Jumat, 25 September 2015

25+1 Lagu Reggae Pilihan Kaka Chivo Buat Kamu

Saya lahir dan besar di kampung yang reggaeholic akut (selain alkoholik :p). Mereka yang tidak suka reggae mungkin orang-orang terbuang yang telinganya ketutup jamur merang :p
Bob Marley (tentu), Alpha Blondy, UB40, Big Mountain, Inner Circle, O'yaba dengan lagu Paradise-nya, Shaggy dengan hits Bombastic-nya, Lucky Dube, Rhoma Irama, Caca Handika, Neneng Anjarwati, adalah segelintir musisi reggae yang 'membesarkan' saya dengan lagu-lagunya, sejak saya masih jongkok di bangku SD.

Setiap hari, terutama menjelang sore, setiap rumah yang ada soundsystem-nya pasti memutar lagu-lagu itu. Tentu, selayaknya seorang bocah unyu, saya juga pasti mendengarkan lagunya Trio Kwek Kwek dan artis cilik lainnya seperti Ateng. *dikeplak*

Gara-gara itulah, sampai sekarang saya seolah mati rasa kalau dengar lagu genre lain. Hanya segelintir saja yang bisa 'masuk' ke telinga saya.
Saya punya banyak lagu reggae, dari ratusan artis. Memang, tidak semua saya beli albumnya, ada yang ................. yah you know lah ;)
Oke lupakan.
Dari sekian banyak lagu tadi, saya berusaha memilihkan beberapa untuk kamu dengarkan. Iya kamu. Kamu yang sudah kurang piknik, selera musiknya juga ancur pula. Kasihan.

Kenapa 25+1?
Karena kalau ditulis 26 lagu, jadi tanggung. Judulnya jadi sedikit kurang 'menjual'. Begitu kata Bang Minggus.
Untuk urutannya pun bukan berdasarkan bagus atau tidaknya itu lagu. Hanya penomoran biasa tanpa arti apa-apa. "Apalah arti sebuah nomor", kata Bang Minggus lagi. Walau beberapa lagu memang layak untuk ada di urutannya itu.
Yang pasti, lagu-lagu ini akan bisa membuat kalian bebas dari rasa galau berkepanjangan. Dan yang lebih penting, lagu-lagu ini akan merubah pola pikir kalian yang menganggap reggae itu identik dengan santai, pantai dan just encet-encet.

Satu lagi. Judulnya memang "lagu reggae", tapi di list ini ada ska dan dancehall juga. Soalnya kalau ditulis semua, jadi terlalu panjang judulnya. Kan ini artikel, bukan jalan tol Cipali.

Oke, cukup basa basinya. Sebelum benaran basi.
Berikut lagu-lagu reggae pilihan kaka Chivo buat kamu. Enjoy!


+1. Salam - Ras Muhamad

Lagu yang juga dijadikan sebagai judul album terbarunya Ras Muhamad.
Album internasional pertamanya dia.
Album internasional pertama dari musisi reggae Indonesia.
Album reggae terbaru yang saya punya.

Ras Muhamad menunjukkan ke-ambassador-annya lewat album internasional ini. Tentu kakak bangga *dikeplak*
Reggae Indonesia to the world. Boom!



25. Nightshift/One More Night - Busy Signal

Reggae deejay satu ini, di ranah Dancehall, adalah salah satu yang toasting-annya agak 'tidak ramah' telinga pendengar reggae (dancehall khususnya), apalagi yang tidak suka reggae. Ibarat kalau di Rock ya seperti underground/deathmetal/apalah itu sebutannya, yang vokalisnya lebih seperti orang mabuk yang sedang muntah ketimbang nyanyi. Bukan mau bilang jelek ya, cuma saya tidak mengerti saja :D

Nah, di lagu ini, Busy Signal menyuguhkannya dengan lembut sekali.



24. Bale Nagi - Conrad Floresman

Lagu ini ada dalam album solo-nya "Tribute to the Land". Musiknya gak reggae banget, karena dibawakan secara akustik plus-plus (artiin sendiri deh tuh).



23. Rubadub (Done Know) - The Skints

Band asal London, yang melakukan inovasi dengan menggabungkan reggae, ska, dub, punk dan hip-hop di lagu-lagunya.
Unik. Fresh.
Dengarkan saja!



22. 123 I Love You - Tarrus Riley

Liriknya sederhana.
Musiknya easy listening.
Vokalnya serak-serak menggoda.
Ih cucok ciin!



21. Strength of a Woman - Shaggy

Lagu ini diperuntukkan bagi semua wanita di seluruh dunia. Wanita tulen ya, yang sudah sejak dari kandungan adalah wanita, bukan yang jadi-jadian.

Begini lirik pada chorus-nya :

She'll put a smile upon your face
And take you to that higher place
So don't you under estimate
The strength of a woman

Simple tapi dalem :D
Aransemen-nya pun 'ramah telinga' segala kalangan masyarakat, termasuk yang alay sekalipun.
Video klipnya juga keren.



20. Niang Flores - Florasta

Lagu berbahasa daerah dari band reggae lokal Maumere ini menceritakan tentang pulau saya tercinta.
Niang Flores itu artinya Pulau Flores. Tanah leluhur. Tanah pusaka. 'Till death do us part  *loh
Musiknya tidak pure reggae. Tipikal musik reggae Indonesia era '90an banget. Tapi asyik, dan masih bisa dinikmati oleh para kaum alay zaman sekarang.

*maaf saya tidak ketemu video klip ataupun fotonya, jadi ke rumah saya saja, nanti saya putarkan kasetnya :p


19. Judge Dread - Prince Buster

Prince Buster adalah salah satu legenda musik ska di Jamaika. Seorang penyanyi dan juga produser.
Lagu ini merupakan sebuah sindiran kepada seorang hakim yang otoriter dalam memberikan hukuman. Di lagu ini sebenarnya dia tidak bernyanyi, tapi lebih ke deklamasi (cenderung baca), dengan meng-impersonate si hakim pada saat jalannya sidang, yang diiringi musik ska.



18. Shot by Love - Protoje ft. Toi

Musiknya easy listening, lebih menonjolkan suara manjanya Toi dan toasting-an dari Protoje.
So good vibes!



17. One Day - Matisyahu

Lagu yang berisi harapan penyanyi berdarah Yahudi ini, yang juga pasti adalah harapan semua orang di dunia. Harapan untuk hidup damai, berdampingan satu sama lain, tanpa perang, kekerasan dan permusuhan. Satu hari nanti.
Say Amen saudara-saudara!



16. Lighthouse - Ziggy Marley

Lagu yang terdapat di album terbarunya Ziggy (Fly Rasta - 2014) ini, hanya sedikit saja memasukkan reggae tune di dalamnya. Lebih menonjolkan suara khasnya dia.
Mungkin biar pesan yang ada di dalam lagu ini lebih mudah tersampaikan ke pendengar. Entahlah. Mungkin saya sotoy.



15. Yele Kuye - Ras Muhamad & Daddy T

Lagu yang ada dalam album kolaborasi mereka berdua (Berjaya - 2012) ini, beat-nya asyik. Joget-able!
Salah satu album yang saya punya, lengkap dengan tandatangan Ras ;)



14. Cherry Oh Baby - Eric Donaldson

Salah satu band reggae yang 'membesarkan' saya adalah UB40. Sialnya baru beberapa tahun terakhir ini saya baru tahu kalau lagu Cherry Oh Baby yang ada dalam album Labour of Love (1983), ternyata penyanyi aslinya bukan mereka, tapi salah satu legenda reggae, Eric Donaldson.

Lagu ini spesial, karena di tahun 1971 memenangi Jamaican Festival Song Competition. Saking hitnya, The Rolling Stones pun meng-cover-nya di album mereka, Black and Blue (1976).

Nuansa lawasnya begitu terasa. Juga suara uniknya Eric Donaldson yang sangat menonjol.
Every baheula vibration, is always a good vibration. Betul tidak sahabat super?



13. Tunggulah Tunggu - Monkey Boots

Suaranya si Denny yang renyah, diiringi musik ska dengan sedikit sentuhan keroncong yang lembut, membuat lagu ini menjadi krenyes-krenyes. *kerupuk kali mas*

Albumnya sudah lama nangkring di rak saya. Walau belum dilegalisir :D



12. The One - Sara Lugo

Track pertama dalam album terbaru dari penyanyi berdarah Jerman ini (Hit Me with Music - 2014).
Aransemen musiknya ala-ala ska jadul yang uptempo. Ditambah dengan suaranya yang seksi.
Asyik banget!



11. Hold My Hand - Sean Paul

Lagu dari salah satu musisi dancehall favorit saya ini cocok sekali buat kalian yang mau gombalin pasangan. Dijamin pasti disambit sendal sama bapaknya.
Kalau yang tidak ada pasangan, tonton saja video klipnya. Pasir pantainya bagus ;)



10. Yeshua - Avion Blackman

Penyanyi yang bernama asli Avion Claudette Trudy Henrietta Blackman ini adalah istri dari front-man band reggae: Christafari, yaitu Mark Mohr, yang juga sekaligus sebagai vokalis di band tersebut.

Lagu gospel dengan balutan irama roots reggae yang smooth ini terdapat dalam albumnya yang berjudul Sweet Life.
Coba dengarkan sambil tutup mata. Adem tenan rek!



09. Nurani Bicara - Tony Q ft. Vicky 'Burgerkill'

Di dalam album Menjemput Mimpi yang dirilis akhir 2014 lalu, Tony Q bereksplorasi dengan mengajak beberapa musisi-lebih tepatnya rocker-untuk berkolaborasi. Ada Roy Jeconiah, Candil, Ipang Lazuardi, Melanie Subono, Vicky Burgerkill, dan Nugie.

Dan single Nurani Bicara ini adalah favorit saya.
Dengarin saja, biar tahu bagaimana cetar-nya nge-growl (atau apalah itu istilahnya) yang dipadukan dengan irama musik reggae. Rasanya seperti lelehan coklat yang lumer dalam mulut. Pecaaah!

Sayang album ini tidak diproduksi massal. Hanya beberapa saja pada saat launching, yang sialnya diadakan saat dompet saya sedang kosong :D



08. Rock Fort Rock - The Skatalites

Saya tidak mau banyak cincong lagi lah soal mbah-nya jamaican music ini. Dengarin sajalah lagu instrumentalnya ini.
Salam super!



07. Turn Your Lights Down Low - Bob Marley

Salah satu lagu cinta dari beliau (Exodus - 1977), yang katanya ditulis untuk Cindy Breakspeare (ibunya Damian Marley).

Lagu ini dan tiga lagu lain (Is This Love, Waiting in Vain, No Woman No Cry), konten liriknya bahkan dianalisa oleh Professor Carolyn Cooper untuk mengetahui pandangan seorang Bob Marley tentang perempuan. Keren!



06. Smile Jamaica - Chronixx

Salah satu generasi baru musisi reggae Jamaika.
Lagu ini, menurut analisa sotoy saya, menceritakan tentang negaranya, Jamaika, yang dianalogikan oleh dia dengan seorang gadis.
Lihat saja penggalan liriknya berikut ini :

She has a rich history
A beautiful woman with the sweetest gifts
Beautiful sunrise and an evening kiss
I find a nice sunset on the evening seas
But she told me that she's tired
Tired of exploit and liars
She gave them reggae beaches flowers and ferns
All she got was abusing in turn

*cocok ditujukan buat Indonesia juga kan :D

Vokalnya si Chronixx yang renyah, dengan aransemen musik yang easy listening, membuat lagunya benar-benar asyik.



05. A Letter To Mama - Ras Muhamad

Saya sangat suka dengan lagu-lagu yang khusus dipersembahkan untuk ibu. Saya bahkan punya CD kompilasi lagu-lagu seperti itu, dari band/penyanyi lintas genre. Memang sih itu burning-an dari hasil download di youtube. Soalnya tidak ada yang dikeluarkan label resmi. Saya sudah cari kemana-mana. Sumpah deh! ;)

Dan Ras Muhamad, lewat lagu ini, melakukannya dengan sangat keren. Favorit saya, selain lagu Ibu dari Iwan Fals.



04. Well Done - Kabaka Pyramid

Kekuatan musisi yang satu ini ada pada lirik-liriknya yang brilian. Termasuk lagu ini.
Cocok di putar di sela-sela sidang paripurna DPR/MPR atau sidang kabinet, biar pada mudeng sama apa yang dikerjakannya.



03. Haleluya, Alhamdulillah - Tony Q

Yang saya suka dari legenda reggae Indonesia ini adalah lirik lagu-lagunya yang sederhana dan mudah dicerna, tapi pesannya dalam banget.
Salah satunya lagu yang ada dalam album Membentang Sayap ini.



02. Jerusalem - Alpha Blondy

Salah satu legenda reggae yang 'membesarkan' saya.
Lagu ini mungkin lagunya Alpha Blondy yang paling sering dinyanyikan/di-cover oleh band-band reggae lain. Papa Bakoye juga. Mungkin.

Lagu ini tentang kota tua penuh sejarah di Israel. Kota suci bagi para penganut agama-agama samawi. Kota dimana you can see Christians, Jews and Muslims, living together and praying. Begitu kata kaka Alpha.



01. Redemption Song - Bob Marley

Salah satu dari sekian banyak 'lagu berat' yang dibuat Bob Marley. Single terakhir dari Bapak Reggae ini.

Mungkin karena versi original-nya akustikan, kalau ada yang cover, saya pun lebih suka dengar versi cover yang akustik daripada full band. Termasuk versi full band resminya yang dirilis Oktober 1980 (maaf kalau saya salah data). Lebih dapat feel-nya dari lagu ini kalau akustik (bagi saya).




So, yang mana favorit kamu?


Sampai ketemu di rekomendasi lagu-lagu reggae lainnya.
Tunggu saja.
Kaka Chivo janji ;)



Tabe!


*Disclaimer :
- Saya hanya sekedar share. Copyright milik yang empunya lagu & video.
- Maaf untuk yang videonya bukan official. Tidak ada maksud apa-apa, cuma karena tidak dapat saja :D

Selasa, 08 September 2015

Bolak-Balik Mencari Curug Dago

"Ojek a"

Godaan dari pria-pria berjaket kulit yang duduk di atas motor itu berulangkali terdengar di telinga saya. Pasalnya gara-gara saya yang sedang kebingungan mencari jalan setapak menuju Curug Dago, setelah turun dari angkutan umum (angkot).
Info yang saya print dari hasil browsing di mbah google, tertulis "kalau dari Terminal Dago, masuk ke jalan setapak yang berukuran satu meter di seberangnya". Ada dua jalan, lebih tepatnya gang, yang spesifik (setidaknya mendekati) dengan info itu. Tapi karena agak ragu, saya memutuskan untuk jalan sedikit ke arah selatan, menyusuri Jl. Ir. H. Juanda. Langkah kaki saya terhenti, saat sampai di sebuah jalan masuk, karena saya langsung yakin 100% kalau itu bukan jalannya. Berdasarkan info yang saya print, jalan masuknya itu cuma bisa menggunakan kendaraan roda dua atau dengan berjalan kaki, sementara jalan di depan saya banyak mobil yang lalu lalang. Jelas BUKAN berarti!

Akhirnya saya balik lagi ke arah pintu terminal, menuju belokan sekaligus turunan yang mau ke arah Lembang, sambil tetap mengabaikan godaan para pria berjaket kulit yang semakin menjadi-jadi. Setelah berjalan kira-kira 700 meter, saya kembali ragu dengan jalan ini.
Berhenti sejenak. Berpikir.
Opsi-nya cuma dua: turun terus dengan resiko naiknya ngos-ngosan dan betis mengencang, atau kembali ke titik awal depan Terminal Dago dengan resiko ketemu lagi dengan pria-pria penggoda itu. Ah, seandainya ada Dora di saat seperti ini, pasti petanya bisa membantu.
Saya lalu memutuskan untuk memilih opsi yang kedua. Kembali ke titik awal.

Mungkin sampai paragraf ini, yang baca pasti pada bingung kenapa saya tidak bertanya saja.
Sebenarnya saya sudah sempat bertanya ke sopir angkot saat turun, tapi alih-alih menunjukkan jalannya dia malah menyuruh saya naik ojek, bahkan dipanggilkan pula sama dia. Kebaikan yang patut ditolak saudara-saudara!
Sebagai pejalan yang menyandang predikat cheap bastard, saya tahu betul kalau ojek menuju tempat wisata itu ongkosnya pasti mahal, sedekat apapun jaraknya. Apalagi walaupun penampilan bak gembel ibukota, wajah Bradley Cooper saya ini tidak bisa membohongi kalau saya turis, bukan Kabayan yang sedang mencari Siti Romlah. Jadi lebih baik jalan kaki, walau kebingungan. Tuhan memberikan sepasang kaki buat manusia, ya untuk dipakai jalan kan. Bisa menguatkan tulang malah, kalau jalan kaki ribuan langkah sehari. *sudah, diaminkan saja*

Nah, setelah balik dari turunan, saya memutuskan untuk coba masuk ke dua gang kecil tadi. Sayang yang ini malah lebih parah. Gang pertama cuma 100 meter saja sudah buntu. Gang kedua pun sama. Sudah jalan jauh kira-kira 700 meter, ujung-ujungnya buntu juga.
Balik lagi ke depan terminal, ketemu lagi dengan pria-pria penggoda berjaket kulit yang masih terus menawarkan jasanya.
Saya pun lalu memutuskan kembali ke belokan sekaligus turunan ke arah Lembang tadi. Tapi baru beberapa langkah ke bawah, saya akhirnya sadar kalau saya punya sebuah produk kemajuan teknologi bernama smartphone, berbasis android, keluaran Samsung, yang ada aplikasi google maps didalamnya, yang kebetulan aktif juga paket internetnya.
Setelah percobaan pertama dengan mengetik kata Curug Dago gagal, karena yang ditunjuk malah daerah Tebing Keraton, saya lalu coba mencari dengan kata petunjuk Taman Budaya Ganesha (sesuai info yang saya print). Dan setelah keluar hasilnya, ternyata jalan menuju Taman Budaya itu adalah jalan pertama yang saya yakin 100% bukan tadi. Namanya Jl. Bukit Dago Utara.

Setelah masuk kesitu, terus lewat Jl. Bukit Dago Utara III (sesuai petunjuk maps), masuk kira-kira 800 meter, sampailah saya ke titik yang ditunjuk google maps tadi, yaitu tempat parkir Balai Pengelolaan Taman Budaya, yang tidak ada satupun kendaraan yang parkir, dan tidak ada juga tukang parkirnya. Mau tanya ke siapa. Bahkan rumput yang bergoyang pun tidak ada, karena tempat parkirnya diaspal.
Akhirnya saya coba lewat jalan yang menurun, dengan asumsi kalau curug itu biasanya selalu ada di lembah.

Tidak lama berjalan, ketemu seorang ibu separuh baya yang sepertinya mau mengantarkan makanan untuk suaminya di kebun, yang lalu menunjukan ke saya arah menuju jalan yang benar. Disuruh bertobat.
"Kalau mau ka curug dago teh si ujang mesti lewat jalan itu, lurus terus, nanti ketemu pohon jati gede, di situ ada tangga-tanggaan, nah baru si ujang turun lewat situ".
Begitu kata si Ibu tadi, tanpa menjelaskan siapa sosok si ujang* yang dia maksud.

Singkat cerita, jalanlah saya mengikuti arahan ibu itu. Tapi sudah sepuluh menit kok tidak ketemu-ketemu pohon jati gede-nya. Banyak memang pohon-pohon besar, tapi saya yakin itu bukan jati.
Dan tiba-tiba sampailah saya di depan sebuah papan nama jalan, bertuliskan Jl. Bukit Dago Utara. Tempat saya masuk tadi. Ternyata jalannya berbentuk huruf U, jadi saya hanya berjalan memutari saja tempat ini dari tadi.

Walau sudah agak hilang semangat, tapi karena masih penasaran, apalagi sudah kepalang tanggung dan kepalang pegal, jadi balik lagi saya ke dalam. Coba masuk ke Jl. Bukit Dago Utara II, tapi nihil. Ketemu rumah-rumah warga saja.
Sempat bertanya dulu ke seorang perjaka terakhir yang ada di kampus Pasca Sarjana Fisip Universitas Padjajaran, tapi tidak tahu juga. Sepertinya, menunjukkan arah jalan menuju Curug Dago bukanlah spesialisasinya dia. Dari penampilannya, mungkin dia hanya tahu tentang harga lipstik dan maskara saja.

Saya lalu coba masuk ke Jl. Bukit Dago Utara I, dan memutuskan akan langsung pulang kalau kali ini tidak ketemu juga. Dan buah kesabaran itu ternyata selalu manis, seperti kolak pisang. Yang disuap Chelsea Islan.
Tidak lama berjalan, akhirnya saya menemukan sebuah tangga menurun dari beton yang cukup curam, menuju ke arah lembah. Walau tidak menemukan pohon jati besar seperti kata ibu-ibu tadi, hati tetap terasa lega, dan timbul percikan energi untuk buang air kecil. Pencarian ini membuat saya kebelet saudara-saudara.

Tangga-tanggaan
Sayup-sayup mulai terdengar suara aliran air, setelah 1 KM (mungkin kurang) menuruni tangga.

Berada di tengah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, air terjun yang tidak seberapa tinggi ini tersembunyi di balik rindangnya pepohonan. Terbentuk dari aliran Sungai Cikapundung, yang mengalir dari Maribaya menuju Kota Bandung.

Masih ada secuil keindahan masa lalu yang tersisa dari curug mungil ini. Keindahan yang dulu memikat hati duo raja Thailand beda generasi dari Dinasti Chakri; Raja Rama V (Chulalonkorn) dan Raja Rama VII (Pradjathipok Pharaminthara). Jejak sejarah keduanya terpatri dalam dua buah prasasti batu tulis yang berada di dalam dua bangunan bercorak Thailand di dekat curug berada.
Sejarah yang mungkin mempengaruhi pandangan si petugas di pintu masuk, yang mengira saya berasal dari Thailand. Padahal kontur wajah saya lebih mirip India atau Arab atau China, kalau dilihat lewat sedotan dari puncak Monas. Atau jangan-jangan dikira orang Thailand karena perawakan saya mirip ladyboy gagal operasi. *ih cucok*




Sayang, kemolekan curug ini sudah termakan zaman. Terenggut ke-masif-an pembangunan. Pemukiman yang makin padat diatasnya, juga banyaknya pabrik-pabrik pengolahan, menyebabkan hutan yang dahulunya berfungsi sebagai pelindung ekosistim alam semakin lama semakin tergerus.
Hutan tergerus, Sungai Cikapundung terkena dampaknya, Curug Dago ikut kena imbasnya. Debit air sungainya makin berkurang. Airnya pun makin keruh, berwarna kecoklatan, dan banyak sampah yang mengotori aliran sungai. Belum lagi pengelolaan objek wisata ini yang sepertinya begitu-begitu saja. Kedua bangunan tempat prasasti berada, terlihat penuh debu dan tak terawat. Mungkin kalau kedua prasasti itu bisa ngomong, pasti tidak akan bohong, kalau sakitnya tuh di sini.


Kang Goofy pengen eksis
Dengan pengelolaan yang biasa-biasa saja itu, biaya karcis masuk yang dikenakan sebesar 11.000 rupiah terasa sangat amat mahal sekali. Gak worth it kalau kata anak gaul Jakarta. Padahal lumayan penuh perjuangan untuk mencari tempat ini, karena ketiadaan papan penunjuk arah.
Harus lebih diperhatikan lagi oleh Pemda Kota Bandung (maaf kalau salah). Tidak harus dengan menambah debit air, karena itu sepertinya susah. Sangat susah. Karena entah butuh berapa galon air buat mengairi sungai seperti itu. Tapi setidaknya dengan menjaga keasrian dan merawat fasilitas yang ada, atau membuat taman konseptual seperti yang sudah dibuat di tengah kota Bandung itu. Karena tempatnya cukup sejuk, yang bisa menjadi salah satu alternatif untuk 'melarikan diri' dari ruwetnya rutinitas harian.



Tabe!


*Ujang itu panggilan orang Sunda untuk anak muda. Saya tahu, cuma sengaja, biar tulisannya sedikit menarik saja :D

- Ane bikinin petanya deh ;)

Sabtu, 22 Agustus 2015

Makan Mie Mirip Bungkusnya di Mix Diner & Florist

Mie Instan.
Makanan sejuta umat, favorit semua kalangan masyarakat. Murah meriah, mudah dibuat dan enak rasanya. Di saat harga sembilan bahan pokok selalu berbanding lurus dengan harga BBM dan besaran gaji Pegawai Negeri Sipil, mie instan setia dengan harga yang segitu saja. Tidak akan pernah ada demo ke Presiden Jokowi soal isu harga mie instan.
Para produsen mie instan malah lebih memperhatikan cita rasa, daripada mempersoalkan harga. Eksplorasi cita rasa yang akhirnya menghasilkan berbagai macam varian rasa seperti ayam bawang, rendang, soto betawi, dan lain-lain. Mungkin saja sebentar lagi ada rasa sayur asam, papeda, terong dicabein, atau yang lainnya.

Akan tetapi, sespesial-spesialnya mie instan, dimasaknya ya paling begitu-begitu saja. Sehabis diseduh dengan air panas, dikasih bumbu, terus dimakan. Kalau ada yang mau berkreasi pun, biasanya standar-standar saja, seperti ditambahkan sayuran, irisan cabe, atau telor. Tidak ada yang pernah kepikiran untuk membuat dan menyajikan mie itu mirip seperti gambar yang ada dibungkusnya.
Entah malas karena nanti jadi ribet, atau mungkin karena di panduan cara penyajiannya tidak ditulis "sajikan sesuai bungkusnya ya fellas". Apalagi biasanya orang masak mie instan kan di waktu santai (kecuali anak kosan di saat kantong kosong), jadi pasti maunya yang simple-simple saja, jadi cepat untuk dinikmati. Kalau harus bikin sesuai gambar dibungkusnya itu, ya mending masak yang 'berat-berat', daripada cuma sekedar mie instan saja. Betul tidak sahabat super?

Nah, hal itu oleh Lizta Permata, Sri Gusni, Assed Lussak dan Ali Akbar, para pemilik Mix Diner & Florist, dijadikan sebagai sebuah peluang usaha, yaitu dengan menghadirkan sajian menu Mie Mirip (bungkusnya) di kafe mini mereka. Dan ternyata itu berhasil, karena dari semua menu yang ada di sana, menu Mie Mirip ini paling banyak dipesan oleh para pelanggan yang datang. Mungkin karena penasaran.


Kabar mengenai adanya kafe ini saya dapatkan dari salah satu akun Twitter yang saya follow, yang kebetulan saya lupa nama akunnya. Pokoknya kalau tidak salah akun portal berita online. Ah sudahlah.
Gara-gara baca itu, penasaran juga ingin mencobanya. Dan biar tidak penasaran terus menerus dan berujung gentayangan di pohon beringin terdekat, akhirnya saya pun menyambangi tempat ini. Satu tahun kemudian :D

Letaknya sangat strategis, di persimpangan antara Jalan HR. Rasuna Said, Mampang Prapatan dan Kapten Tendean. Tepatnya di dalam rest area komplek ruko SPBU Pertamina Bestindo Mampang.
Mengusung gaya retro pop(?), desain interiornya kece juga, dengan tempelan poster-poster lawas yang rame tapi tertata dengan baik, dan perpaduan warna-warna cerah pada dinding, meja dan kursi dengan karpet kotak-kotak hitam putih. Pencahayaan ruangannya juga sangat bagus, jadi yang matanya rabun pun tidak akan kesandung.
Walaupun indoor, tapi tetap nyaman untuk berlama-lama di sini. Apalagi playlist musiknya juga non-alay, jadi telinga tidak mungkin belatungan setelah dari sini.


Menu Mie Mirip yang tersedia di kafe ini ada tujuh varian, a.l. Mie Mirip Goreng, Kari Ayam, Ayam Bawang, Rendang, Bakso Sapi, Goreng Jumbo dan Bulgogi.
Saya sendiri mencoba mie favorit saya, yaitu mie goreng.
Tidak terlalu lama menunggu, pesanan saya pun datang. Sepiring mie goreng yang penyajiannya benar-benar mirip seperti gambar yang ada dibungkusnya. Bahkan untuk memastikan kemiripannya tersebut, bungkus mie gorengnya juga dibawa sekalian.

Semuanya lengkap. Ada mie (pasti), telor mata sapi yang matanya agak dipinggir, dua udang, dua potongan tomat, selada, daun sop (entah apa nama yang benarnya :D), acar ketimun dan wortel, taburan kacang polong dan irisan cabe merah. Bahkan piringnya pun sama. Yang kurang cuma logo SNI dan MUI saja. *dikeplak*

Walau sudah tidak terlalu panas (kelamaan plating mungkin), tapi tetap nikmat untuk disantap. Mie-nya pas, tidak terlalu lembek atau kering. Rasanya beda dengan yang asli, karena dikasih tambahan bumbu racikan ala kafe ini sendiri.
Udangnya enak, segar, ada manis-manisnya, seperti air LeMineral yang dari pegunungan itu :p. Telor yang dipakai di sini, kata pelayan adalah telor omega. Dimasak setengah matang, jadi begitu lumer di dalam mulut. Bikin nagih, walau tanpa rasa.
Sementara yang lainnya tetap seperti biasa. Tomat tetap terasa tomat, selada juga tetap terasa selada. Piringnya pun sama, tetap keras dan tidak bisa dimakan.

mirip to kaka ;)
Selain Mie Mirip Goreng, saya juga mencoba dua menu lain yaitu Chicken Lava dan Mochi Ice Cream Strawberry. Kalau Mie Mirip dicoba karena penasaran, yang ini karena perut mungil saya masih lapar ;)

Chicken Lava-nya enak. Rasa asam dari sausnya, memberi sensasi tersendiri saat menyecapnya. Nasi putih saya minta diganti dengan kentang. Gurih dan tidak overcooked. Segarnya salad yang dikasih mayonaise, menjadi pelengkap yang pas.

Sementara itu, Mochi Ice Cream Strawberry-nya juga segar. Tampilannya yang nge-pinky dengan hiasan potongan strawberry diatasnya, terlihat begitu seksi dan membangkitkan nafsu untuk segera menggerogoti segala isinya.
Mochi-nya lumayan besar, dengan tingkat kekenyalan yang pas. Isian es krim yang lembut, begitu lumer di mulut. Pas untuk mengakhiri jelajah rasa di tempat ini.
Ada tiga varian rasa dari Mochi Ice Cream ini, yaitu Greentea, Oreo dan Strawberry.

Chicken Lava
Mochi Ice Cream Strawberry
Selain menu Mie Mirip, Chicken Lava dan Mochi Ice Cream di atas, kafe ini juga menyediakan menu-menu lain, seperti Chicken/Beef Bulgogi, Tempura, Mix Bakso, Ayam Keprek Ancur-47 dengan level pedas dari TK - Profesor, etc. (Main Course); Bandeng Katsu Tanpa Tulang; Frozen Yoghurt, Mix Twigim, Fire Cracker, etc. (Side Dish); Favorite Desserts; Teh tarik, Aloe Vera Ice Tea, Juices, etc. (Beverages).

Dan buat yang ada rencana mau kasih satu truk bunga ke pasangan, bisa juga kesini, karena sesuai dengan namanya, kafe ini juga menyediakan jasa pemesanan bunga, baik dalam porsi besar maupun kecil.



Tabe!

*Data Mix Diner & Florist :

Rabu, 12 Agustus 2015

Heaven is for Real

ã Sony Pictures
Satu lagi film bagus yang saya dapatkan secara tidak sengaja, tersembunyi di deretan film-film populer yang dipajang di rak toko langganan saya di Glodok.
Sama seperti Promised Land, film ini tidak ada di list yang ingin saya beli, tapi judul dan cover-nya yang sederhana menggoda saya untuk membelinya.

Film drama besutan sutradara Randall Wallace ini diadaptasi dari buku bestseller yang ditulis oleh Pendeta Todd Burpo & Lynn Vincent di tahun 2010 dengan judul yang sama, yang ditulis berdasarkan kisah nyata anak si Pendeta tersebut.
Deretan para pemainnya tidak begitu familiar bagi saya. Satu-satunya yang saya tahu cuma pemeran Jay Wilkins, yaitu Thomas Haden Church, yang menjadi The Sandman di film Spiderman 3.

Plotnya simple.
Kehidupan sederhana nan bahagia Todd Burpo (Greg Kinnear), seorang Pendeta di sebuah kota kecil di wilayah Nebraska, tiba-tiba sedikit berubah lantaran anak laki-lakinya yang masih 4 tahun, Colton (Connor Corum), mengalami sebuah pengalaman spiritual yang luar biasa sehabis dioperasi.
Anaknya bercerita tentang kepergiannya ke surga, saat dia sedang dioperasi. Todd dibuat terhenyak, karena anaknya itu bercerita bagaimana dia bisa melihat dokter melakukan operasi pada dirinya, lalu ibunya di ruang tunggu yang sedang menelepon orang-orang untuk berdoa bagi dia, dan ayahnya (Todd) yag sedang memarahi Tuhan di ruangan yang lain.

Di awal, Todd hanya sekedar penasaran dengan cerita dari sang anak. Namun lambat laun hal itu berubah, karena cerita dari anaknya tersebut makin spesifik, seperti bertemu dengan kakek buyutnya (kakeknya Todd) yang bahkan meninggal jauh-jauh hari saat Todd masih balita. Juga bercerita tentang pertemuannya dengan Yesus, menjelaskan secara detail bentuk fisik Yesus yang dia lihat, dan bagaimana suasana di Surga.

Sangat dilematis bagi Todd untuk menentukan apakah cerita anaknya itu benar-benar terjadi, atau hanyalah sebuah halusinasi setelah mengalami mati suri. Hal itu diperparah dengan reaksi para warga yang menganggap hal itu hanyalah sebuah lelucon. Posisinya sebagai seorang pengkotbah di gereja setempat terancam digantikan.
Hubungan dengan istrinya pun mulai sedikit ada pertengkaran-pertengkaran kecil, karena sang istri juga sama seperti yang lainnya, menganggap cerita anak mereka bukanlah sesuatu yang nyata. Namun pendapat sang istri, Sonja (Kelly Reilly), akhirnya berubah setelah mendengar langsung cerita Colton tentang kakak perempuannya yang meninggal saat masih di kandungan, yang katanya ia temui di surga. Padahal tidak ada satu pun orang yang pernah bercerita ihwal kakaknya itu.

Dan pada akhirnya, Todd menemukan sebuah kepercayaan diri untuk memberikan kotbah tentang pengalaman anaknya tersebut kepada khayalak ramai, dan menyatakan dukungannya kepada kisah sang anak, bahwa Heaven is for Real; Surga itu Nyata.

Greg Kinnear dan Kelly Reilly sebenarnya berhasil memainkan perannya masing-masing. Tapi sayang film ini dibuat terlalu sederhana, sehingga suasana dilematis dan konflik batin yang terjadi tidak terlalu terasa.
Sementara Connor Corum yang berperan sebagai Colton Burpo, sangat menggemaskan sekali. Peran utama yang begitu manis :D

Film drama ini memang sangat cocok untuk ditonton bersama seluruh anggota keluarga, dan wajib dikoleksi (menurut saya). *mudah-mudahan masih ada DVD aslinya*
Meminjam kata Holly Mc Clure (Parables.TV) yang tertulis di cover DVD-nya : "It will touch your heart, capture your mind and ultimately impact your life forever!"



Tabe!

* Data film :

Senin, 03 Agustus 2015

Sop Duren Lodaya

"Bro, sesekali cobain deh Sop Duren Lodaya".
Sms teman saya setelah membaca postingan saya sebelumnya tentang Kedai Sop Duren Ciwaru.

Karena penasaran, saya pun akhirnya menyambangi tempat yang dimaksud. Biar tahu rasanya, jadi kalau lagi ngidam sop duren, tinggal ngesot pakai kereta kesana. Karena yang di Serang kejauhan kalau cuma sekedar mau makan sop duren saja.

Lokasinya tepat di Jl. Lodaya I, Bogor. Bertanyalah kalau tidak tahu dimana jalan ini. Kalau malu bertanya, pakailah GPS.
Namun walaupun ada di pinggir jalan, kemungkinan susah ditemukan karena tempatnya tidak besar, begitu pula papan namanya yang tidak begitu mencolok. Agak kasat mata (hantu kali mas :D), susah dikenali, apalagi bagi yang matanya rabun jauh-dekat. Jadi, bertanyalah!


Sangat menggugah selera. Baru melihat gambar-gambar di daftar menunya saja, saya sudah sangat tergiur. Fotografernya berhasil membuat saya ingin menggerogoti buku menu pada pandangan pertama.
Awalnya agak bingung mau pesan yang mana, tapi kemudian saya menjatuhkan pilihan ke menu Sop Durian Lengkap. Alasannya karena ada di urutan pertama :D

Di sini ada dua porsi sop duren, yaitu porsi pas (berukuran kecil) dan porsi mabok yang durennya lebih banyak. Ukuran wadah porsi mabok lebih besar, dengan menggunakan ukuran gelas es campur, sementara porsi pas menggunakan gelas yang lebih langsing.
Nah berhubung saya bukan makhluk pecinta duren, saya pesan yang porsi pas.

Sop Durian Lengkap, dengan porsi pas yang menggunakan gelas langsing ini berisi duren, dengan bongkahan es batu, kacang ijo dan ketan putih, ditambah topping parutan keju, yang dilengkapi dengan roti pandan. Tampilan warna kuning dan hijau dari paket ini memang sangat menggoda.

Sop Durian Lengkap
Entah saya yang terlalu terburu-buru makannya atau bagaimana, tapi tekstur keringnya (karena es batu belum mencair) membuat rasa dari daging buah duriannya jadi lebih pekat. Hal itu membuat saya yang tidak suka duren ini sempat ingin menyudahi saja makannya. Beruntung sedikit dinetralisir dengan gurihnya keju, ketan putih, kacang ijo dan roti pandan yang melengkapi paket ini. Dan saat es batu sudah mulai mencair, dinginnya es pun mengurangi sedikit kepekatan rasa duriannya, walau tidak menghilangkan sama sekali citarasa si durian itu. Originalitasnya masih terasa. Tidak serta merta berubah jadi rasa opor ayam. *dikeplak*

IG: @sopdurenlodaya
Selain paket yang saya pesan di atas, di Sop Duren Lodaya ini, yang sudah memiliki sekitar 18 cabang, juga punya paket menu lain dengan varian topping yang beragam, seperti Sop Durian Special, Sop Durian Regal, Sop Durian Oreo, Sop Durian Ketan Hitam, Sop Durian Brorry (Brownies + Strawberry), Sop Durian Anggur, Es Cendol Durian dan Sop Durian Buah.
Menu-menu yang membuat saya ingin kembali kesana dan mencicipinya.

Menu lain (IG: @sopdurenlodaya)
Selain itu, ada juga menu-menu lain seperti kentang goreng, roti goreng, etc.
Untuk cabang-cabangnya sendiri, Sop Duren Lodaya ini sudah tersebar di beberapa kota seperti Jakarta, Depok, Bekasi, Sukabumi dan Yogyakarta.


Tabe!

Senin, 06 Juli 2015

Berpacu dengan Waktu Menuju Gunung Padang

Gapura besar berbentuk batang pohon yang bertuliskan "Situs Megalith Gunung Padang Cianjur", menyambut saya dengan gagahnya.

Senyum saya begitu lebar saat ada aset lelang yang berlokasi di Cianjur. Itu berarti, rencana untuk menyambangi situs yang katanya adalah kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara ini, akan terlaksana juga.

Bunyi alarm yang biasanya terdengar setelah repetisi kesekian kali, pagi itu begitu nyaring di telinga. Semangat berwisata colongan memang punya daya magis tersendiri.
Namun tidak seperti saat ke Kawah Putih Bandung, perjalanan kali ini tidak begitu 'mulus' diawalnya. Bangun pagi-pagi buta ternyata tidak menjamin saya tepat waktu sampai di Stasiun Paledang, Bogor, karena sesungguhnya semua itu adalah kehendak sinyal commuter line. Berjam-jam harus berhenti di setiap stasiun karena gangguan sinyal dan antrian kereta. Berkali-kali terbangun dari mimpi basah yang indah, yang terdengar selalu permintaan maaf dari laki-laki yang entah bagaimana wujudnya. Dan yang lebih menohok jiwa, saat sampai di Stasiun Paledang, KA Pangrango, satu-satunya kereta yang akan membawa saya ke Cianjur, sudah berangkat. Delapan menit yang lalu. Iya, saya TELAT DELAPAN MENIT. Lebih sialnya kereta berikut jadwalnya jam satu siang nanti.

Akhirnya dengan berat hati, walau tetap tersenyum manis, saya terpaksa naik omprengan 'purnawirawan' yang suka ngetem di pinggir jalan menuju pintu tol Bogor, tepat di seberang Terminal Baranangsiang.
Benar memang kata Mak Erot, kalau banyak cara menuju Cianjur. *dikeplak
Walaupun harus berpanas-panasan, sempit-sempitan dengan laki-laki gempal beraroma tempe bacem dan ibu-ibu muda berkacamata besar yang menutupi seluruh area wajah, juga merasakan goncangan keras akibat akselerasi ugal-ugalan si sopir omprengan, toh akan sampai juga ke Cianjur.

* * * * *
Dan setelah sampai, lalu menyelesaikan tugas 'kenegaraan', wisata colongan ke Situs Gunung Padang pun siap untuk diwujudnyatakan. Sayangnya jam di hape saya sudah menunjukkan pukul 12.30, yang berarti saya harus berpacu dengan waktu menuju Gunung Padang, karena sesuai dengan info dari petugas di Stasiun Cianjur kalau jadwal kereta terakhir ke Bogor dari Stasiun Lampegan (stasiun terdekat dengan lokasi situs) adalah pukul 14.35. Dua jam lagi. Itu tandanya saya harus bergegas, biar kejadian ketinggalan kereta saat ke Gunung Parang waktu itu tidak terulang lagi.

Dari Stasiun Cianjur, harus jalan sedikit sekitar 500 meter ke tempat ngetem angkot 43, angkot yang akan membawa saya menuju Gunung Padang. Beruntung pas sampai, ada satu angkot yang sudah penuh dan siap jalan. *rejeki pria soleh
Melewati jalan raya Cianjur-Sukabumi, lalu berbelok di pertigaan kecil menuju Warungkondang, kiri kanan kulihat saja banyak sawah terhampar. Udaranya pun makin sejuk.

Tidak seperti informasi yang saya dapat dari internet, angkot 43 ini terakhir sampai ke daerah Bedahan. Dari sana baru dilanjutkan dengan ojek menuju Gunung Padang, dengan ongkos sebesar 35.000 rupiah, setelah proses tawar menawar dan negosiasi yang cukup alot.
Tapi ongkos sebesar itu bukanlah karena skill menawar saya yang mumpuni, tapi karena sudah mendapatkan bisikan gaib dari sopir angkot yang saya naiki sebelumnya. Walaupun setelah sampai Gunung Padang dan menyadari jaraknya yang ternyata lumayan jauh, sepertinya menurut saya terlalu murah ongkos ojek itu. Ingin rasanya menambah 20-30 ribu lagi buat si tukang ojek, tapi sayangnya saya bukanlah laki-laki yang semulia itu saudara-saudara.

Perjalanan dengan ojek menuju Gunung Padang ini sangat menyenangkan. Udaranya sejuk. Pohon-pohonnya hijau. Hamparan perkebunan teh di sepanjang 7 KM jalan sebelum Gunung Padang, begitu indah dipandang mata. Merelaksasi hati dan pikiran. Seolah disentuh tangan lembut mbak-mbak ayu di panti pijat plus-plus.

Tak lama, saat mulai memasuki dusun tempat Situs Gunung Padang berada, gapura besar berbentuk batang pohon yang bertuliskan "Situs Megalith Gunung Padang Cianjur", menyambut saya dengan gagahnya. Sedikit senyum simpul tersungging di bibir. Akhirnya rasa penasaran selama ini akan terbayar sebentar lagi.


Setelah sampai, lalu membayar si tukang ojek dengan segepok uang, sambil menolak tawarannya yang mau menunggu saya pulang. Saya lupa, sebenarnya harus buru-buru karena memang sedang berpacu dengan waktu menuju Gunung Padang ini. Mungkin karena terlalu excited.

Sehabis membeli tiket, langsung menuju ke atas. Ada dua jalur tangga untuk naik. Yang satu adalah tangga batu yang asli dari situs ini dan lebih curam, dengan jarak per tangga yang pendek, sementara jalur yang satunya baru dibuat dari beton, untuk memudahkan para pengunjung menuju ke atas.
Saya memilih naik melalui jalur asli dari situs, yang akhirnya menyadarkan saya akan faktor usia, karena saat sampai di atas, lutut terasa mau copot, jantung berdetak cepat, dada berdebar-debar, mata berkunang-kunang, napas tersengal-sengal dan keringat bercucuran. Mencapai ketinggian 885 mdpl, dengan jalur yang curam, ternyata tidak semudah push up 50 kali di siang bolong seperti yang sering saya lakukan.
Dan ketika teringat kembali semangat membara waktu mendaki Gunung Gede akhir 2008 silam, tanpa merasakan kelelahan yang amat sangat, di situ saya merasa sedih.



Setelah mengambil napas sebentar, barulah mulai mengeksplorasi tempat ini. Sekilas memang terlihat biasa saja, hanya sekumpulan bongkahan batu-batu andesit besar berbentuk persegi yang bertebaran di areal seluas 3 hektar. Untung bukan batu bacan, solar aceh atau yang lainnya. Bisa kaya mendadak dengan bongkahan sebanyak itu. Tapi jika diperhatikan lebih seksama dengan waktu yang sebanyak-banyaknya lagi, bongkahan batu-batu ini sebenarnya membentuk pola-pola ruangan dari sebuah bangunan yang 'mungkin' pernah ada dahulu kala.


Ini adalah penemuan yang sangat luar biasa, yang menyingkap sebuah warisan budaya dari peradaban nusantara zaman baheula. Berdasarkan penelitian, 'bangunan' di Gunung Padang yang terlihat seperti piramida di Mesir ini, diperkirakan umurnya jauh lebih tua dari piramida Mesir tersebut, sekitar 10.000 tahun sebelum Masehi.

Situs Gunung Padang ini pertama kali ditemukan pada tahun 1914 oleh arkeolog Belanda, N.J. Krom. Dan dari penelitian yang dilakukan sejak tahun 1982 sampai sekarang, ditemukan kalau struktur bangunan di sini terdiri atas lima teras/undakan, yang memanjang dari utara ke selatan, dan susunan batu berupa teras batu (terasering) di sisi timur dan barat sebanyak 100 tingkat, sehingga diperkirakan luas bangunan seluruhnya dapat mencapai minimal 25 hektar. Selain itu, diperkirakan bahwa di bawah permukaan bangunan ini juga memiliki chamber dan bentuk-bentuk struktur lain (goa/lorong).

'Karya-karya' masyarakat zaman baheula memang selalu mengundang decak kagum. Bagaimana mereka dengan segala kekurangan teknologi, tidak seperti saat sekarang, tapi bisa menciptakan karya arsitekturial yang begitu luar biasa.




Orang-orang setempat menyebut lima undakan di situs ini sebagai Tahap Kasenian, Kadunyaan, Katapakan, Kadugalan dan Kangkatan. Situs Gunung Padang ini juga diperkirakan merupakan tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 200 tahun SM. Bahkan sampai sekarang pun masih dipakai oleh kelompok penganut agama asli Sunda untuk melakukan pemujaan.
Menurut legenda, situs ini merupakan tempat pertemuan berkala (kemungkinan tahunan) semua ketua adat dari masyarakat Sunda Kuna. Hal itu (sebagai tempat pemujaan), yang menurut hasil penelitian Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir kemungkinan melibatkan musik, diperkuat dengan ditemukannya batuan yang bisa mengeluarkan bunyi layaknya gamelan saat dipukul.

Batu Gamelan
Selain itu juga ditemukan tanda-tanda berbentuk gambar atau cekungan buatan manusia pada setiap batu yang berada di teras 1 s.d. 5, yang memiliki makna masing-masing.

Batu dg cekungan berbentuk kujang & tapak macan
Tempat ini (Situs Gunung Padang) sebelumnya telah dikeramatkan oleh warga setempat. Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangi, Raja Sunda, berusaha membangun istana dalam semalam menggunakan Lego.
Sambil duduk di atas satu bongkahan batu, saya membayangkan bagaimana indahnya istana itu. Pemandangan lembah yang mengelilinginya, yang begitu asri, pasti akan sangat indah dinikmati di pagi hari, di saat sang fajar mulai menampakkan binar-binar cahaya jingga keemasan di sela-sela pepohonan. Sambil menyeruput secangkir kopi, ditemani permaisuri cantik berlesung pipi, yang menawarkan sepiring onde-onde dengan senyum manis. Sempurna!


*biar gak dibilang hoax :p
Tapi, tiba-tiba disadarkan oleh tepukan seseorang di bahu saya. Saat menoleh ke belakang, terlihat sosok berbaju hitam, yang sekilas seperti Raisa dengan balutan gaun hitam nan anggun dengan senyum terkembang. Namun langsung buyar, setelah saya lihat potongan rambutnya yang begitu pendek dengan ikat kepala khas Sunda terlilit, dan jakun yang menyembul dilehernya.
"Si akang juga rombongannya ibu-ibu itu?", tanyanya dengan sopan, sambil menunjuk ke arah ibu-ibu berjilbab yang sedang berfoto bersama.
Suara berat yang akhirnya benar-benar menyadarkan saya sepenuhnya. Dan dengan refleks tingkat dewa penipu, saya pun mengangguk sambil menyunggingkan senyum semanis mungkin. Saya memang tidak semulia itu saudara-saudara.

Setelah laki-laki separuh baya (yang ternyata adalah pemandu di situs Gunung Padang) itu berlalu, saya langsung beranjak turun untuk pulang, karena jam di hape saya sudah menunjukkan pukul 15.15, dan (yang lebih penting) sebelum kebohongan saya ketahuan dan dikutuk jadi batu akik sama mereka.

Sebelum pulang ke Cianjur (lalu ke Jakarta), saya mampir dulu ke Stasiun Lampegan (dengan 2 kali menumpang mobil pick-up & truk). Bukan untuk naik kereta, karena sudah tidak ada lagi, tapi untuk foto :D
Gagal lagi seperti saat ke Gunung Parang. Berpacu dengan waktu memang sangat sulit untuk dimenangi. Tidak semudah berpacu dalam melodi.

wujud tumpangan channing tatum
Terowongan di dekat Stasiun Lampegan
Saat deru commuter line Bogor-Jakarta kembali membawa saya ke istana 3x4 meter tercinta, senyum manis tersungging lagi karena rasa penasaran saya akhirnya terbayar sudah. Mudah-mudahan proses penelitian lanjutan dan pemugaran kedepannya bisa segera selesai, sehingga saya bisa kesana lagi dan melihat 'wujud' bangunan situs yang sebenarnya.



Tabe!


PS :
- Harga tiket masuk terakhir : Rp 4.000,-
- Kalau ada yang kesana, nanti pakai pemandu ya, cuma bayar 35ribuan (seikhlasnya) kok. Jangan ikutin laki-laki begajulan penipu ini. Nanti masuk neraka :D
- Referensi : wikipedia.
- Semua foto hasil jepretan sendiri dengan kamera HP Samsung Galaxy Grand GT-I9082 #disclaimer