Kususuri lorong asa
Sempit, berlumpur dan tak bercahaya
Bagai labirin tak berujung di dasar dunia
Tiada seorang pun yang berbelarasa
Berjuang sendiri dengan segala daya
Sakit. Sedih. Tangis. Lelah
Hanya satu harapan di dalam jiwa
Ada bias cahaya di depan sana
Cahaya cinta, cahaya bahagia
Dan aku pun berjaya, tertawa
Sebelum raga menuju nirvana
-Paul de Chivo-
Kos Mabes, 03 Agustus 2013
Senin, 02 September 2013
Jumat, 23 Agustus 2013
Anjing
Di rumah putih besar itu ada anjing
Menggonggong setiap hari layaknya anjing
Tentu....Kalau mengembik pasti bukan anjing
Ada tamu yang datang, menggonggonglah si anjing
Ada pemulung lewat, menggonggong juga si anjing
Pengemis, pengamen, tukang pos, Pak RT bahkan Presiden pun digonggongi si anjing
Saat datang debt collector, berkelahilah mereka dengan si anjing
Hanya dengan big boss dia patuh, karena itu majikannya si anjing
Yes. Si Bos memang pecinta anjing
Herder, Bulldog, Golden Retriever, Kintamani. Semuanya anjing
Disayang bagai anak sendiri. Makan tiga kali sehari. Makanan anjing
Dimandiin. Dikeramasin. Pakai shampo anjing. Di kamar mandi anjing
Tidur di kasur anjing. Pakai bantal anjing
Itulah si anjing
Bukan si Bos yang anjing
Tapi si Bos punya anjing
Nyolong duit rakyat buat beli anjing
Manjain anjing. Foya-foya bersama anjing
Sementara rakyat tidur di samping kotoran anjing
Sambil mengumpat : "Woy anjing! Balikin duit gue anjing! Dasar ANJING!"
-Paul de Chivo-
Busway, 03 Agustus 2013
Menggonggong setiap hari layaknya anjing
Tentu....Kalau mengembik pasti bukan anjing
Ada tamu yang datang, menggonggonglah si anjing
Ada pemulung lewat, menggonggong juga si anjing
Pengemis, pengamen, tukang pos, Pak RT bahkan Presiden pun digonggongi si anjing
Saat datang debt collector, berkelahilah mereka dengan si anjing
Hanya dengan big boss dia patuh, karena itu majikannya si anjing
Yes. Si Bos memang pecinta anjing
Herder, Bulldog, Golden Retriever, Kintamani. Semuanya anjing
Disayang bagai anak sendiri. Makan tiga kali sehari. Makanan anjing
Dimandiin. Dikeramasin. Pakai shampo anjing. Di kamar mandi anjing
Tidur di kasur anjing. Pakai bantal anjing
Itulah si anjing
Bukan si Bos yang anjing
Tapi si Bos punya anjing
Nyolong duit rakyat buat beli anjing
Manjain anjing. Foya-foya bersama anjing
Sementara rakyat tidur di samping kotoran anjing
Sambil mengumpat : "Woy anjing! Balikin duit gue anjing! Dasar ANJING!"
-Paul de Chivo-
Busway, 03 Agustus 2013
Senin, 19 Agustus 2013
Dirgahayu Negeriku
Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Lagu dari H. Mutahar itu terngiang kembali di kepala saya. Lagu yang terakhir saya nyanyikan saat masih SD. Dan Sabtu kemarin seakan mengiringi perjalanan saya menuju Istana Negara.
Hari Sabtu, 17 Agustus 2013 kemarin tepat 68 tahun kemerdekaan Indonesia. Saya memutuskan untuk melihat secara langsung upacara pengibaran Sang Saka Merah Putih. Entah kenapa, tiba-tiba terbersit keinginan itu.
Saya sempat mengajak seorang teman, tapi dia tidak mau karena takut ada bom disekitar situ. hhmm...Memang agak sedih mendengarnya, tapi saya maklumi, dengan melihat negara kita yang beberapa kali mengalami hal buruk itu, wajar saja kalau ada ketakutan seperti itu. Terakhir ledakan bom terjadi di Vihara Ekayana, 04 Agustus 2013 lalu.
Walau kadang beberapa kejadian ledakan bom terkesan seolah 'disetting', karena berbarengan dengan beberapa kasus besar yang terbongkar (seolah untuk pengalihan isu).
Namun ketakutan teman saya itu tidak mengurungkan niat saya, karena saya percaya dengan kinerja tentara kita dalam melakukan pengamanan acara super spesial seperti apel perayaan hari kemerdekaan ini.
68 TAHUN.
Kata seorang reporter sebuah stasiun televisi kemarin, ibarat manusia, usia Indonesia saat ini masih bayi, masih harus tetap berusaha agar bisa 'berjalan dengan lancar'. Ah saya tidak setuju. Negara kita ini sudah tua dan di usia pra-masa keemasan ini, seharusnya 'kita' sudah bisa menikmati apa yang telah dirintis puluhan tahun silam. Hanya saja, kita terlihat seolah masih 'bayi', karena masih saja berkutat dengan berbagai masalah yang bisa dibilang sangat kompleks, yang membutuhkan kerja ekstra agar cita-cita reformasi bisa sepenuhnya tercapai.
Karena sudah tua, tapi tidak 'menjaga diri' dengan baik dan benar, maka berbagai macam 'penyakit' makin menggerogoti setiap sendi negara ini, yang belum bisa terobati. Dan seharusnya di usia seperti sekarang ini, 'kita' sudah menemukan formula yang tepat untuk mengatasi hal-hal tersebut.
Dan jika sudah ada formula itu, maka harapannya agar negara kita ini cepat mendapatkan stabilitas di segala bidang. Sosial. Politik. Ekonomi. Hukum. Budaya. Pariwisata. Dan lain-lain.
Pemerintahan yang bersih, amanah dan benar-benar mencurahkan seluruh kemampuannya untuk memajukan Indonesia.
Wakil rakyat yang benar-benar mewakili rakyat, bukan mewakili si ini, si itu, si anu, si kampret, si bangsat, atau si yang lainnya.
Para koruptor dan 'pemakan' uang rakyat bisa dihilangkan dari negara kita ini. Konglo-konglo busuk yang hobi titip pasal dimasukkan ke kandang macan. Mafia hukum dan makelar kasus pun ikut diberangus.
Makin terciptanya kesejahteraan bagi rakyat, sehingga kesenjangan sosial makin menipis.
Tidak perlu harus mengimpor lagi 'breakfast, lunch & dinner' untuk rakyat.
Tersedianya lapangan kerja, sehingga para pahlawan devisa nun jauh disana, bisa pulang dan bekerja disini, sehingga tidak perlu lagi diperlakukan tak layak di negeri orang.
Terjaminnya keamanan bagi rakyat dimana saja berada.
Tak ada lagi manusia-manusia arogan dan sok suci yang petantang petenteng dengan congkaknya.
Semua umat beragama melakukan ibadah dengan tenang, tanpa perlu was-was dan takut lagi kalau rumah ibadahnya digusur.
'Makhluk-makhluk asing' yang menginvasi negeri ini segera 'kita' kick their fuckin' ass out from this country.
Semua gembong narkoba, human traffiking, dan sejenisnya, yang bisa merusak generasi muda, tidak lagi mendapatkan tempat disini. Dan teroris pun kita buat meringis.
Tidak lupa semoga bangsa ini tetap berdiri kokoh berlandaskan 4 pilar kebangsaan (NKRI, Pancasila, UUD '45, Bhinneka Tunggal Ika).
Masih banyak sekali sebenarnya harapan untuk negeri ini.
Namun mungkin benar kata Sang Proklamator, Bung Karno : "REVOLUSI INI BELUM SELESAI'.
Yapz. Revolusi, perjuangan ini memang belum selesai. Jangan sampai harapan itu hanya sekedar harapan, bahkan menjadi harapan nan sirna. Kita semua harus bahu membahu mewujudkannya. Disaat pemerintah seakan tak tahu arah, sarat akan kepentingan partai didalamnya dan cenderung galau berjamaah, kita sebagai rakyat Indonesia (khususnya generasi muda), tidak boleh tinggal diam dan hanya menuntut kerja nyata pemerintah saja.
"Bangun pemudi pemuda Indonesia. Tangan bajumu singsingkan untuk negara. Masa yang akan datang kewajibanmu lah. Menjadi tanggunganmu terhadap nusa"
Jangan menganggap itu cuma sekedar lagu yang hanya dinyanyikan saat apel 17an, saat ujian sekolah atau saat demo. Jadikan lagu itu pedoman hidup dan pemberi semangat untuk mulai berkarya dan berkontribusi dalam membangun bangsa. Saatnya kita bergerak untuk mewujudkan Indonesia Raya yang BERJAYA, BERDAULAT, ADIL dan MAKMUR, sehingga seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke - Miangas sampai Pulau Rote, bisa merasakan kemerdekaan yang sebenarnya. Bukan kemerdekaan semu seperti sekarang ini.
Tidak harus besar dan luar biasa, cukup lakukan yang sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, in our own way. Just do it...!!!
Walaupun balik lagi, peranan pemerintah adalah yang paling utama, karena kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat tergantung pada kebijakan dan kinerja pemerintahnya.
Terakhir saya tutup dengan sebuah ungkapan dari salah satu proklamator kita, Mohammad Hatta :
"Indonesia MERDEKA bukan tujuan akhir kita. Indonesia Merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat"
DIRGAHAYU NEGERIKU
Jumat, 16 Agustus 2013
Pak Sebas & Apel Perpisahannya
Hampir sebulan tidak menulis, sejak postingan terakhir saya. Biasa, buntu ide jadi mati gaye. hehe
Tapi gara-gara beberapa hari lalu diingatin teman saya tentang seorang guru waktu SMP dulu, sepertinya saya harus menulis cerita ini.
Ini sebuah cerita yang bisa dibilang tragis, sedih, menyebalkan dan tidak akan pernah terlupakan seumur hidup.
Saya lupa pastinya kapan kejadian ini. Yang saya ingat kalau tidak salah waktu itu masih awal-awal semester 1, saat saya kelas 3 SMP, jadi kira-kira September/Oktober tahun 1999/2000.
Jadi, sebelum pulang, ada pengumuman dari guru yang mengajar mata pelajaran terakhir, bahwa akan ada apel perpisahan dengan Bapak Sebas (Guru Fisika), karena akan pindah tugas ke Pulau Sumba. Pengumumannya tidak pakai speaker, maklum sekolah di kampung :D
Setelah lonceng pulang sekolah dibunyikan, kami langsung ke lapangan dengan MALAS. Siang-siang di Flores itu panasnya bisa bikin pusing 777 keliling. Ditambah lagi, Pak Sebas ini tidak pernah mengajar kami, karena adanya sistem 'bawa kelas', dimana dari kelas 1 sampai kelas 3, gurunya sama. Jadi tidak hanya muridnya yang naik kelas, gurunya juga, bahkan wali kelasnya pun sama juga. Entah apa maksud dan tujuannya.
Tidak ada komandan upacara, jadi semua mandiri mengatur barisannya sendiri per kelas.
Satu per satu guru yang berwenang (kepala sekolah & jawatannya), maju memberikan sepatah dua kata (padahal banyak) sebagai salam perpisahan untuk beliau (Mr. Sebas). Dan terakhir giliran yang empunya acara memberikan kata-kata mutiara untuk anak didiknya, sebelum meninggalkan sekolah ini.
Saya tidak tahu apa yang dikatakan oleh beliau, karena memang sengaja tidak mendengarnya. MALAS. Tinggal pergi juga, masih saja banyak cakap. Say goodbye aja lah. Simple...
Dan, namanya remaja yang baru akil balik, gejolak kreatifitasnya kan menggebu-gebu, makanya waktu itu saya dan beberapa teman di barisan belakang asyik-asyik saja bermain dan bercanda. Kreatif kan?? ;)
Saya lupa waktu itu kami bercandanya bagaimana dan siapa yang memulainya terlebih dahulu. Mungkin kalau kami ada di masa sekarang, kami sudah ber-gangnam style atau ber-harleem shake ria disana. Jadi analisa saya, jangan-jangan waktu itu kami ber-SKJ (Senam Kesegaran Jasmani). hehe...
Ah lupakan...
Singkat kata. Singkat cerita.
Tiba-tiba kami sudah keluar dari barisan kelas 3A (maklum awak pintar), dan tiba-tiba juga Pak Sebas sudah berada di depan komuk imut saya, dan tiba-tiba lagi semua teman saya yang tengil, kampret, kacrut itu sudah berdiri rapi di barisan, meninggalkan saya sendirian. TEGA.
Dan sampai sekarang masih jadi pertanyaan bagi saya, kok bisa mereka secepat itu kembali ke barisan. Padahal belum ada berita (saat itu), kalau Flash menurunkan ilmu cepatnya ke orang lain.
Di hadapan saya, Pak Sebas terlihat seperti Dr. Bruce Banner yang mulai berubah menjadi Hulk. Otot-otot membesar, baju mulai terkoyak, tubuhnya bukan jadi ijo tapi merah, muncul tanduk dan ekor. Persis seperti Hell Boy. Lho??!!
Saat itu sih saya berharap menjadi Man Of Steel yang memegang Perisai Captain America dan Godam Mjolnir milik Thor, agar bisa melawan 'makhluk buas' di depan saya ini, atau ada BatMobile, jadi bisa kabur secepat kilat.
"Kau ikut saya ke depan!!!!!", teriak Pak Sebas.
Dengan langkah gontai dan berat hati, terpaksa saya jalan ke depan barisan. PASRAH.
Sampai di depan, saya tiba-tiba gemetaran (kalau gempa, pasti berpotensi tsunami), setelah melihat Pak Sebas menuju ke arah salah satu kelas. Dengan kemampuan menerawang bak Ki Joko Bodo, mata saya langsung tertuju ke arah pagar bambu di TMIK (Taman Mini In depan Kelas #maksa :D). Dan ternyata benar, dia langsung mencabut salah satu pagar bambu itu yang ternyata cukup panjang (± 50 cm).
Si ksatria berpagar bambu itu kembali menghampiri saya. Dan dengan gaya ala Travis Barker 'Blink 182' dikolaborasikan dengan Jerinx SID, dia langsung melancarkan aksi gebuk menggebuk, seolah punggung saya ini drum merk Yamaha.
Punggung rasanya perih luar biasa, ditambah sakit hati saat melihat pecahan bambu jatuh satu per satu ke lantai. D.A.M.N..!!!
Tapi, dalam hati saya bertekad tidak akan menangis walau sakit. Gila kali nangis di depan junior-junior yang baru masuk. Gue harus bisa setegar dan sekuat pasukan Spartan, walau gak sixpack. GANBATE..!!
Setelah penganiayaan itu berakhir (PUJI TUHAN..!!), dengan santainya dia menyuruh saya masuk barisan kembali, tanpa rasa bersalah dan simpati sedikit pun. Cih..!!
Saat perjalanan pulang ke rumah, tidak ada satu pun teman yang menggoda saya. Mungkin mereka iba dan tidak tega.
Saya tau kalau punggung saya memar-memar (kalau ada yang tidak percaya, sini saya pukul punggung kalian biar tau), tapi luka ini harus kubawa berlari, berlari, hingga hilang pedih perih (itu kata Chairil Anwar).
Sejak saat itu, bahkan sampai sekarang, saya tidak bisa melupakannya, dan belum bisa menerima perlakuan itu. Bukan karena dipukul (itu sudah biasa di dunia persilatan), tapi karena yang memukul saya itu Pak Sebas, guru yang tidak pernah menurunkan 'ilmu kanuragannya' kepada saya, bahkan menegurnya pun bisa dihitung pakai jari.
Ditambah lagi, itu hari terakhir dia di sekolah. Batang hidungnya tidak akan terlihat lagi mulai besok dan seterusnya. S.H.I.T...!!!
Seandainya waktu itu praktek kekerasan oleh guru tidak lumrah, trus saya sudah melek hukum, dan UU Perlindungan Anak sudah ada, mungkin sudah saya laporkan ke polisi, dan mungkin Pak Sebas tidak jadi pindah tugas ke Sumba tapi malah ke 'Hotel Prodeo'. Lumayan kan 3,5 tahun dipenjara dan/atau denda 72 juta rupiah (pasal 80 UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak). hehehe
Sudahlah. Yang lalu biarlah berlalu.
Jadikan itu sebagai bagian cerita hidup saya. Kan dalam hidup pasti ada manis, ada pahit. Ada bahagia, ada sedih. Ada Pak Sebas, ada bambu, ada memar di punggung. *eh
Kapan ya kita ketemu lagi pak??
Coz dulu sehabis dipukul, saya lupa jabat tangan Bapak =))
Jumat, 19 Juli 2013
Pemuda Bicara Perubahan
Kali ini sedikit serius bahasannya (mudah-mudahan). Saya ingin me-review bukunya Pandji Pragiwaksono : Berani Mengubah (entah ini termasuk book review atau bukan). Kalau ini termasuk book review, berarti this is the 1st time. Kalau bukan, ya udah lah ya. hehe
Om Pandji ini menurut saya adalah salah satu dari sekian banyak pemuda terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini. Kenapa saya bilang banyak? Karena memang banyak :D, hanya saja rezim media kita saat ini cuma menjejali otak kita dengan segala hal yang menimbulkan sifat skeptis dengan Indonesia, khususnya generasi muda.
Dia (Pandji) memberikan banyak inspirasi buat pemuda Indonesia yang lain, lewat karya-karyanya seperti Nasional.Is.Me, Merdeka Dalam Bercanda, Berani Mengubah (buku); bit-bit yang berkualitas dan mendidik saat beraksi sebagai komika (Stand Up Comedy); rima-rima ciamik dan nasionalis di lagu-lagunya (HipHop); kepeduliannya dengan anak-anak penderita kanker (pendiri YPKAI); tulisan-tulisan di blognya yang sering saya baca :D; etc.
Jadi, bagi kalian yang hanya mengenalnya dari acara Kena Deh!, berarti anda belum move on.
Oh iya, kami sama-sama fans MU lho (out of context. lupakan).
Pujian saya diatas sejalan dengan pendapat dari beberapa orang di halaman awal buku Berani Mengubah ini. Yang paling saya suka itu pendapatnya Wahyu Aditya (HelloMotion), yang menjadikan nama PANDJI sebagai akronim dari Produktif, Aktif, Nasionalis, Dedikasi, Jujur, Inspiratif. Cucoook cin!
Oke, cukup puja-pujinya, sebelum si Pandjistelroy nyebur ke laut dan lupa daratan :))
Back to the topic!
Baru membaca bab paling awal (Setelah Nasional.Is.Me), yang bisa dibilang bab prakata (mudah-mudahan benar), saya seakan ditampar oleh guru Bahasa Inggris saya di SMP yang punya telapak segede gaban.
Damn! I'm doing nothing for this country!
Saya masih sekedar bermimpi untuk membuat sebuah perubahan, tapi belum bisa melakukan sesuatu. Masih berkutat dengan permasalahan pribadi saya sendiri. hhmm...
"Apabila Anda siap berjuang, silahkan masuk ke halaman pertama untuk memulai perjuangan Anda", ini adalah sebuah tantangan dari Om Pandji, yang sebenarnya (menurut saya) bukan hanya 'perjuangan' untuk membaca buku ini sampai habis, tapi ada arti tersirat dibaliknya yaitu memulai perjuangan untuk Indonesia yang lebih baik.
Dan, ternyata halaman berikut buku ini memang menunjukkan bahwa buku ini serius dan menuntut 'perjuangan' untuk membacanya, terutama bagi kaum alay.
POLITIK. Sesuatu yang dulu (sebelum masuk kuliah) selalu saya jauhi, karena takut mengurangi kualitas hidup saya yang ciamik dan penuh canda tawa.
Ajakan Pandji dalam bab ini untuk mengenal politik lebih jauh, memang ada benarnya. Karena kita tidak akan terlepas dari kebijakan-kebijakan politik penyelenggara negara, yang tentunya berpengaruh pada hidup kita kapanpun dan dimanapun kita berada, sebagai warga negara Indonesia. Dan saya sudah menyadari hal itu sejak kuliah, sehingga saya menjadi lebih peka dengan hal-hal berbau politik, juga tingkah pola para politisinya.
Bagaimana bisa negara ini maju (seperti harapan kita semua), jika kita memilih penyelenggara negara yang salah? Itulah kenapa kita harus tahu dan mendalami politik. Kita harus bisa mengetahui siapa yang benar-benar tulus dan siapa yang hanya ingin meraih keuntungan lewat jabatan. Kita juga harus tahu siapa yang pantas dipilih dan siapa yang tidak pantas. Kita harus bisa lebih peka dengan praktek politik busuk, money politics, politik pencitraan dan sejenisnya, yang justru sekarang ini lagi gencar-gencarnya dilakukan oleh tikus-tikus berdasi itu. Juga lobi-lobi politik oleh partai dalam pengambilan keputusan, yang bagi orang awam mungkin akan mengira itu adalah bentuk keberpihakkan pada rakyat, padahal ada agenda kepentingan partai dibelakangnya.
Seperti kata Om Pandji, "Semakin kita buta politik, semakin mereka memanfaatkan kebutaan kita".
Hal yang tidak kalah penting dari politik adalah kesadaran hukum.
Ceritanya Om Pandji tentang tilang itu adalah satu dari sekian banyak masalah sepele yang memiliki efek sangat besar ke depannya. Bagaimana kita bisa punya penegak hukum yang bersih, kalau dikit-dikit 'damai'. Coba lihat akibatnya. Bahkan walau kita tidak minta 'damai' pun, kadang polisinya sendiri yang menawarkan. See?
Bagaimana dengan penyusunan RUU di DPR, yang rentan adanya 'pasal titipan'? Atau penegakkan hukum di Indonesia yang juga masih 'melapangkan' praktek 'jual-beli kasus'. Semakin kita tidak peduli, akan semakin lemah penegakkan hukum di negara ini, sehingga akan semakin merajalela pula kejahatan dan ketidakadilan. Apalagi, sisi negatif manusia kan memang sudah tertanam dalam diri, jadi kalau ada waktu yang pas dan semesta mendukung, jadilah itu barang. hehe
Benar tuh kata Glaucon, kalau manusia hanya akan berbuat baik dan adil dalam hidup, ketika ada dihadapan orang lain. Kalau kata Bang Napi mah kejahatan terjadi karena ada kesempatan atuh. Waspadalah! :D
Selain kedua hal diatas, yang tidak kalah penting juga adalah masalah ekonomi.
"Political reform starts from economical reform". Yapz, ekonomi adalah elemen penting dalam penyelenggaraan suatu negara. Simpel-nya, untuk jadi negara yang maju itu butuh duit (mau cewek cakep aja mesti berduit kan :D). Nah disitulah peran dari si ekonomi ini. Jika kebijakan pemerintah bisa menyebabkan perubahan ekonomi yang lebih baik, maka rakyat akan lebih makmur, pendidikan lebih terjangkau, masyarakat jadi cerdas dan kritis, sehingga negara kita bisa menjadi negara yang hebat.
Dan untuk mewujudkan hal-hal itu, yang harus kita lakukan adalah lebih giat dalam mengontrol kebijakan-kebijakan pemerintah. Itulah kenapa kita dituntut untuk punya kepekaan dan kesadaran akan politik tadi.
Tapi, kesadaran itu tidak akan bisa timbul dalam diri kita, bila kita sendiri tidak mengenal negara Indonesia dengan baik. Gimana bisa cinta, kenal aja kagak. Ya kan?. Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka pasti dicuekkin, diselingkuhin, dianggurin, dijerukin, ditomatin. Apalagi ketidaksadaran itu justru sangat akut dalam diri wakil rakyat kita sendiri. Hal yang membuat daerah-daerah diluar (maaf) Pulau Jawa, seperti sangat jauh dari radar pemerintah pusat, sehingga pembangunan daerah seolah hanya mimpi di siang bolong. Dalam hal ini, saya juga menyalahkan diri sendiri yang belum bisa berkontribusi untuk membangun kampung saya di Flores sana. Saya sama seperti orang-orang lain, yang ingin meraih kesuksesan pribadi, dan menganggap bahwa kota Jakarta adalah tempat kesuksesan itu berada. Damn!
Dan, ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di negara kita ini, bisa sedikit demi sedikit dikurangi jika kita bahu membahu membantu sesama bangsa ini, demi terciptanya keadilan sosial yang merata.
Sayang, hal tersebut sepertinya masih belum bisa terwujud. Persatuan dalam ikrar Bhineka Tunggal Ika dan Sila ke-3 Pancasila, seakan hanyalah sebuah slogan pemanis yang tidak punya arti apa-apa.
Masih banyak masyarakat Indonesia yang belum bisa menerima perbedaan ini, entah itu ras, suku atau agama. Lihat saja kalau bertemu dengan orang baru, pertanyaan seputar orang mana atau agama apa, masih sering kita dengar. Seharusnya (menurut saya), tidak perlu lagi pertanyaan seperti itu, kalau kita semua sudah merasa sebagai sesama bangsa Indonesia.
Fanatisme agama mungkin yang paling mencolok diantara semuanya dan yang lebih tinggi potensi konfliknya. Kasus Alexander (seperti diceritakan di buku ini), adalah bukti bahwa kita belum bisa menerima perbedaan.
Maka dari kondisi masyarakat Indonesia yang seperti itu, kita sebagai generasi muda dituntut untuk mulai memikirkan dan berani memutuskan untuk mau mengubah Indonesia, lewat kegiatan apapun yang memang sesuai dengan passion kita masing-masing.
Kenapa harus sesuai passion? Karena dengan begitu kita akan bisa lebih enjoy, tetapi juga fokus dalam melakukannya, sehingga hasilnya tentu akan luar biasa. Seperti kata Om Pandji, "Berani Mengubah juga berarti harus Berani Fokus". Dan hal itu sudah dibuktikkannya dengan mendirikan Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia (YPKAI) sejak 2006, untuk mengurus anak-anak pasien kanker.
Selain yang dilakukan Pandji, kita bisa mencontoh dan mengambil inspirasi dari orang-orang tua seperti Ni Nyoman Suparni, Kak Lung, Pak Syamsudin dan Bu Indrawati Sambow, sosok-sosok pahlawan perubahan yang mengorbankan kenyamanannya demi membuat orang lain merasa nyaman.
Atau ide-ide dari para pemuda Berani Mengubah seperti Umen (Operasi Semut), Jessica Farolan (Smile For The Future), Kojek (#SKUBYB), Alika (LANDA Center) dan Damar (Dapur Kita). Juga bisa mengambil inspirasi dari Bapak Anies Baswedan dengan program Indonesia Mengajar-nya, Glen Fredly dengan Voice Of The East, dan masih banyak lagi yang lainnya (yang tidak pernah diliput media).
Dan, dengan perubahan kecil yang kita mulai, harapannya semoga perlahan dunia mulai mengenal kita sebagai bangsa yang besar, karena memang begitulah kita adanya, bukan hanya hal yang negatif saja. Kita bukan bangsa teroris (ingat MU yang batal main di Indonesia karena ulah ter-kampret-oris itu? atau musisi-musisi yang membatalkan konsernya karena merasa tidak aman? Damn!).
Kita juga bukan pecundang, seperti kata pendaki asing yang meremehkan tim 7 Summits Indonesia, dengan mengatakan kalau "You're very small". Hal itu harus kita bantah dengan menunjukkan kalau kita ini "Kecil-Kecil Cabe Rawit". Biar imut tapi pedes banget!
Dan, semuanya itu pasti bisa kita lakukan, karena kita punya potensi. Seperti kata Pandji, kita hanya perlu Kepercayaan Diri, Kemauan dan Pemimpin, sehingga dengan begitu kita bisa berinisiatif untuk membangun Indonesia.
Memang butuh waktu, tidak instan. Tapi kalau tidak pernah ada action, pasti tidak akan terwujud bukan? So, saatnya kita beraksi kawan!
Terus apa yang harus saya lakukan agar bisa mengubah Indonesia?
Pertanyaan yang muncul setelah membaca buku ini.
Sebuah tantangan yang diberikan Pandji kepada orang (khususnya pemuda) yang membaca buku ini. Tantangan dari seseorang yang tidak hanya berwacana tapi sudah beraksi. Semoga saya bisa mulai melakukannya, dan menjadi bagian dalam perubahan itu. Dan semoga pemuda Indonesia yang lain, yang belum melakukan sesuatu untuk Indonesia (seperti saya) pun juga ikut memulai aksinya.
Jadilah anak nongkrong yang berkualitas. Jangan hanya ngomongin gadget terbaru atau galau berjamaah.
Keren lagi, kalau pas lagi nyruput slurpee di Sevel atau 'cuci jemur' di Dahsyat, sambil ngobrolin ide untuk membangun bangsa. hehe
Karena .................
Indonesia memang butuh KITA.
Indonesia butuh PEMUDA.
MARI MENGUBAH INDONESIA..!!!!!!!
Sabtu, 13 Juli 2013
Bulan Puasa
Hari Rabu kemarin ditetapkan sebagai awal bulan puasa (1 Ramadhan 1434 Hijriyah) bagi umat muslim, oleh pemerintah (setelah sidang Isbat hari Senin lalu). Walaupun ada perbedaan dengan Muhamadiyah, tapi dengan penetapan pemerintah itu, maka umat muslim Indonesia mulai menjalankan rukun Islam ketiga itu, sampai hari raya Idul Fitri bulan depan nanti.
FYI : Di agama Katholik (kebetulan saya penganut Katholik), juga ada hukum untuk berpuasa (dan berpantang) selama 40 hari, sebelum Hari Raya Paskah.
Kembali ke pembahasan tentang bulan puasa.
Suasana bulan puasa ini baru saya rasakan saat saya tinggal di Jakarta. Maklum, di kampung saya mayoritas Katholik. Bahkan suara adzan pun hanya saya dengar saat siaran adzan Maghrib di TVRI. Saya baru punya teman muslim pada saat saya SMA di kota Maumere (ibukota kabupaten Sikka) itu pun tidak banyak, dan bisa mendengar adzan Dzuhur dari Mesjid di samping sekolah, yang mungkin satu-satunya di kota saya itu.
Pada saat bulan puasa pun tidak seperti di Jakarta atau daerah mayoritas muslim lainnya, maklum di sekolah tidak banyak siswa-siswa muslim. Di angkatan saya pun jumlahnya tidak sampai 15 orang, dari ratusan siswa-siswi yang ada. Jadi bisa dibayangkan, suasananya pasti tidak seperti bulan puasa. Suasana itu baru terlihat saat mereka memenuhi Lapangan Kota Baru, untuk sholat ied di hari Idul Fitri.
Baru setelah di Jakarta, saya akhirnya bisa merasakan bagaimana suasana bulan puasa ini.
Pagi-pagi ada orang (didominasi anak kecil) yang berkeliling dan berteriak membangunkan warga untuk sahur, sambil membunyikan tong atau benda yang lainnya.
Teman-teman saya yang jadi rajin ke Mesjid/Mushola terdekat (padahal sebelumnya ogah-ogahan) untuk sholat. Persis seperti segelintir orang di kampung saya, yang baru keliatan batang hidungnya di Gereja saat Natal dan Paskah saja. hehe. Manusia tidak ada yang sempurna. Dimaklumi saja. Lebih baik masih sempat dilakukan (berdoa/sholat), daripada tidak sama sekali.
Juga suasana saat mulai ngabuburit sampai buka puasa, yang sepertinya ada sensasi tersendiri :D
Yang saya tunggu-tunggu di bulan puasa itu saat ada ajakan teman-teman untuk bukber (buka puasa bersama). Apalagi kalau buka bersama yang diadakan oleh Senat, BEM, senior yang sudah jadi pejabat, sebuah institusi atau yang lainnya. Maklum, saya mahasiswa kere, jadi ajang makan dan perbaikan gizi gratis seperti itu tidak boleh dilewatkan. hehe.
Nah, biasanya kalau diajak bukber seperti itu, saya pun kadang ikut berpuasa seharian, biar bisa sama-sama merasakan 'sensasi' buka puasa tadi :D. Dan memang saat buka puasa itu rasanya gimana gitu. Pas lagi benar-benar lapar dan haus, trus masuk es kelapa muda/kolak. Segar. Nikmat. Damai. Ciamik. Sensasional. Cetar membahana badai.
Saya jadi membayangkan bagaimana perasaan seorang musafir di tengah padang gurun yang panas, saat menemukan sebuah oase. Bisa-bisa airnya dihabiskan. hahaha
Yang lucu waktu bukber, itu pada saat mencari makanan berbuka (tajil). Banyak sekali kemauan masing-masing (biasanya sedikit berdebat) padahal sudah on the spot, sampai akhirnya terdengar adzan Maghrib (tanda berakhirnya puasa), dan terpaksa buka puasanya pakai Aqua gelas.
Tapi, 3 ronde berikutnya adalah 'surga'.
Menikmati es buah/es kelapa muda/kolak/es pisang ijo/gorengan + es teh manis (ronde 1).
Trus dilanjutkan dengan makanan 'keras', yaitu kolaborasi antara karbohidrat, protein, lemak, vitamin, zat besi, seng, aluminium, tembaga, batubara (komposisi ciamik, 4 sehat 5 sempurna), yang biasanya mem-begah-kan :D (ronde 2).
Terakhir, makanan 'ringan' seperti roti bakar keju/pisang coklat/bubur kacang ijo/mie yamin/es krim/es duren/capuccino, sebagai 'pencuci mulut' (ronde 3).
Kadang berlanjut ke ronde-ronde berikut, apalagi bagi mereka yang memaknai puasa sebagai menahan untuk tidak makan 12 jam, sehingga buka puasa adalah ajang pembalasan dendam kesumat. hahaha
Saya jadi berpikir mengenai orang (muslimin) yang 'benar-benar berpuasa'. Bagaimana untuk tidak hanya menahan rasa haus dan lapar, tapi juga menahan godaan-godaan duniawi lainnya. Macetnya lalulintas, body bohai, hot pants, tanktop, rok mini, paras aduhai, paha mulus, orang-orang menyebalkan, suck life, udara panas, uang tip, tumpukkan kerjaan, dll, semua godaan yang bisa menimbulkan pikiran, ucapan dan tindakan negatif, sehingga membatalkan ibadah puasa ini.
Butuh iman super sih menurut saya, untuk menjalankan ibadah puasa yang benar. hehe *maaf kalau saya sotoy
Beberapa tahun belakangan ini, setelah bekerja, 'orientasi' saya di bulan puasa ini sedikit bergeser. Tidak lagi ingin merasakan bagaimana berpuasa dan berbuka, tapi lebih menjadi saat untuk saya menggemukkan badan. hahaha
Saya bisa makan berkali-kali di saat puasa.
Pagi-pagi saat terbangun karena ajakan sahur, baik dari Mesjid maupun teriakan anak-anak yang keliling gang, saya 'terpaksa' ikut sahur. Jam 9, seperti biasanya saya sarapan di kantor, kemudian jam 12 istirahat makan siang. Setelah pulang kerja, karena tergoda oleh jejeran makanan berbuka, yang biasanya 'menjamur' sepanjang gang ke arah kosan, saya pun ikut berbuka. Belum lagi saya wajib menjalani ritual harian dengan nge-teh + gorengan sambil dengerin alunan musik reggae yang syahdu. Setelah itu saya pasti makan malam, dan terakhir sebelum tidur biasanya 'nongkrong' sebentar di Warung Bubur Kacang Ijo. Sudah berapa kali tuh saya makan seharian. hehe
Jadi, kalau kawan-kawan umat muslim di bulan puasa ini berharap mendapat berkah dan pahala, maka saya berharap mendapat berat badan yang naik. hahaha
Sedikit sotoy lagi.
Bulan puasa itu menurut saya adalah saat dimana umat muslim menyiapkan diri menjadi 'manusia baru', saat untuk membersihkan diri dari hawa nafsu dan dosa, saat untuk introspeksi diri, saat untuk menumbuhkan cinta kasih kepada sesama dalam diri, dan tentunya yang paling penting adalah saat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan Nabi Muhammad.
Jadi, ibaratnya abis main, badan kotor, keringatan, berdaki dan bau apek, kini saatnya untuk mandi dan membersihkan diri biar segar, wangi, ganteng/cantik, dan tidur pun bisa nyenyak :D
Akhirnya saya ingin menyampaikan kepada kawan-kawan umat muslim dimana saja anda berada :
"SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA"
Jumat, 05 Juli 2013
Rangga Menggadaikan Cinta
Sabtu pagi yang cerah. Rumput bergoyang dihembus semilir angin. Sinar mentari menerpa wajah Rangga saat membuka jendela.
"Selamat pagi dunia", katanya.
Dia lalu menghampiri meja belajarnya, dan meraih radio butut hadiah dari bokap, saat ulang tahunnya yang ke-10, hampir 10 tahun yang lalu. Saking tuanya, merk radio itupun udah gak bisa kebaca lagi.
Mustang Double Eight, channel radio favorite langsung mengudara. Just the way you are dari Bruno Mars terdengar begitu indah, menambah semangat pagi ini.
Rangga langsung kepikiran sama sang pujaan hati, bidadari manis di ujung gang komplek, Cinta. Itu lagu kesayangan si Bee, panggilan sayang Rangga buat sang pacar.
Gak pake lama, doi langsung nelpon Cinta. Padahal semalam baru aja telpon-telponan sampai kuping panas, batrei bengkak, chasing copot, keypad rontok, gusi berdarah, hidung mimisan, ................
Eh buset, penulisnya lebay nih. Tamparin dikit, plaaaaakk!
Kembali ke cerita...
Bedanya, kali ini pake telpon rumah. Batrei gak mungkin bengkak. Tagihan telpon yang bengkak. Pipi juga sih, karena digampar bokap.
"Halooo", suara Cinta yang khas, halus kayak motor pake oli Top-1, langsung terdengar diujung telpon.
Sambil cengar-cengir Rangga nanya, " Kamu lagi apa Bee sayang?".
"Aku lagi sarapan sayang", jawab Cinta mesra, padahal lagi ngupil.
"Owh. Sayang kamu makannya ati-ati ya, jangan ampe keselek. Kalo kamu keselek, nanti aku jadi sedih sayang", Rangga ngemengnya mulai lebay. Tamparin juga nih.
"Oh iya. Kamu dengerin Mustang gak sekarang sayang?. Yang diputerin just the way you are lho sayang", lanjut Rangga.
"Astaga. OMG. Oh no. Oh yes. Bruno Maaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrss!!", Cinta berteriak histeris kayak kerasukan setan alay.
"Tapi aku gak bisa dengerin sekarang. Radio gak punya. BB lowbat gak bisa muter MP3. Paket internet abis gak bisa streaming. Oh tidak!", kata Cinta datar.
"Oh cupcupcup. Jangan sedih ya sayang. Ganbate!", Rangga sok-sokan care.
"Dengerin lagu itu aku jadi kangen deh ama kamu. Muaaaach!", Rangga kembali lebay.
"Aku juga kangen kamu. Muuaaaaaachh!!!", Cinta lebih lebay lagi.
Tut...Tut...Tut...Tuuuuuuuuuuuuuuuutt.........
Telponnya mati. Rangga bingung. Tiba-tiba.......
"Anak kampreeeeeeeett. Pagi-pagi udah telponan gak jelas. Setaaaaaaaann!", bokapnya teriak-teriak dari luar, kayak aktivis lagi orasi tolak BBM naik. Mudah-mudahan sih gak bentrok ye.
---------------------------------------------
Tepat jam 7 malam, Rangga udah necis abis. Rambut klimis. Dandanan kayak selebritis.
Maklum malam minggu bro, waktunya kunjung pacar tercinta pujaan hati cetar membahana badai weleh-weleh.
Doi jalan santai, maklum cuma di ujung gang. Sambil bersiul, dia bayangin mukanya Cinta yang mirip Asmirandah, bibirnya yang imut-imut legit kayak bolu kukus, trus mereka duduk berduaan, rambutnya Cinta dielus-elus, trus peluk-pelukan, cipok-cipok dikit dan ........................, ah sedap bener.
TAPI....
Pas nyampe depan rumah Cinta, tiba-tiba langit mendung. Awan menghitam. Bumi gonjang-ganjing. Petir menggelegar. Kilat sambar pohon kenari. Sepertinya mau hujan.
Rangga diam membisu, kaku, kena stroke stadium awal, setelah melihat tontonan di depan matanya. Mimpi apa dia semalam. "Mimpi naik kuda putih, trus jalan-jalan di pantai bro", jawabnya dalam hati :D
Di teras, duduk Cinta bersama seorang laki-laki, yang ternyata teman kampus mereka, si Otong. Ketua Senat Hukum. Pintar. Ganteng kayak Christian Sugiono dicampur dikit sama Paul de Chivo.
Mereka mesra banget. Becanda. Ketawa. Pegang-pegangan tangan. Remas-remasan. Cubit-cubitan. Peluk-pelukan. Cium-ciuman.
Untung gak sampai gitu-gituan.
Gilaaaaaaaaaaaaaaaaa!!
SI KAMPRET SELINGKUH..!!
Rangga bagai disayat sembilu. Hatinya hancur berkeping-keping, kira-kira 12 keping lebih dikit. Daun bunga kamboja didepannya jadi sasaran. Langsung dimakan gak pake sambel. Terasa pahit.
"Mungkin ini yang namanya sakit hati. Rasanya pahit", gumam Rangga pasrah. hiks...hiks...
Doi langsung pulang dengan langkah gontai. Galau tingkat dewa yang tinggal di langit ketujuh agak ke kiri dikit.
Pengen mabok biar stres hilang, tapi takut muntah, kamarnya jadi bau, ngepelnya malas.
Dipaksain tidur tapi gak bisa, padahal udah pake teknik menghitung jumlah kristal yang ada di Planet Krypton. Bahkan dia sampai coba menganalisa kenapa gigitan laba-laba bisa merubah Peter Parker jadi Spiderman. Tetap gak bisa tidur. Galau sangadh..!!!
Akhirnya, setelah nyalain TV dan nonton pidato Presiden SBY di TVOne, baru Rangga bisa tidur. Pulas banget malah.
Besok paginya, radio Mustang kembali memutar lagu kesayangan Cinta, Just the way you are. Siaaaal...!!
Rangga langsung menutup telinga dengan kedua tangannya. Biar gak dengerin. Biar gak galau lagi.
Rangga langsung menutup telinga dengan kedua tangannya. Biar gak dengerin. Biar gak galau lagi.
Dia sudah gak mau mengingat semua kisah indahnya bersama Cinta. Yang lalu biarlah berlalu. Dia terpaksa menggadaikan cintanya kepada Cinta, demi kesehatannya dan kemaslahatan umat.
"AKU HARUS MOVE ON...!!!!!", teriak Rangga dengan lantang sambil mengepalkan tangannya keatas, ditambah ikat kepala Merah-Putih. Merdekaaaaa....!!!
Tiba-tiba dia teringat akan gadis berambut ikal dan berlesung pipi disamping Alfamart, sebut saja Mawar. Mungkin bisa jadi gebetan baru. Walau tingginya semeter tak sampai, dengan berat 89 kg dan betis bagaikan talas bogor yang suka lari marathon, tapi gak apa-apalah. Namanya juga digadaikan, dimana-mana pasti berkurang nilainya.
It's OK. Daripada galau trus ngubek-ngubek spiteng. Yang penting kan cinte ye Bang Rangga. #OkeSip
Dan, gara-gara kejadian itu, panggilannya Cinta sudah dirubah sama Rangga.
Dari Bee..........
jadi BITCH..!!!
*pesan penulis : kalo mau versi lain dari cerpenget (cerita pendek banget) ini, dengerin aja lagunya alm. Gombloh - Kugadaikan Cintaku. hehe.
Langganan:
Postingan (Atom)

