia

Sering sekali teman-teman di facebook membagi tautan atau gambar tentang permainan-permainan tradisional yang dulu sering dimainkan saat masih kecil.
Sebagai generasi yang besar di tahun 90-an (sebut saja tua 😁), senang juga melihatnya. Flashback ke masa dimana permainan-permainan seperti petak umpet, bola bekel, lompat tali, gobak sodor, dll, menjadi 'raja' di kalangan bocah. Mengingat kembali segala keseruan yang ada, tawa pongah yang menang, juga sesenggukan si payah.

Nah, dari sekian banyak permainan-permainan tradisional itu, kini praktis hanya layang-layang yang masih bertahan (sepertinya).
Walau zaman sudah berganti ke era digital dan membuat permainan-permainan itu tergeser (khususnya di kota), layang-layang masih biasa dimainkan, tidak hanya generasi yang tua tapi juga anak-anak masa kini, di desa maupun kota.


Mainan sederhana dari kertas/plastik, potongan bambu kecil dan lem, yang diterbangkan menggunakan benang gelasan ini (sepertinya semua orang sudah tahu), punya sejarah yang cukup panjang.

**
Dimulai jauh sejak tahun 400 SM, oleh pemikir besar Tiongkok Mozi dan sesepuh tukang kayu Tiongkok Luban, dengan burung kayu/bambu buatan mereka; "Muyuan", yang kemudian berubah menjadi "Zhiyuan" (burung kertas) setelah bahan baku pembuatannya dirubah menggunakan kain sutera/kertas, lalu dirubah kembali namanya menjadi "Fengzheng" atau layang-layang.
Dari "Negeri Tirai Bambu" barulah kemudian menyebar ke pelosok Asia hingga Eropa. Walaupun ada pendapat lain yang mengatakan kalau penyebaran layang-layang dimulai dari Yunani.

Sementara itu, catatan sejarah mengenai 'peradaban' layang-layang di Nusantara adalah dari Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) dari abad ke-17, yang menceritakan suatu festival layang-layang yang diikuti oleh seorang pembesar kerajaan.
Penemuan sebuah lukisan gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, pada awal abad ke-21, yang memberikan kesan orang bermain layang-layang, juga menimbulkan spekulasi bahwa tradisi layang-layang sudah lama muncul di Nusantara.

Dan mungkin karena sejarah panjang layang-layang itulah, Ibu Endang Ernawati menginisiasi pembangunan Museum Layang Layang Indonesia ini sejak tanggal 21 Maret 2003, seiring kecintaannya pada layang-layang dan jumlah koleksi layang-layang miliknya yang mulai banyak.



Museum ini berada di Jl. H. Kamang No. 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Sedikit membutuhkan usaha memang untuk menemukan tempat ini. Selain karena papan namanya yang agak tertutup, juga karena konsep bangunannya yang seperti rumah tinggal di Jawa.

Ada beberapa bangunan yang terdapat di dalam area museum. Bangunan terdepan yang akan ditemukan setelah masuk gerbang adalah kantor dan tempat penerimaan tamu. Setelah melapor dan membeli tiket di sini, guide akan membawa kita ke bangunan lain, yaitu ruangan audio-visual, untuk menonton video tentang sejarah dan festival layang-layang.

Selain itu, ada bangunan lain tempat dilakukannya semua kegiatan workshop dari museum, seperti membuat keramik, batik, melukis layang-layang, dll.
Sementara bagian utama museum berupa sebuah pendopo berlantai merah. Bagian dalam dari pendopo ini terdapat ruang pamer yang berisi koleksi layang-layang dari berbagai daerah dan mancanegara. Beraneka rupa dan warna. Dari yang berukuran paling besar hingga yang terkecil. Yang dua dimensi, juga tiga dimensi. Ada juga layangan berusia tua yang terbuat dari daun umbi-umbian, yang berasal dari Muna, Sulawesi Tenggara.

Layangan Kereta Kuda
Layangan Burung Garuda
Layangan Naga
Layangan Kuda Terbang
Layangan Perahu Layar
Layangan Bidadari
Layangan Ikan Terbang
Layang-layang dari daun umbi-umbian (Muna)


Layangan Capung
Layang-layang terkecil dari China
Ruang koleksi layang-layang dari mancanegara
Setelah puas melihat-lihat di dalam ruang pamer museum dengan segala jenis layang-layangnya, guide akan mengajak kita membuat layang-layang aduan sederhana di pendopo, untuk dibawa pulang.

mari membuat layang-layang
layang-layang hasil karya saya
yang sungguh artistik & menakjubkan 😜
Ajaklah anak-anak anda kesini. Museum ini bisa menjadi sebuah sarana edukasi yang baik bagi mereka, untuk mengenalkan mereka pada layang-layang sebagai salah satu permainan tradisional dan sebagai khasanah budaya bangsa, yang harus dilestarikan agar tidak hilang ditelan zaman.




Tabe!


PS:
** dari berbagai sumber
> Alamat Museum Layang Layang Indonesia: Jl. H. Kamang No. 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan (depan Yayasan Pendidikan Diniyah Ibtidaiyah)
> Jam buka: 09.00 - 17.00 WIB (hari besar tutup)
> Telp: 021-7658075/021-7505112
> Tiket masuk Museum Layang Layang Indonesia: 15.000 (Audiovisual, Tour & Membuat Layang); untuk Workshop berkisar antara 40.000 - 60.000 *per September 2016
> Angkot menuju Museum Layang Layang Indonesia:
Naik angkot apa saja yang ke arah Pondok Labu (yang lewat Jl. Fatmawati). Turun di depan toko Bangun Jaya Digital Printing atau Nasi Goreng Pekalongan (setelah SD Pondok Labu, atau sebelum Seven Eleven Pondok Labu, kalau dari arah RS Fatmawati). Dari situ baru lanjut jalan kaki masuk Jl. H. Kamang, kira-kira 600 meter.
Yang naik kendaraan pribadi, ikuti peta di bawah ini.
>  Peta lokasi:

Lokasi di bintang biru. Yang buat peta ngasal 😁

Minggu, 17 September 2017

REGGAE COVER [Rekomendasi Reggae Jilid III]

Akhirnya bisa ada waktu untuk menulis kembali di blog abal-abal ini [karena kesibukan yang saya buat-buat sendiri].
Untuk itu saya coba menulis yang asyik-asyik dulu.
Memberikan rekomendasi lagu-lagu reggae untuk dinikmati khalayak ramai 😁 Siapa tahu ada dedek-dedek di luar sana yang kurang piknik, dan butuh hiburan untuk menyegarkan pikiran. hehe

Rekomendasi lagu reggae dari kaka Chivo kali ini agak sedikit berbeda dari kedua rekomendasi sebelumnya, yaitu hanya lagu-lagu yang diaransemen ulang ke dalam irama reggae. Entah itu dari lagu pop, rock, atau genre yang lainnya. Ada juga beberapa lagu yang 'diolah' dari lagu reggae lainnya, seperti hasil karya Gentleman & Ky-Mani Marley ft. Marcia Griffiths.

Langsung saja, berikut daftar lagu-lagunya.
*PS: untuk versi lagu aslinya nanti di-search sendiri ya. Di yusup ada 😊

1. Big Mountain - Baby I Love Your Way (Peter Frampton cover)

Sama seperti lagu "Cherry Oh Baby", yang awalnya saya pikir lagu asli milik band reggae UB40, lagu ini pun selama ini tidak ada bayangan sama sekali kalau hanya sebuah lagu cover. Bahkan cuma lagu "Baby I Love Your Way" ini saja, satu-satunya hit dari band asal California, AS ini yang saya tahu dan dengarin sebelumnya.
Versi asli dari lagu ini pun baru saya dengar saat mau menulis rekomendasi ini.


Mungkin sudah banyak yang sering dengar lagu ini. Tapi saya yakin pasti baru pada tahu juga tentang hal di atas 😁


2. Black As Cole - Hometown Glory (Adele cover)

Cover yang pas. Enak di telinga saya yang tak begitu suka dengar lagu yang terlalu mendayu-dayu (seperti aslinya).



3. Busy Signal & Patrice Roberts - O'Baby (Cherry Oh Baby - Eric Donaldson cover)

'Warna' baru untuk salah satu lagu reggae populer ini, dengan sentuhan toasting-an ala reggae deejay [dancehall reggae].
Asyik nian (walau sedikit dirubah liriknya).



4. Christopher Martin - Let Her Go (Passenger cover)

Keduanya sama-sama asyik dan enak untuk dinikmati dengan sajian jagung titi dan segelas kopi di sore hari yang asoy. hehe



5. Duane Stephenson - Members Only (Bobby Bland cover)

Tembang kenangan ini masih tetap keren 'diolah' si penyanyi reggae dari Kingston, Jamaika ini.
Well done Duane!!



6. Ed Robinson - Knocking On Heavens Door (Bob Dylan cover)

Versinya Guns n Roses--dengan lengkingan suara AXL Rose--pasti yang paling diingat orang. Termasuk saya. Tapi setelah tahu ada versi reggae-nya, TENTU SAJA itu yang akan saya dengarkan terus 😁
Versi aslinya dari Bob Dylan juga keren maksimal. Saya jadi 'terpaksa' men-donlot-nya *eh 😁



7. Gentleman, Ky-Mani Marley ft. Marcia Griffiths - Simmer Down (The Wailing Wailers cover)

Hit dari grup vokalnya Bob Marley, Peter Tosh & Bunny Wailer ini dibuat lebih 'ramah' telinga remaja kekinian. Dan tentu saja asyik untuk berdansa-dansi [maafkan kejadulan istilah saya ini 😁].


PS: bagi yang tidak tahu, Marcia Griffiths ini seorang penyanyi Jamaika, yang kemudian bergabung dengan Rita Marley & Judy Mowatt dalam The I Threes, sebagai backing vocal-nya Bob Marley & The Wailers, setelah Peter Tosh dan Bunny Wailer keluar dari band.


8. J Boog - Cool Down The Pace (Gregory Issac cover)

Penyanyi dari Hawaii ini sudah memukau saya, sejak pertama kali saya mendengar lagunya yang berjudul "Let's Do It Again". Lagu-lagunya keren buat goyang-goyang jempol. hehe
Dan lagu cover-nya dari salah satu legenda reggae ini tentu saja asyik untuk didengar.



9. JC Lodge - Someone Loves You Honey (Charley Pride cover)

Beda versi, sama kerennya. Tapi tentu saja saya lebih sering dengar yang versi reggae [subyektif 😁]. Apalagi dengarin reggae klasik seperti itu, selalu buat hati riang gembira.



10. Jemere Morgan - Love Yourself (Justin Bieber cover)

Versi aslinya dari Justin Bieber sih asyik juga, apalagi dibuat akustik begitu. Tapi tentu saja saya lebih sering mendengarkan versi reggae dari keturunan 'punggawa' band reggae Morgan Heritage ini [lagi-lagi subyektif 😜].



11. Jordanne Patrice - Everytime We Touch (Cascada cover)

Sepertinya saya lebih suka yang versi reggae ini. Bukan karena yang aslinya jelek, tapi cuma masalah selera saja 😉



12. Little Roy - Sliver (Nirvana cover)

Tahun 2011, Little Roy (Earl Lowe)--seorang reggaeman dari Jamaika--merilis satu album cover yang berisi 10 lagu milik Nirvana yang ia aransemen ulang ke dalam irama reggae, dengan judul albumnya: "Battle for Seattle".
Lagu "Sliver" ini salah satunya.



13. Luciano - We Are The World (Michael Jackson cover)

Walau lagu milik King of Pop ini adalah salah satu everlasting hit, tapi  versi reggaenya ini juga asyik untuk didengar.



14. Ackee Jam - Happy (Pharrel Williams cover)

Walau tingkat riangnya [?] beda dengan versi aslinya, tapi tetap sama-sama bikin happy saat mendengarnya. Apalagi di tengah lagu ditambahkan permainan jimbe yang asyik itu.
Good job wotok han e. hehehe (← Maumere only joke-nya 😜).



15. Mikey Spice - Power of Love (Jennifer Rush cover)

Walau sudah terlena dan terbuai oleh suara emasnya Celine Dion di lagu ini, versi reggaenya tak kalah asyik untuk dinikmati. Apalagi dengan suara Mikey Spice yang renyah dan spicy begitu 😁

Btw, menurut Wikipedia, lagu ini aslinya milik Jennifer Rush, yang dirilis tahun 1984. Saya sempat cek versinya di yusup. Keren. Saya suka suaranya.



16. Naia Kete - Hometown Glory (Adele cover)

Reggae cover dari lagunya Adele dalam versi yang berbeda--dengan punya Black As Cole (no. 2)--yang tidak kalah asyik juga untuk didengar 😉



17. Romain Virgo - Stay With Me (Sam Smith cover)

Versi reggaenya ini terasa lebih menyenangkan untuk didengar bagi saya. Tidak terlalu mendayu-dayu seperti yang aslinya. Tapi saya suka juga versi asli itu. Keduanya ada di playlist saya.



18. Tessanne Chin - I Want To Know What Love Is (Foreigner cover)

Dari power ballad menjadi reggae.
Walau versinya Mariah Carey sudah mengisi relung hati terdalam, saya rasa 'olahan' Tessanne Chin ini masih bisalah nyempil-nyempil. hehe



19. Wayne Armond - Maggie May (Rod Stewart cover)

Saya yakin Rod Stewart lovers di luar sana juga pasti suka dengan versi reggaenya ini 😁



20. Ameena Caesar - Said I Love You But I Lied (Michael Bolton cover)

Lagu keren ini tidak kehilangan kesyahduannya di versi reggaenya ini. Apalagi suaranya Ameena Caesar enak begitu 😉



Cukup itu saja dulu rekomendasi reggaenya. Masih banyak reggae cover-reggae cover lain di yusup sana. CARILAH MAKA ENGKAU AKAN MENDAPATKANNYA. hehe 😜 Di rekomendasi reggae sebelumnya juga ada beberapa. Klik saja warna hijau di atas itu (di awal artikel ini).

Sampai jumpa di rekomendasi lagu reggae berikutnya ya dek! Salam buat mama mu 😉



Tabe!

Sabtu, 28 Januari 2017

50 Hal Yang Mungkin Bisa Ditemui di Taman Hutan Raya Djuanda

Tujuan saya ke daerah Dago Pakar di utara Bandung ini sebenarnya cuma untuk menyambangi kedai kopi yang sedang hits; Armor Kopi, yang berada di kawasan Taman Hutan Raya Djuanda.
Namun, karena masih pukul satu siang saat saya sampai di lokasi kedai kopi itu berada, dan juga karena 'diharuskan' masuk terlebih dahulu ke dalam Tahura, saya akhirnya memutuskan untuk keliling dulu beberapa jam baru menuntaskannya dengan ngopi-ngopi asoy penuh khidmat di bawah naungan pohon pinus.

Awalnya kawasan ini merupakan bagian dari kawasan hutan lindung Gunung Pulosari (1912). Tapi, demi mengenang pahlawan dari Tatar Sunda, diabadikanlah kawasan ini pada tanggal 14 Januari 1985 menjadi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda (*selanjutnya disebut Tahura Juanda saja), dengan harapan jiwa dan nasionalismenya akan menjadi suri tauladan generasi yang akan datang.

Menurut wikipedia, Tahura Juanda ini merupakan kawasan konservasi yang terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman. Luasnya mencapai 590 hektare membentang dari kawasan Dago Pakar sampai Maribaya.

Nah, selain tanaman dan pohon-pohon (selayaknya hutan) banyak hal yang mungkin bisa ditemukan di Taman Hutan Raya Djuanda, seperti yang berikut ini :

1. Curug Omas Maribaya

Ini adalah lokasi wisata yang mungkin paling utara dari Tahura Juanda, dengan ketinggian sekitar 30 meter, pada aliran sungai Cikawari. Di atas air terjun ini ada jembatan yang biasa dipakai untuk melintas serta melihat air terjun dari posisi atas.
Jaraknya sekitar 21 KM dari Bandung, tepatnya di sebelah timur Lembang (± 7 KM).

Untuk kesini bisa melewati Pintu I & II Tahura di Dago Pakar Barat (ditempuh dari arah Terminal Dago), Pintu III di Kolam Ahli (ditempuh dari arah PLTA Bengkok), atau Pintu IV di Maribaya (ditempuh dari arah Lembang) yang paling dekat dari Curug Omas Maribaya tersebut.

pic: cdn-finspi.com
2. Museum Ir. H. Djuanda

Ini mungkin sebagai pelengkap dari Tahura Juanda yang ditujukan untuk mengenang sang pahlawan nasional dari Ranah Sunda; Ir. H. Djuanda Kartawidjaja.

Di dalam ruangan berukuran 8 x 10 meter, tersimpan benda-benda kenangan beliau, juga berbagai macam penghargaan yang diterimanya seperti medali, kancing dan wings dari pemerintah RI dan berbagai negara.
Terdapat juga foto Pak Djuanda yang berukuran besar. Selain itu juga ada koleksi herbarium dan offset satwa serta artefak purbakala.

pic: www.jotravelguide.com [kiri]; www.thearoengbinangproject.com [kanan]
Ir. Raden Haji Djoeanda Kartawidjaja adalah Perdana Menteri Indonesia ke-10 sekaligus yang terakhir (9 April 1957 - 9 Juli 1959).

Jauh sebelum Ibu Susi Pudjiastuti 'memperjuangkan' hak para nelayan Indonesia akan kekayaan laut nusantara dengan menindak tegas para pencuri ikan dari negara lain sampai menghancurkan kapal-kapal mereka, Ir. Juanda dengan Deklarasi Djuanda-nya (13 Desember 1957) yang menyatakan bahwa laut-laut antarpulau pun adalah wilayah RI, menjadikan luas wilayah RI berganda 2,5 kali lipat dari 2.027.087 km2 menjadi 5.193.250 km2, sehingga kapal-kapal asing tidak boleh dengan bebas melayari laut Indonesia lagi seperti sebelumnya di zaman kolonial Belanda.

3. Karena penetapan kawasan Tahura Juanda ini ada peresmiannya, maka tentu saja di sini akan ditemukan semacam prasasti batu peresmian tersebut.

Tercatat di batu bulat tak sempurna tersebut-yang sayangnya bukan Bacan atau Pancawarna-Kebun Raya/Hutan Rekreasi Ir. H. Djuanda ini diresmikan oleh Gubernur Kepda Dt I Djabar; Brigdjen Mashudi, pada tanggal 23 Agustus 1965.


4. Goa Belanda

Pada awalnya, goa ini dibangun (1906) sebagai terowongan penyadapan aliran Sungai Cikapundung untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) oleh BEM (Bandoengsche Electriciteit Maatschappij).

Terowongan ini lalu beralih fungsi untuk kepentingan militer, di tahun 1918, dengan penambahan beberapa ruang di sayap kiri dan kanan terowongan utama. Yang lalu diperluas lagi menjelang Perang Dunia II (awal 1941), dan mendirikan stasiun radio komunikasi di sini sebagai pengganti Radio Malabar di Gunung Puntang.


Letak Goa Belanda ini sekitar 1 KM dari Pintu II Tahura yang ada di Dago Pakar Barat. Kalau dari Pintu I mungkin 1,5 KM. Jalan kaki juga bisa. Jangan manja 😝

5. Tebing Keraton

Wisata alam di utara Bandung ini sedang hits beberapa tahun belakangan. Dari atas tebing ini, kita bisa menyaksikan hijaunya pemandangan Tahura Juanda yang menghampar luas sepanjang mata memandang.
Katanya, akan lebih indah lagi ketika didatangi pagi-pagi buta. Kabut tebal yang menyelimuti hutan, ditambah sinar matahari terbit yang menyeruak, akan begitu memanjakan mata. Lebih lagi kalau ada yang manja-manja di balik dekapan.
Dekapan bapaknya 😝

pic: bintang.com
Cara menuju Tebing Keraton sama seperti mau ke Tahura Juanda/Armor Kopi, hanya saja setelah sampai Pintu I Tahura masih lurus terus (tidak usah masuk), nanti pas ketemu jalan bercabang (dekat warung) ambil kanan lewat Bukit Pakar Utara. Terus ikut jalan sampai ketemu Warung Bandrek. Tidak jauh dari situ ada cabang, ambil kiri, ikuti jalan terus sampai melewati pemukiman. Tidak jauh dari situ ada belokan ke kiri yang agak curam, ambil kiri. Kurang lebih 100 meter lagi akan ketemu gapura pintu masuk Tebing Keraton.

Tiket masuk Tebing Keraton mungkin 12.000 juga.

6. Armor Kopi

Ini alasan utama saya mendatangi Tahura Juanda.
Cerita lengkapnya silahkan klik di sini 👈 ingat warna hijau begini tandanya bisa diklik 😝


7. Goa Jepang yang dijadikan tempat foto pre-wedding


Seperti goa-goa Jepang pada umumnya, goa di Tahura Juanda ini juga difungsikan sebagai salah satu pendukung pertahanan Jepang yaitu tempat penyimpanan logistik, baik itu persenjataan dan amunisi lainnya serta sebagai tempat persembunyian tentara Jepang.

Di sini ada tiga pintu utama, dengan tiga lorong yang menghubungkan ketiganya. Luasnya sekitar 400 m2, sementara diameternya sekitar 4-5 meter, dengan ventilasi sekitar satu meter.
Dalam penelitian lanjutan, ditemukan indikasi adanya ruang hampa di bawah kantor Tahura yang terkoneksi dengan gua Jepang, yang disinyalir merupakan ruang utama goa sebagai tempat penyimpanan logistik (www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2016/05/19/goa-besar-tertimbun-di-tahura-369497).

8. Ada yang lucu di samping pohon pinus 😉

Neng Lutchu!
9. Rusa Timor unyu yang tak enggan untuk difoto


Di Tahura Juanda ini ada tempat penangkaran rusa asli Indonesia itu, yang bernama latin Cervus Timorensis.
Sama seperti anak-anak MTMA, di alam bebas, rusa ini juga menyukai pantai, padang rumput, semak belukar dengan pepohonan, dan dapat tinggal di dataran tinggi hingga 900 mdpl. Bedanya, saat 'traveling' rusa ini tidak memakai baju bertuliskan My Trip My Adventure dengan logo NatGeo disampingnya 😝

Selama menjelajah, rusa ini membuang berbagai biji buah-buahan yang dimakan, sehingga membantu penyebaran berbagai tanaman.

10. Kopi Tubruk beraroma jeruk dengan sensasi coklat racikan de Velaz Coffee House


Kedai kopi ini ada di samping/depan Armor Kopi. Namanya entah de Velaz, atau Jungle Preanger Coffee seperti cap di nota pembelian yang saya terima.

Suasananya lebih hening dari Armor Kopi, karena tidak begitu ramai pengunjung (setidaknya saat saya di sana waktu itu). Menyeruput kopi menjadi lebih syahdu di sini.

11. Pasang

Tanaman bernama latin Quercus Sp. ini ditanam bersama-sama oleh Ibu Tien Soeharto (istri Pak Harto), Pak H.M. Soeharto (suami Bu Tien), Ibu Juanda (Istri Pak Juanda) dan Pak Ismail Saleh, SH (Jaksa Agung), pada tanggal 14 Januari 1985.

Inilah bukti adanya budaya gotong royong di negeri kita 😁


12. Pria menggemaskan yang sedang selfie di pinggir jurang

Karena selfie adalah kebutuhan! 😝

demi menghindari isu hoax 😉
13. Sekumpulan pemudi-pemudi harapan bangsa di bawah Monumen Ir. H. Djuanda

Mudah-mudahan sepulangnya dari sini, mereka bisa meneladani jiwa dan nasionalisme sang mantan Perdana Menteri, seperti tujuan diabadikannya Tahura Juanda ini.
Tidak harus dengan membuat deklarasi seperti beliau, atau menenggelamkan kapal-kapal nelayan asing seperti Bu Susi Pudjiastuti, tapi minimal buang sampah pada tempatnya atau tidak boncengan bertiga pakai motor matic saja sudah cukup.


Ir. H. Djuanda Kartawidjaja wafat di Jakarta, 7 November 1963 (lahir: Tasikmalaya, 14 Januari 1911), karena serangan jantung dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 244/1963, beliau diangkat sebagai tokoh nasional/pahlawan kemerdekaan nasional.

14. Trio Air Terjun

yaitu Curug Koleang, Curug Kidang dan Curug Lalay.
Letaknya tidak terlalu jauh. Masing-masing hanya sekitar 1,1 KM, 2 KM, dan 2,5 KM dari lokasi Goa Belanda berada.

*maaf fotonya tidak ketemu. hehehe


15. Penjual jagung bakar

Walaupun tidak sebanyak di sepanjang jalan raya Puncak, tapi lumayan untuk sekedar mengisi perut yang mungkin saja lapar setelah keliling-keliling Tahura Juanda ini.


16. Pohon Sosis

Nama latinnya: Kigelia aethiofica Decne, dari famili: Bignoniaceae, yang berasal dari Amerika Tropis.
Pohon ini bisa ditemui di depan prasasti batu peresmian Tahura Juanda, yang tidak jauh dari Monumen Ir. H. Djuanda berada.

Sepertinya tidak ada hubungannya dengan makanan bulat panjang yang iklannya selalu ada atlit-atlit perebut medali itu. Tapi kalau penasaran, silahkan melakukan riset sendiri. Jangan ajak-ajak keluarga atau teman. Kasihan mereka.

ada yang mau makan sosis?
17. Prasasti sejarah dalam Goa Belanda

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, goa ini dibangun sekitar tahun 1906.
Nah, yang menjadi pertanyaan, kenapa di tahun itu ada MANUSIA BATU yang membuat prasasti ini? Padahal mereka sudah dinyatakan punah sejak puluhan ribu tahun lalu.
Mungkinkah ada kesalahan penelitian atau ada 'typo' pada catatan sejarah?
Lalu apa arti dari prasasti ini? Apakah ada pesan tersembunyi dibaliknya?
Dan buat apa MANUSIA BATU membentuk Jony Squad? Apa ingin melawan Suicidal Squad-nya Will Smith dkk?
Juga kenapa prasasti ini tidak ditulis di batu atau lempengan logam atau daun, seperti biasanya?
Pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan riset mendalam oleh para ahli Epigrafi untuk menjawabnya.

apa ya artinya?
PS: untuk melihat 'prasasti sejarah' ini, kalian harus bawa senter, karena dalam gua memang sangat gelap. Abaikan tawaran senter dari para 'penunggu' di depan gua, karena perjalanan yang sebentar tadi akan 'berbuah' biaya sewa senter sebesar 30ribu rupiah. Walau waktu itu saya cuma kasih 10ribu, tapi tetap saja itu SAKIT tau.

18. Seekor anjing lucu yang sayangnya tidak dirawat dengan baik oleh pemiliknya. hiikz!


19. Wisata Hammock Tahura

Bagi yang ingin berleha-leha sambil foto-foto ala IGO hits di Instagram, silahkan kesini. Adanya persis di sebelah kanan setelah masuk Pintu I. Tidak jauh dari Armor Kopi.
Biaya untuk 'bergelantungan' di sini sebesar 20ribu rupiah. Sebagian hasil pendapatan dari wisata hammock ini akan didonasikan ke program lingkungan. Jadi kalian bisa hits, tapi juga mendapat pahala, sehingga bisa suci tanpa noda seperti kata Awkarin & Young Lex.


20. Dua sejoli yang sedang dimabuk asmara, berpelukan sepanjang jalan kenangan, menikmati udara Tahura Juanda yang adem-adem manja.


21. Batu Batik

Kenal Dayang Sumbi kan?
Itu si ibu-ibu geulis yang bersuamikan Tumang; si anjing. Yang lalu dikejar-kejar ingin dinikahi oleh Sangkuriang; anaknya sendiri.

Nah, batu ini disebut juga Batu Selendang Dayang Sumbi.
Tapi bukan karena selendangnya durhaka lalu dikutuk ibunya. Batu ini merupakan aliran lava yang membeku, yang membentuk alur-alur seperti motif batik.

pic: travel.detik.com
Jaraknya hanya sekitar 2,3 KM dari Goa Belanda. Silahkan disambangi. Tapi tolong jangan dicungkil buat bahan batu cincin ya! 😉

22. Mahoni Uganda yang besar, keras, berurat & menjulang tinggi

Di Tahura Juanda ini ada sekitar 2.500 jenis tanaman, yang terdiri dari 40 familia & 112 species.
Pohon dari Afrika Tropis ini salah satunya, yang cukup banyak ditemukan di sini. Termasuk dalam famili; Meliaceae, dengan nama latin; Khaya anthotheca C.Dc.


PS: yang bingung dengan pembagian famili & species itu, silahkan kembali ke SMP lagi 😉

23. Ada yang ngopi-ngopi berdua penuh cinta di bawah pohon pinus


24. Pemuda harapan bangsa, yang sepertinya berat sekali beban hidup yang dia tanggung


25. Jembatan biru yang dijadikan tempat foto pre-wedding

Oleh pasangan calon pengantin, fotografer, dan mbak-mbak tim hore yang sama seperti di Goa Jepang.


26. Curug Dago dengan Prasasti Raja Thailand

Air terjun mungil yang dulu membuat saya bolak-balik mencari di sekitar Terminal Dago ini juga masuk dalam Kawasan Tahura Juanda. Lokasinya jauh sendiri. Tidak perlu harus sampai ke Dago Pakar Barat.
Jalan menuju curug ini tidak jauh dari Terminal Dago. Silahkan baca di sini [👈 klik ya], untuk cerita lebih lanjutnya 😉



27 - 50. Kata nenek saya; "spoiler itu DOSA....!!!"

Jadi nanti cari sendiri ya kalau sudah sempat mengunjungi Tahura Juanda ini.
Biar penasaran!



Tabe!



PS:
> Kunjungan ke Tahura Juanda bisa setiap hari: 08.00 - 18.00.
> Biaya masuk Tahura Juanda: 12rb/orang (per September 2016).
> Angkot menuju Tahura Juanda (Pintu I)/Armor Kopi Bandung: naik angkot apa saja yang arah Dago. Turun di terminal. Dari Terminal Dago sekitar 1,5 KM. Bisa naik ojek. Jalan kaki juga dekat (kalau sanggup).
Angkot yang Kalapa - Dago kadang suka antarin sampai pertigaan Jl. Dago Pakar Barat (ditanya saja ke sopir), baru lanjut jalan kaki (kalau mampu) atau pakai ojek. Dari situ sekitar 600 meter lagi.
*sayang, Armor Kopi & de Velaz Coffee House/Jungle Preanger Coffee sudah tutup per Oktober 2016 lalu karena masalah perizinan 😓