Kamis, 31 Oktober 2019

Kembali

Jakarta itu istimewa bagi saya.
Hampir setengah perjalanan hidup, kuhabiskan di sana. Kembali kesana seolah kembali ke rumah kedua.

Dua tahun selepas saya tinggalkan untuk pulang ke Flores, ada yang berubah dari Jakarta, walau yang lain masih tetap seperti sediakala.
MRT yang dulu masih dikerjakan, kini sudah mulai beroperasi untuk rute Lebak Bulus - Bundaran HI, sejak diresmikan oleh Presiden Jokowi, bulan Maret lalu. Mempermudah, pun mempercepat perjalanan Jakartans menuju tempat-tempat yang dilewati oleh si kereta cepat.

Trans Jakarta [yang suka disebut Busway 😁] sudah menambah jalur hingga menjamah setiap titik kota, sampai daerah pinggiran Jakarta, dengan banyaknya armada bus pengumpan yang siap melayani warga. Murah, mudah & nyaman.

Stasiun Tanah Abang (dan mungkin stasiun lain) berbenah diri menjadi lebih baik lagi, lebih rapi, pun menjadi begitu keren sekali.

Trotoar di sepanjang jalur Sudirman memberi kenyamanan yang sungguh bagi para pejalan kaki. Walau nihilnya pepohonan rindang, membuat sengat matahari begitu terasa sekali.
Pun beberapa JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) seperti di Bundaran HI dan Polda Metro Jaya yang begitu modern terlihat.

Pasar Senen yang dulu sempat terbakar, sudah dibangun menjadi sangat modern. Blok sisanya di sebelah pun sudah dirobohkan, dan entah mau dibuat seperti apa lagi nanti.
Bagus, walau imbasnya bagi orang-orang seperti saya yang biasa 'langganan' pakaian-pakaian ori second hand (Rombengan kalau di MOF 😁), kue-kue beranekaragam yang sangat murah di Pasar Pagi-nya, juga pembuatan kostum olahraga/baju lainnya yang murah, menjadi kehilangan tempat. Mungkin saja ada yang tetap berjualan di sana, tapi tentu saja harganya pasti lebih mahal [mungkin ya] karena pajaknya yang pasti naik dengan kondisi yang modern seperti itu.
Mencari buku-buku loakan murah pun, pasti jadi lebih susah, karena setelah para penjualnya 'terusir' dari jalanan Kwitang, mereka lalu pindah ke Pasar Senen situ, dan entah sekarang pindah kemana lagi.

NAMUN,

Kemacetan tetap menjadi momok yang tak berujung.
Entahlah. Dari dulu segala solusi dan kebijakan yang dibuat selalu 'mentok', tak berpengaruh apa-apa. Terakhir, pemberlakuan aturan pembatasan lalu lintas dengan sistem ganjil genap dari Pemda DKI, tetap tak membantu.

Langit Jakarta masih tetap bermuram durja dengan tampilan warna putih ditingkahi abu-abu. Dulu masih bisa kita lihat biru langit yang muncul malu-malu.
Tampilan yang tak pelak memberi predikat kota paling polusi sedunia versi airvisual.

Warga masih tergesa-gesa, selalu diburu waktu. Lanjut tidur di perjalanan, habis umur.

Pengendara masih saja lewat trotoar. Seenaknya. Tidak peduli ada yang bersungut-sungut karena haknya dilanggar.
Ojek online malah menambah masalah baru. Mangkal sembarangan. Kendaraan diparkir seenaknya di pinggir-pinggir jalan.

SEMENTARA ITU.

Pecel lele si Ibu, depan kantor dulu, masih nikmat apaadanya. Sambalnya masih menggelitik lidah, memaksa tambah porsi.

Abah tukang sol sepatu langganan, tetap duduk manis di depan Stasiun Pangeran Jayakarta, menanti para pekerja yang robek sepatunya dan membutuhkan jasa si Abah.
"Ya cuma ini aja yang bisa Abah lakukan dek", begitu katanya.

Pasar Kaget Pecah Kulit masih ramai saja. Masih menyediakan segala macam barang dengan harga yang sangat terjangkau. Tetap seperti dulu, menjadi 'surga' bagi manusia-manusia kere penghuni Mangga Besar dan sekitarnya. Seperti saya. ha-ha-ha

Plaza Lokasari di dekat kosan, tempat belanja bulanan, masih berseliweran perempuan-perempuan wangi, dandanan menor o-em-ji, dengan pakaian yang sungguh mini.
Menggoda mata, membangkitkan hasrat. Ah....sudahlah !!!

Jl. Medan Merdeka Selatan, di sekitar Kedubes Amerika sampai Balai Kota, masih membuka memori pahit, saya dikeroyok belasan polisi, saat bentrok aksi demonstrasi. Bibir luka, leher sakit luarbiasa, kaki tak bisa tekuk seminggu lamanya. Ah 😏 

Affogato Orgasm masih belum bisa juga kucicipi, walau balik lagi ke kedai Filosofi Kopi untuk ketiga kali.

Dan Monas masih tetap berdiri di sana, belum juga pindah. Eh. ha-ha-ha

Sudahlah,  ku akhiri saja tulisan receh ini.

Seorang teman bertanya, apa saya terbersit niatan kembali melanglangbuana lagi di Jakarta.
Magnetnya mungkin masih ada, tapi sayang, ada damai yang begitu terasa kala di kampung, di dekat keluarga. Juga MOKE tentu saja 😆
Toh sebentar lagi, ibukota negara pindah ke Kalimantan, dan Jakarta pun jadi kampung juga. ha-ha-ha



Tabe!