Selasa, 01 April 2014

#AyoKeMuseum

Percaya atau tidak, saya belum pernah pergi ke museum seumur hidup saya. Waktu liburan sekolah dulu biasanya selalu ke pantai. Padahal di kampung saya, jarak dari rumah ke museum di sana (Museum Blikon Blewut) cuma 5 - 6 KM saja. Bahkan sering dilewati kalau mau ke kota. Dulu museum itu selalu dipadati pengunjung saat hari raya Natal, tapi saya tidak ada keinginan sedikit pun untuk kesana. Anti-mainstream kali ya. hehe

Nah karena akhir-akhir ini saya mulai menyadari pentingnya mengunjungi museum, sebagai tempat untuk napak tilas sejarah, makanya saat ke Jogja kemarin saya mengagendakan untuk ke museum.
Benteng Vredeburg yang ada di jantung kota Jogja, menjadi museum pertama yang saya kunjungi.

Gerbang Benteng Vredeburg
Benteng yang dibuat tahun 1767 oleh seorang insinyur bernama Frans Haak itu merupakan pusat pemerintahan dan pertahanan residen Belanda saat itu. Kelihatan dari bentuknya dan bangunan yang ada didalamnya, yang tidak terlihat seperti benteng pertahanan.
Di depannya ada parit kecil, sementara di dalam benteng (museum) yang pada awalnya bernama Rustenberg ini terdapat 2 ruangan diorama yang bercerita tentang sejarah perjuangan Indonesia. Disana juga dibangun patung 2 petinggi TNI dulu yaitu Jend. Sudirman dan Jend. Oerip Soemohardjo.
Saya tidak terlalu lama disini, juga tidak pakai guide, jadi untuk lebih detailnya monggo baca sejarahnya disini saja.

Halaman Tengah Museum
Diorama; Romusha
Diorama; Tentara PETA
Diorama; Soekarno-Hatta tiba di Jogja
Di samping kiri dari halaman depan museum ini dibangun Monumen Serangan Umum 1 Maret, yang selalu jadi obyek manusia-manusia narsis untuk berfoto.

Monumen Serangan Umum 1 Maret
Selain di Benteng Vredeburg, saya juga menyempatkan diri untuk ke Museum Perjuangan Yogyakarta dan Museum Taman Siswa. Sayang saat sampai disana, kedua tempat itu sudah tutup, jadi hanya mengambil foto bagian luar saja.

Museum Perjuangan Yogyakarta
Kamar Ki Hadjar Dewantara
Museum Taman Siswa
*Disclaimer : semua foto hasil jepretan saya

Senin, 24 Maret 2014

Promised Land

google pic
Film dengan genre drama, sangat jarang sekali saya tonton. Tapi saat melihat cover film ini di rak salah satu toko DVD bajakan di Glodok, saya langsung suka dan membelinya. Entah kenapa, karena covernya biasa-biasa saja, hanya menampilkan Matt Damon yang sedang berdiri di sebuah bukit.
Ternyata saya tidak salah pilih. Film Promised Land ini sangat berbobot ceritanya, dengan pesan yang begitu kompleks.

Bercerita tentang seorang sales perusahaan pertambangan bernama Global Crosspower Solutions, yaitu Steve Butler (Matt Damon), yang diutus perusahaan bersama rekannya Sue Thomason (Frances McDormand), ke sebuah kota kecil yang sedang mengalami masalah ekonomi, untuk menawarkan agar para warga mau menjual lahan pertanian miliknya kepada perusahaan tersebut, yang mau melakukan ekspansi pertambangan gas alam di daerah itu.

Sayang usahanya yang seharusnya sangat mudah, sedikit terkendala dengan munculnya seorang guru, Frank Yates (Hal Holbrook), pada saat pertemuan, yang meminta untuk dilakukan voting terlebih dahulu, karena dia masih mempertanyakan mengenai jaminan kalau proses tambang tersebut tidak merusak lingkungan, dimana kecenderungan akan kerusakan lingkungan akibat pertambangan sangatlah besar.
Hal ini diperparah lagi dengan munculnya seorang aktivis lingkungan, Dustin Noble (John Krasinski), yang melakukan kampanye penolakan dan mulai mempengaruhi warga dengan bukti-bukti pengaruh buruk sebuah pertambangan terhadap lingkungan.

Perlahan masyarakat yang di awal sepertinya sudah mau menyerahkan tanah mereka, mengingat iming-iming keuntungan jutaan dollar dari tambang ini yang diutarakan Steve, mulai menjauhi dan kemungkinan akan menolak saat voting nantinya.
Namun kemudian satu hari sebelum voting dilakukan, geliat kemenangan menghampiri Steve dan Sue, dimana mereka mendapatkan paket yang berisi bukti kebohongan atas dampak tambang yang selama ini disebarkan oleh Noble sebelumnya.

Saat euforia itu berlangsung, tiba-tiba muncul sebuah fakta mengejutkan kalau Noble ternyata adalah orang utusan dari Global juga, yang berpura-pura menjadi aktivis lingkungan. Jadi bukti-bukti palsu itu sengaja disebarkan untuk menggiring opini masyarakat, dimana apabila mereka akhirnya tahu kalau bukti-bukti tersebut tidak benar, mereka pasti akan memilih untuk menjual tanah miliknya.
Menyadari kecurangan dari perusahaannya, Steve pun membeberkan semua itu saat voting dilakukan, sehingga semua warga lebih memilih untuk tidak menjual tanah mereka.

Cerita tentang pemeran utama yang pada akhirnya berubah pendirian dan berbalik mendukung orang lain seperti itu memang bukan hal yang baru lagi. Tapi satu pelajaran disini bagaimana kita ditunjukkan seberapa buruknya sebuah perusahaan (khususnya pertambangan) dalam menjalankan usahanya. Mereka akan melakukan segala cara, seperti membuat organisasi lingkungan palsu, yang seolah-olah membela warga, tapi nyatanya ditujukan untuk menggiring opini masyarakat agar justru menerima apa yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut.
Dan ini merupakan sebuah kenyataan yang sering dipraktekkan oleh para pengusaha dalam memuluskan usaha mereka. Masyarakat, terutama yang awam, sering sekali tertipu oleh praktek-praktek kotor seperti ini.

Di film ini Matt Damon berhasil memerankan seorang Steve Butler, salesman yang melakukan pekerjaannya dengan profesional sesuai tuntutan perusahaan. Semua konflik yang ada, juga kegamangan yang mulai muncul disaat-saat terakhir, terlihat sekali di raut wajah mantan pemeran Jason Bourne itu. Sangat berkarakter.
Begitu juga John Krasinski, yang sukses berperan sebagai aktivis lingkungan yang militan dan tak kenal kompromi dalam melawan perusahaan yang bisa merusak lingkungan hidup, sehingga bisa menutupi siapa dia sebenarnya dan agenda busuk dibaliknya.
Satu peran yang saya pikir tidak terlalu penting-penting amat adalah karakter Alice, yang sepertinya hanya menjadi bumbu penyedap saja di film ini. Tidak adanya karakter ini pun tidak mempengaruhi cerita.
Satu yang sangat saya sayangkan karena porsinya hanya sedikit adalah karakter Frank Yates. Padahal peran karakter tersebut di cerita film ini cukup signifikan.

Saya punya kebiasaan baru beberapa tahun belakangan ini, yaitu setelah menonton film, di bioskop ataupun DVD bajakan, kalau film tersebut 'ngena' banget di hati (sesuai kriteria saya), pasti akan saya beli DVD aslinya untuk dikoleksi. Dan film Promised Land ini memenuhi kriteria tersebut. *kumpulin recehan. hehe

Rabu, 19 Maret 2014

Kearifan Masa Lampau

Melihat Candi Borobudur dan Prambanan dari dekat (setelah sekian lama selalu gagal), membuat saya terkagum-kagum dengan 'otak' nenek moyang yang membuat bangunan megah ini. Begitu detail dan sangat artistik sekali. Ornamen - ornamen yang menghiasi setiap sudut dan dinding candi begitu indah, dengan sentuhan seni tingkat tinggi.

Puncak Borobudur

Candi Prambanan
Membuat bangunan yang besar, tapi hanya disusun bertingkat-tingkat seperti itu, saya pikir membutuhkan perhitungan yang sangat matang agar bangunan itu bisa kokoh. Bayangkan saja, bangunan masa kini yang dibangun dengan teknologi tinggi pun begitu mudahnya roboh kalau terjadi gempa. Tapi kedua bangunan ini tetap berdiri tegak dengan gagahnya, waktu terjadi gempa Yogyakarta lalu.
Memang sudah banyak juga bagian candi yang hancur dan jatuh, juga sudah mengalami pemugaran. Tapi melihat usianya yang sudah ribuan tahun lamanya, hal itu tidak mengurangi kegagahannya.

Satu yang membuat saya tidak habis pikir adalah bagaimana mereka di masa itu, sudah memikirkan tentang teknik pembuangan air. Baik di Prambanan maupun Borobudur, saya melihat di setiap sudut candi selalu ada semacam saluran air/talang, yang berfungsi untuk mengalirkan air hujan agar tidak menggenangi candi. Bentuknya berbeda, yang pasti sangat artistik.

Talang Air di Borobudur. Yg di Prambanan ga kepikiran difoto :D
Itu kesimpulan saya sendiri sebenarnya, karena saya tidak menggunakan pemandu wisata waktu itu, jadi saya tidak tahu persis fungsinya. Tapi mudah-mudahan saya benar :D

Lokasinya yang begitu indah, asri dan hijau, juga menjadi kekaguman tersendiri. Bayangkan saja punya rumah di daerah yang seperti itu, pasti so romantic ya :)
Terimakasih untuk pengelola tempat wisata yang sudah merawat warisan budaya yang begitu indah itu dengan baik.

Taman di jalan menuju Prambanan 

Salah satu sisi bukit di Borobudur
Terlepas dari segala macam misteri dan mitos yang ada, kedua candi tersebut adalah bukti nyata kearifan lokal masa lalu, yang ditinggalkan oleh para leluhur untuk anak cucunya, yang pasti untuk dijaga dan dipelihara dengan baik.
Satu kebanggaan tersendiri bisa melihatnya dari dekat.

Salah satu bangunan candi di lokasi Prambanan

Prambanan
Salah satu sisi Borobudur

Pahatan di sisi Candi Prambanan

Sisi bukit Borobudur
Stupa Borobudur
*Disclaimer : Semua foto abal-abal ini adalah hasil jepretan ane sendiri ;)

Kamis, 27 Februari 2014

Lukas Lekot Jadi Caleg

Pagi itu di sebuah kolam renang di komplek perumahan elit yang dibangun oleh developer terkenal, Ciputri, terdengar obrolan 3 orang bapak rumah tangga pengangguran, yang sedang menunggu anaknya berenang.

"Eh jeng, pemilu udah dekat nie. Kalian udah ada calon untuk dicoblos?", si Tius tiba-tiba serius bertanya.

Dorus yang pernah kuliah sampai semester 2 di Fisip UI serius juga menimpali, "Gue masih bingung nie. Konstalasi politik di Negara kita ini makin lama makin keluar dari koridor yang sesungguhnya. Hampir semua partai saat ini sulit untuk dipercaya. Liat Partai Keindahan Sempurna, sebelumnya ane demen banget, tapi ujung-ujungnya tergiur daging sapi dan dara belia. Demokarat, Golkart dan yang lainnya sama juga. Trus, ……......................”

“Sorry bro. Lu juga udah melenceng dari konstalasi pertanyaan gue tadi. Gue cuma pengen tau udah ada apa belum doang”, potong Tius.

“Pokoknya gua kagak mau pilih bintang iklan, apalagi capres yang cuma bisa ngomong teeerlaaluu. Udah cukup 10 tahun dipimpin pencipta lagu yang cuma bisa prihatin doang. Titik”, Dorus agak kesal gara-gara materi kuliahnya tadi dipotong semena-mena sama si Tius.

Akhirnya si Domi yang dari tadi diam, angkat bicara juga, “Udahlah kenapa jadi serius gini sih obrolannya, masih pagi juga. Kalau gue mah bodo amat soal calon-calon gituan. Mending gue pikirin belanja apa, yang bakal jadi calon makanan bini gue entar pas pulang kerja. Apalagi apaan tadi, konstalasi. Gue ga ngerti. Gue taunya instalasi. Dari colokan ke rice cooker, ke oven, ke kompor gas, ke mixer, ke setrika, dan lain-lain. Mending daripada lu berdua pusing, pilih si Lukas Lekot aja tuh, dia kan nyalonin juga. Tetanggaan pula. Kalo dekat gitu kan enak, inspirasi kita lebih mudah tersampaikan, cuma 5 langkah dari rumah”.

“Aspirasi, kampreeeeeeeet!!”, teriak dua temannya.

Si tetangga 5 langkah dari rumah tadi, memang mencalonkan diri jadi anggota DPR RI Dapil Jakarta 1, dari Partai Hanuman (Hati Nurani Manusia).
Semua tim sukses dia saat pencalonan dirinya jadi Ketua RT, dikumpulkan lagi. Strategi baru kembali digodok, agar kekalahan saat pemilihan Ketua RT 3 bulan lalu tidak terulang lagi. Kali ini poster dibuat lebih banyak, dengan tampilan yang lebih artistik mendekati futuristik, dan foto dirinya pun lebih segar dengan senyum lebar, selebar daun keladi, menunjukkan gigi putihnya, ditambah dengan gambar idolanya, Robin Hood.
Pohon-pohon di sepanjang jalan, dipenuhi dengan tempelan poster dirinya, agar orang-orang yang kebelet dan kemudian kencing disitu, bisa melihat poster itu.

Banner dan spanduk diperbesar, agar orang bisa lebih jelas lagi membacanya. Setiap hari ada iklan tentang dia di radio miliknya, Radio Cinta Tuk Istri (RCTI), bahkan dibuat kuis settingan setiap jam 5 sore.
Penampilannya pun dirubah. Tak seperti biasa, Lukas yang dikenal sebagai laki-laki metroseksual di kompleks setempat, yang biasa memakai produk mahal seperti Prada, Dior, Ferrari, Apple, dan lain-lain itu, kini setiap hari pakai batik Tanah Abang, mobil Esemka, bahkan minumnya pun bir plethok, biar terlihat lebih merakyat dan nasionalis.
Saat blusukan pun, memaksakan diri untuk makan jagung bose, walaupun sehabis itu langsung kena diare stadium 2.

Visi misi dibuat seciamik mungkin. Slogan “siap mati demi rakyat”, yang dianggap terlalu seram, diganti menjadi lebih religius dengan mengambil dari Kitab Suci, yaitu : “Menjadi garam dan terang bagi rakyat, menuju tanah terjanji”.

Selain itu juga, dibentuk Rekot (Relawan Lukas Lekot), untuk menampung sukarelawan yang ingin ikut berpartisipasi menyukseskan pencalonan dirinya, sehingga bisa terpilih.

Sementara tetangganya, Tius, Dorus dan Domi, hanya menanti datangnya hari H Pemilu, dengan harapan akan ada serangan fajar dari tim sukses, sehingga bisa jadi tambahan untuk membeli bumbu dapur dan sayur.
Tapi ketiga bapak rumah tangga yang juga suami takut istri itu, sudah memutuskan untuk menjadi golput, tidak mau memilih siapapun dan partai manapun. Mereka sadar kalau semua yang disampaikan saat kampanye itu hanyalah sebuah fatamorgana belaka, yang cuma menjadi kamuflase untuk menutupi maksud yang sebenarnya, entah apa.

“Ujung-ujungnya OMDO”, kata Dorus, si sarjana tak kesampaian.

“Udah omong doang, bawaannya pasti cuma prihatin. Teeerlaaaluuu..!!”, si Tius yang mukanya mirip Balotelli, menimpali.

Dan Domi yang laki banget, menyimpulkan, “Yapz. Mending kita pikirin gimana caranya biar selalu menjadi suami yang baik, ciamik dan soleh di mata istri, biar uang belanja bulanan dilebihin dikit”.

Kedua temannya hanya bengong dan menatap tanpa ekspresi.

Rabu, 12 Februari 2014

Comic 8 The Movie

Film action-comedy di Indonesia memang sangat jarang sekali akhir-akhir ini. Yang terakhir mungkin filmnya Warkop DKI yang Manusia 6.000.000 Dollar (1981). Entah film Laskar Pemimpi (2010), yang dibintangi para personil Project Pop termasuk dalam genre ini apa bukan (soalnya perang-perangan tapi kocak. hehe).

Kemunculan Comic 8 The Movie ini memang sudah ditunggu-tunggu, terlebih oleh penggemar komedi seperti saya. Antusiasme itu terlihat sejak Pandji Pragiwaksono lewat akun twitternya @pandji, mengumumkan tentang film ini, bahkan  sebelum trailernya keluar.
Jelas saja, karena deretan bintang utamanya adalah para standup comedian a.k.a komika a.k.a comic, yang sudah sering mengocok perut dengan penampilan mereka di tivi, seperti Mongol Stres, Mudy Tailor, Ernest Prakasa, Kemal Palevi, Bintang Timur, Babe Cabita, Fico Fachriza dan Arie Kriting.

Dan ternyata antusiasme itu terbayar oleh film besutan Anggy Umbara ini, bahkan sejak menit pertama film ini dimulai. Penonton seolah sedang menonton standup comedy di film ini. Kita dikasih sebuah setup yang rapi dan akhirnya disuguhi punchline yang bikin ngakak. Bahkan kadang ada double punchline, triple dan seterusnya. Pokoknya ngakak sepanjang waktu. Bahkan bit-bit mereka yang sudah sering dilemparkan saat standup pun diselipkan disini, dan masih bikin ketawa.

Satu kejelian dari sutradaranya ialah membiarkan para komika ini bermain sebagai dirinya dan sesuai karakter mereka saat melakukan standup comedy. Sama seperti yang biasa dilakukan oleh trio Warkop DKI di semua filmnya.
Karena kalau di Comic 8 ini mereka bermain dengan karakter peran sebagai orang lain, saya pikir kemungkinan tingkat lucunya akan berkurang, bahkan mungkin cenderung garing.
Menempatkan aktris dengan akting mumpuni seperti Nirina Zubir juga satu bentuk kejelian dari sutradara (menurut saya) untuk memberi sedikit warna di film ini.

Tapi tidak hanya di sisi komedinya, kekuatan dari film ini juga ada di ceritanya yang berkualitas. Awalnya saya mengira kalau cerita film ini akan seperti film-film komedi Indonesia pada umumnya, yang seperti biasa lebih menitikberatkan pada lawakannya, ketimbang cerita.
Salut buat penulis skenarionya. Beberapa kali saya 'tertipu'. Saya sudah mengira ini memang cerita perampokan Bank oleh tiga kelompok orang (Amateurs, Gangsters, Freaks), dengan latar belakang untuk merampok yang berbeda (sesuai dengan yang ditampilkan di film ini). Tapi ternyata faktanya mereka adalah sekelompok orang gila yang kabur dari sebuah RS Jiwa, yang dikelola oleh Pandji. Oke kalau gitu.
Tapi sekali lagi, sebelum saya selesai membuat kesimpulan, saya dikasih lagi satu fakta baru bahwa ternyata mereka dimanfaatkan oleh dokter Pandji dan komplotannya untuk merampok Bank, dengan di brainwash terlebih dahulu.
Sialnya lagi, itu juga bukan fakta terakhir. Ternyata mereka sengaja dimasukkan ke RS Jiwa tersebut oleh Indro Warkop, dengan dihipnotis menjadi gila terlebih dahulu, yang tujuannya untuk mengungkap kejahatan dari Pandji.
Kampret. Saya sampai angkat tangan, tidak mau menyimpulkan lagi sebelum nie film abis (benar-benar abis). Alur ceritanya kelas wahid coy.
Bukan hanya itu. Awalnya saya mengira peran Indro Warkop, Candil, Pandji dan Nikita Mirzani cuma cameo pemanis cerita saja. Tapi ternyata mereka juga masuk ke dalam skenario besar dari film ini. Gila. Nie film komedi benar-benar 'SERIUS'. Apalagi aksi tembak-tembakan, kejar-kejaran dan ledakannya pun digarap benar-benar seperti film dengan genre action.

Dan tidak hanya 'kegilaan' diatas, film ini juga memiliki beberapa pelajaran penting dan kritik sosial yang bagus sekali. Pindahkan ibukota ke Papua, kurangi macet, bereskan banjir, selesaikan monorail, juga polisi yang ngemeng Inggris mulu (tulisan saya tentang Bahasa Inggris di Indonesia, disini), dll, semuanya memiliki arti masing-masing baik tersurat maupun tersirat.
Mungkin yang paling besar pelajarannya (menurut saya), adalah kalau tempat semulia RS Jiwa sekalipun, jika dipimpin oleh orang yang salah, pasti akan dimanfaatkan untuk melakukan suatu kejahatan/hal negatif lainnya. Apalagi kalau sebuah negara dipimpin oleh Presiden yang cuma bisa prihatin sambil bikin lagu. *eh

Saya tidak membahas akting para pemerannya, karena suguhan keseluruhan film yang mengocok perut, juga alur cerita yang tidak diduga sama sekali, benar-benar mengalihkan perhatian. Pokoknya nie film keren dah.
Ini beberapa catatan penting dari saya :

  • Penampilan Nikita Mirzani di film ini sangat signifikan sekali, untuk menghangatkan suasana di bioskop yang ber-AC :p
  • Kiki Fatmala seharusnya punya porsi yang lebih banyak lagi, daripada sekedar cameo saja. Kita sangat membutuhkan sosok mature seperti itu :)))
  • Pak EsBeYe harus nonton film ini. Biar bisa ceria sedikit, tidak merengut terus. Kasihan rakyat disuguhi tampang seperti itu mulu :D
Tantangan bagi sutradara pasti akan lebih besar lagi saat menggarap sekuel film ini (di akhir film diceritakan kalau ada misi kedua). Karena dengan suksesnya film pertama ini, semua orang (termasuk saya) punya ekspektasi lebih lagi untuk film berikutnya, baik dari segi cerita, komedi maupun action-nya.

Harapan saya semoga Comic 8 The Movie ini bisa menjadi satu babak baru perfilman Indonesia, khususnya genre action-comedy, sama seperti genre action dengan kemunculan film Merantau dan The Raid sebelumnya, disaat bioskop-bioskop nasional selalu digentayangi setan-setan aneh dan  tebaran tanktop, hot pants, underwear dimana-mana.

Dan yang pasti, Comic 8 The Movie akan menambah koleksi film (DVD asli tentunya) di lemari saya.


Rabu, 05 Februari 2014

Orang Indonesia & Bahasa Inggris

Fenomena penggunaan Bahasa Inggris di Indonesia ini makin lama makin aneh menurut saya. Bahkan kita cenderung 'mendewakan' bahasa dari tanah Britania tersebut. Kenapa saya bilang begitu, karena saya melihat Bahasa Inggris di Indonesia ini makin lama dijadikan seperti bahasa sehari-hari layaknya bahasa sendiri.

Oke. Saya tidak melihat kalau itu jelek. Justru itu (bisa berbahasa inggris) memang sangat dibutuhkan, mengingat perkembangan globalisasi yang begitu cepat saat ini, juga perdagangan bebas nantinya, hal ini pasti akan sangat menguntungkan untuk memudahkan komunikasi.
Hanya saja, seperti yang saya bilang di atas, saat ini orang Indonesia sudah menjadikannya (Bahasa Inggris) seperti bahasa sehari-hari. Apapun yang dibicarakan, bahkan dengan orang Indonesia sekalipun, selalu disisipkan dengan Bahasa Inggris, seolah dengan berbicara seperti itu bisa membuat dia terlihat keren, gaul dan cetar membahana di mata lawan bicaranya. Seakan kalau tidak seperti itu, rasanya bagaikan makan sayur tanpa garam, atau makan pecel lele tanpa sambal & lalapan, atau makan makanan bergizi (4 sehat) tanpa minum susu, tidak sempurna. Gak afdol beud.

Padahal tujuan kita belajar Bahasa Inggris itu, agar bisa berbicara dengan orang asing yang tidak bisa berbahasa Indonesia (tapi bisa Bahasa Inggris tentunya), bukan buat jadi anak gaul.
Saya pernah menonton satu acara talk show di TV. Ada satu bintang tamu yang sebelumnya menjawab dengan Bahasa Indonesia 100%, jadi berubah gara-gara bintang tamu berikutnya menjawab dengan Bahasa Indonesia - Inggris. Dia tidak mau kalah 'keren' sepertinya. Padahal yang nonton acara itu, kemungkinan  sebagian besar emak-emak di kampung, yang saya perkirakan pasti hanya planga-plongo mangap-mangap, sambil bilang : "ngomong opo cuk".

Belum lagi pembelajaran Bahasa Inggris sejak dini yang juga tak kalah 'wah'.
Saya pernah ketemu satu keluarga di supermarket, yang 2 anaknya (masih SD) sangat fasih berbahasa Inggris. Anehnya, anak-anak itu tidak sekalipun mengobrol dalam Bahasa Indonesia. Saya hampir saja mengira kalau saya sedang berada di Inggris, sebelum suara medok bapak mereka yang sedang menerima telepon dalam Bahasa Jawa membuyarkannya.
Pertanyaan saya, kenapa anaknya tidak disuruh ngobrol pake Bahasa Jawa saja, hitung-hitung melestarikan bahasa daerah sebelum punah sendiri (700 bahasa daerah terancam punah). Kenapa harus Bahasa Inggris coba. Kalau mau setiap hari berbahasa Inggris ria, lebih baik beli saja rumah di Bali, Lombok, Jl. Jaksa Jakarta, atau dimanalah yang banyak orang asingnya, biar bisa ngobrol dengan bule-bule nyasar disana setiap hari.

Yang lebih parah lagi, di Indonesia yang tercinta ini, kemampuan berbahasa Inggris seseorang, dijadikan tolak ukur tingkat intelektualitas yang bersangkutan.
Banyak sekali perusahaan yang mewajibkan calon karyawan untuk fasih berbahasa Inggris. Oke kalau itu perusahaan PMA (Perusahaan Modal Asing) atau perusahaan ekspor-import yang selalu berhubungan dengan orang asing. Nah kalau yang kemungkinannya sangat kecil untuk bersinggungan dengan pihak luar negeri, ngapain. Mungkin untuk beberapa posisi seperti receptionist, manager, dan beberapa yang lain, bolehlah untuk wajib fasih berbahasa Inggris karena kemungkinan bertemu dengan orang asing sangat besar. Nah kalau posisi-posisi yang hanya ada di balik meja dan di dalam ruangan seperti gadis pingitan, ngapain.

Bahkan beberapa lembaga pemerintahan pun mewajibkan calon PNS untuk fasih berbahasa Inggris, dengan mensyaratkan batas nilai TOEFL dari pelamar. Kementerian Perdagangan malah mewajibkan nilai TOEFL yang tinggi sebesar 500.
Yang aneh bagi saya, mau masuk lembaga pemerintahan Negara Indonesia kita tercinta, tapi harus lancar berbahasa Inggris. ???????? Memangnya negara kita ini anggota Persemakmuran Inggris Raya.
Saya setuju PNS harus fasih berbahasa Inggris (biar gak terlihat bego-bego amat), tapi saya tidak setuju kalau itu menjadi syarat untuk menjadi PNS. Seharusnya menurut saya, syarat tersebut ditiadakan saja. Nanti setelah masuk, baru diwajibkan untuk mengikuti program kursus Bahasa Inggris yang diadakan oleh lembaga yang bersangkutan.
Satu lagi kenapa saya tidak setuju dengan syarat nilai TOEFL diatas, karena seyogyanya TOEFL (Test Of English as a Foreign Language) ini adalah standarisasi bagi seseorang yang ingin belajar keluar negeri, namun dia berasal dari negara yang bahasa ibunya bukan Bahasa Inggris.
Tidak semua PNS akan sekolah/kerja di luar negeri kan?

Selain itu, orang Indonesia juga paling suka mempersoalkan mengenai pelafalan Bahasa Inggris seseorang. Kita pasti ditertawakan orang, kalau ngemeng Inggris dengan logat Jawa, Padang, Flores, atau lainnya. Pelafalannya harus Inggris (US) beud, baru oke. Contoh kata Jakarta, harus dilafalkan dengan Jekardah atau apalah itu.
Padahal orang-orang dari negara lain, tidak seperti itu. Coba dengar lafal Inggris dari orang Eropa Timur, Rusia, China, Jepang, Amerika Latin, dan lain-lain, semua ngemeng Inggris dengan logat negaranya masing-masing. Kita bahkan bisa langsung menebak asal negaranya, saat mendengar mereka berbicara.
Kadang orang Indonesia ini memang lebay-lebay gak jelas bingit.

Sebenarnya saya menulis ini bukan karena anti berbahasa Inggris. Saya juga belajar Bahasa Inggris kok. Hanya saja yang membuat saya miris adalah penggunaan Bahasa Inggris yang tidak sesuai dengan SIKONTOL (Situasi, Kondisi & Toleransi). hehe

Kalau seperti ini, bisa-bisa generasi berikutnya malah lebih fasih berbahasa Inggris daripada Bahasa Indonesia. Seperti di acara Bukan Empat Mata beberapa minggu yang lalu, salah satu bintang tamu yaitu Sean Idol, tidak tau Bahasa Indonesia dari kata stereotype yang baru disebutkannya. X_X
Mudah-mudahan cuma kata itu saja yang dia tidak tahu.
Kalau tidak, ya bersiaplah kalau kata ngomong opo cuk, menjadi kalimat wajib orang tua nantinya, saat mengobrol dengan si anak.

Kamis, 23 Januari 2014

Ngebolang Nang Jogja

Pagi yang cerah di Stasiun Lempuyangan, saat KA Progo yang saya tumpangi sampai dengan manisnya. Berbeda dengan semalam, ketika deru bajaj dan deras hujan mengantarkan kepergian saya dari hiruk pikuk Jakarta, menuju Kota Jogja yang katanya istimewa ini.
Stasiun Lempuyangan
Suasana pagi yang sedikit berbeda. Tidak ada suara bising bajaj, tidak ada kata elo gue dan sejenisnya, juga tidak ada suara fals teman kosan yang bikin mual.
Yapz, akhirnya rencana backpacking ini 'tereksekusi' juga. Karena ini pertama kalinya saya melakukan 'jalan-jalan kere', jadi setelah memilah-milah, akhirnya terpilihlah kota ini. Alasannya simple : udah pernah kesini, jadi lebih gampang.

Memutuskan untuk jalan kaki dari stasiun ke Malioboro, menjadi keputusan yang sangat tepat sekali. Selain karena tidak terlalu jauh (setelah saya terawang), suasana pagi yang masih adem, sepi kendaraan, sepertinya akan sangat disayangkan kalau dilalui begitu saja menggunakan kendaraan (selain alasan biar irit).
Suasana pagi di prapatan jl. ahmad yani
Satu keunikan yang saya dapat saat keluar dari stasiun, banyak tukang becak dan ojek yang menghampiri saya untuk menawarkan jasanya, tapi mereka langsung menyebut ongkosnya yaitu 5 - 10 ribu, tanpa menanyakan terlebih dahulu kemana tujuan saya. Bagaimana kalau saya bilang mau ke Solo, apa tarif itu tetap berlaku?

Sambil menunggu Museum Benteng Vredeburg buka, mengisi kekosongan perut dengan panganan bergizi, walau bukan 4 sehat 5 sempurna, adalah pilihan satu-satunya di pagi hari yang mendadak mendung tiba-tiba ini.
Tidak terlalu lama saya di museum ini, karena tidak banyak juga yang perlu dilihat. Menu utamanya (menurut saya) hanya 2 ruangan diorama yang menggambarkan kisah-kisah perjuangan zaman baheula, plus Monumen Serangan Umum 1 Maret di depannya.
Gerbang Benteng Vredeburg

Monumen Serangan Umum 1 Maret
Dari situ saya langsung ke Keraton (jalan kaki). Ini sebenarnya tempat pertama yang ada di list perjalanan saya. Tapi berhubung yang lebih dekat Benteng Vredeburg tadi, ya melenceng dikit ora opo-opo lah.
Karena tempatnya yang luas dan banyak obyek foto yang bagus (walau hasilnya belum tentu bagus), saya sedikit lama di pusat pemerintahan Kesultanan Jogja ini. Tempat yang bagus, budaya yang terpelihara dengan baik, saksi kejayaan zaman lampau yang sepertinya menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Jogja, dan tentunya yang membuat Jogja berpredikat Daerah Istimewa.
Gerbang Utara Keraton (kalo gak salah arah)
Keluar dari gerbang Keraton, saya menuju ke Taman Sari, dan merelakan untuk membayar becak, padahal tempatnya tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh dengan jalan kaki dari situ. Ane kirain jauh pret!
Katanya, Taman Sari itu tempat mandinya Sultan beserta istri-istrinya. Setelah masuk, saya langsung membayangkan berapa sih istrinya Sultan. Kolamnya ada tiga dan lumayan luas seperti kolam renang umum yang suka disewakan itu.
Taman Sari
Ah sudahlah!
Daripada memikirkan hal-hal yang tidak perlu, lebih baik mencari sesuatu yang lezat untuk memanjakan perut tercinta, sambil mencari tempat penginapan, yang MURAH tentunya.
Bertanyalah pada peta spt Dora
Akhirnya, setelah keluar masuk beberapa hotel dan losmen di daerah Sosrowijayan, saya memutuskan untuk menginap di Indonesia Hotel, yang kebetulan kamar termurahnya lebih murah dibandingkan yang lain. Sebenarnya saya berniat untuk menginap di daerah Prawirotaman, yang berdasarkan informasi adalah 'kampungnya para backpacker', jadi pasti lebih murah, tapi setelah melihat peta, kelihatannya jauh, jadi saya batalkan. Tapi ternyata dekat, setelah saya melewatinya saat mau ke Parangtritis.

Istirahat sejenak di penginapan. Mandi dan berleha-leha di atas kasur (sambil membayangkan kalau ini Hotel Indonesia), melemaskan otot-otot kaki yang kemungkinan sebentar lagi membengkak seperti kaki pemain sepakbola. Maklum pagi tadi cerita perjalanannya bertema all by my foot.

Sebelum ke Candi Prambanan, saya menyempatkan diri sebentar untuk 'mengecek' kondisi lapak di Jl. Pasar Kembang, tanya soal jadwal kereta api ke Solo di Stasiun Tugu, dan menjepret Tugu Jogja di Jl. Kiai Mojo, sebagai pengesahan kunjungan saya ke kota pelajar ini.
Tugu Jogja
Dan dengan Trans Jogja dan sedikit bantuan kaki (ini pun karena hasil penerawangan saya kalau jarak halte terakhir dan lokasi candi dekat), sampailah saya ke tempat berdiamnya Loro Jonggrang itu, yang sebelumnya selalu tidak kesampaian. Benar kata pepatah : tidak kesampaian pasti berlalu.
Saat melihat karya ciamik nenek moyang orang Jogja ini (entah pelaut apa bukan), saya hanya berdecak kagum dan sempat bilang WOW!, meski tidak pakai koprol. Kalau kata Tukul Arwana mah ini luar biasa, amazing, incredible, extra ordinary, eaa eaa eaa!
Saking eaa-nya, saya sampai tidak tahu angle mana yang bagus untuk menghasilkan sebuah foto abal-abal.
Candi Prambanan
Sayang, rencana saya untuk ke Candi Ratu Boko tidak kesampaian, berhubung tiket terusan kesana sudah ditutup, malas pakai ojek, dan karena mendung yang menggelayut pekat di langit, membuat saya sebagai sunset hunter menjadi berpikir ulang lagi. Daripada buang waktu dan duit tentunya, tapi sunset-nya ketutup awan hitam, lebih baik ditunda saja. Masih ada hari esok. Toh tidak kesampaian pasti berlalu kan.
Jadi lebih baik pulang, bobo unyu di kamar, biar besok bisa cetar membabibuta. Tapi sebelum itu mamam duyu dech di Malioboro, sambil dengerin musisi jalanan bernyanyi lagu Jogja dari Kla Project.


Kembali di pagi hari yang mendung, Trans Jogja mengantarkan saya ke Jokteng Wetan, untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan bis jurusan Jogja - Paris.
Di Parangtritis cuma foto-foto sebentar, karena sudah pernah kesini, jadinya ya gitu deh.
Pantai Parangtritis
Tujuan utama saya sebenarnya ke Gumuk Pasir, tapi karena perkiraan saya kalau lokasinya di sekitar Pantai Paris itu, jadinya ya gitu deh.
Berhubung bisnya bukan punya bapak saya, dan berhubung disitu adalah TPA (Tempat Pemberhentian Akhir) dari bis itu, maka dengan tanpa pertimbangan lagi saya memutuskan untuk jalan kaki ke lokasi Gumuk Pasir berada. Ternyata jaraknya lumayan jauh, kemungkinan 5 km. Tapi karena sepanjang jalan kenangan ini, saya berlagak seperti fotografer National Geographic, jepret sana, jepret sini, jarak yang jauh itu pun tidak terasa, bahkan pegalnya kaki ku bawa berlari hingga hilang pedih perih.

Sampai di Gumuk Pasir, saya merasa seperti sedang berada di Gurun Sahara atau Gurun Gobi gitu. Bukit pasir yang luas membuat saya berlama-lama disini. Apalagi saya sendirian, jadi sangat puas dengan hasil foto yang saya ambil (walau tetap abal-abal), karena tidak terkontaminasi dengan penampakan manusia - manusia yang entah nenek moyangnya pelaut apa bukan.
Salah satu sisi dari bukit berpasir di Gumuk Pasir
Seandainya saat itu saya memakai baju putih terusan seperti seragam wajib anggota FPI, ditambah sorban di kepala dan tongkat kayu, pasti terlihat seperti musafir di Arab sana, yang sedang dehidrasi lagi mencari oase.
Salah satu 'oase' di Gumuk Pasir
Setelah hampir 1,5 jam sendirian panas-panasan disitu, tiba-tiba pasir berbisik lembut, katanya : "Bro, pulang yuk. Kan masih harus ke Museum Perjuangan Yogya dan Museum Taman Siswa."
Sayang, saat sampai, kedua tempat itu sudah tutup, alhasil ane fulang dulu ke hotel, lewat Jembatan Sayidan di Jl. Sultan Agung. Kaki ane benar-benar fegal tak terkira. *mendadak ngarab
Dan saya baru menyadari kalau ternyata jalan kaki dapat menyebabkan kecapaian, kaki pegal-pegal, ketiduran dan gagal ke Borobudur.
Gara-gara itu, rencana ke Solo batal, karena harus tetap ke Borobudur keesokan harinya, pagi-pagi buta biar bisa lihat sunrise.

Namun, niat untuk melihat sunrise di Borobudur dari Punthuk Setumbu atau Puncak Suroloyo tidak terlaksana, karena ketidakbisaan saya untuk bangun pagi.
Akhirnya saya memutuskan untuk ke Kaliurang terlebih dahulu.
Kembali dengan Trans Jogja ke arah Kentungan, kemudian dilanjutkan dengan naik angkot jurusan Jogja - Kaliurang. Berdesak-desakan dengan warga Kaliurang yang baru pulang dari Pasar Pakem, di dalam mobil kecil, menjadi satu keseruan yang luar biasa. Panas-panasan, bau sayuran, logat Jawa yang medokfully, tumpukan barang bawaan di depan komuk. Seru kan?
:D
Namun keputusan ini sempat membuat aing lieur (saya pusing). Hal ini gara-gara setelah saya keliling sebentar di Wisata Hutan Tlogo Muncar, dan mau pulang, ternyata angkot ke Jogja tadi sangat lama sekali datangnya. Dan saya baru tahu dari warga setempat, kalau angkot yang saya naiki tadi memang lama seperti itu, karena mereka (penduduk disitu) sudah lebih sering menggunakan motor sendiri daripada angkot. Saya hanya bengong dan was-was kalau rencana ke Borobudur batal lagi.
Jam 11 (setelah lama menunggu), angkot yang ditunggu pun datang. Tapi itu belum menghilangkan rasa was-was saya, karena jalannya yang selow-selow bekicot, waton-waton asal kelakon. Padahal waktunya sudah mepet dengan jadwal kereta untuk pulang ke Jakarta, kalau dihitung dengan lama perjalanan pulang-pergi Borobudur. Beruntung perjalanan dari Terminal Jombor ke Borobudur tidak macet, sehingga saya bisa sedikit lega.
Sayang rasa lega itu hanya sebentar, karena tidak berapa lama setelah sampai di tingkat paling atas dari candi Budha itu, tiba-tiba cinta datang kepadaku *eh maksudnya tiba-tiba hujan deras mengguyur tanpa sms terlebih dahulu. Sial, padahal baru beberapa jepretan foto yang saya ambil dengan susah payah, karena harus menghindari kerumunan manusia-manusia kacrut yang begitu banyak.
Candi Borobudur + manusia2 kacrut
Terpaksa langsung pulang walau hujan-hujanan, karena harus berpacu dengan waktu, agar tidak terlambat sampai ke Stasiun Lempuyangan.

Akhirnya bye-bye Jogja Istimewa, seistimewa sarapan nasi goreng pakai telor ceplok dua.
[17-19.01.2014]


*Disclaimer : Semua foto adalah hasil jepretan ane sendiri. Keliatan dari abal-abalnya sih.

*NOTE:

  • Siapkan recehan yang banyak, karena kata "uang kecil saja" akan selalu terdengar saat membayar dengan 'uang besar'. Daripada ribet nyari tukeran.
  • Cari tahu letak arah mata angin yang benar di mbah google, karena itu yang akan ente dengar saat tanya lokasi ke warga setempat.
  • Ingat, BANGJO = LAMPU MERAH = LAMPU LALULINTAS. Biar gak bingung.