Sabtu, 19 April 2014

Pluralis

Tlah tiba ini subuh
Si bocah beranjak bangun dengan muka lusuh
Piyama diganti jubah para biksu
Tertatih ke belakang mengambil wudhu
Segarnya air ke muka saat dibasuh

Kembali ke rumah membakar dupa
Depan patung Budha dan Dewa Khrisna
Tanda Salib mengawali doa Bapa Kami - Salam Maria
Di leher tergantung Rosario. Di tangan memegang Tasbih. Di hadapan terbuka Tripitaka dan Veda
Khusyuk. Hening. Penuh iman

Gosip menyebar. Pun mencibir semua tetangga
Wong gendeng ini bocah. Kata mereka
Agama dicampur dikira gado-gado
Sarap. Gila

Si bocah tersenyum. Heran. Bertanya
Katanya DIA Maha Esa?
Bukankah agama semua ajarkan baik adanya?
Ku jalani semua. Bukankah itu besarlah jaminan surga?
Bukankah Tuhan tak menoleh pada apa agamamu?
Bukankah Tuhan cukup memilah besar pahalamu?

-Paul de Chivo-
Bis P9 A (Senen-Bekasi), 18 Maret 2014

Selasa, 15 April 2014

Sunset

Semburat jingga di balik siluet kota metropolitan
Mentari kan berbagi kisah dengan rembulan
Siang pun tersisih oleh gelap malam
Si cantik beranjak dari balik meja
Lengan-lengan kasar mengemasi perkakas tua
Selesai sudah hari ini bercerita

-Paul de Chivo-
Kos Mabes, 17 Maret 2014

Kamis, 10 April 2014

Balada Antipati

Hei kalian yang lagi getol kampanye dan pencitraan diri
Kami muak dengan semua bualanmu. Cuiih!
Semua omong kosong kalian di layar kaca
Lakon bak pangeran impian putri cinderella
Dan kalian pikir kami dengan mudahnya percaya
Oh tidak tuan. Kepercayaan kami sudah lama ditelan senja

Lebih baik kota ini dipenuhi graffiti dan karya seni
Daripada bertebaran baliho capres, caleg dan atribut partai
Kami ingin hidup sejahtera, bahagia dan damai
Tapi bukan dengan melihat tampangmu yang mirip tokai

Negeri ini bukan teater sandiwara
Bukan cerita sinetron di layar kaca
Kami butuh tuntunan bukan tontonan
Kami butuh nasi bukan bualan visi misi
Kami butuh beras dalam lumbung, bukan lagu dalam album

Membusungkan dada, tampak gagah, penuh percaya diri
Sakit mental kronis tak tahu diri
Merasa diri ksatria sejati
Pembela rakyat, penyalur suara dan aspirasi
Cuiih! Topeng monyet berdasi
Kami tahu perutmu butuh diisi
Dan disana lahan yang kalian cari
Karna tak hanya gaji yang kan dinikmati
Obyek proyek menanti tuk dimanipulasi
Korupsi
Gratifikasi
Masturbasi

Hei tuan-tuan yang kami hormati
Mulailah sadar diri kalau tak punya kompetensi
Simpan iklan bualan tak berguna itu
Foto narsismu lebih indah kalau di dalam saku
Tarik diri
Jangan rusak negeri kami

-Paul de Chivo-
Kos Mabes, 20 Februari 2014

Selasa, 01 April 2014

#AyoKeMuseum

Percaya atau tidak, saya belum pernah pergi ke museum seumur hidup saya. Waktu liburan sekolah dulu biasanya selalu ke pantai. Padahal di kampung saya, jarak dari rumah ke museum di sana (Museum Blikon Blewut) cuma 5 - 6 KM saja. Bahkan sering dilewati kalau mau ke kota. Dulu museum itu selalu dipadati pengunjung saat hari raya Natal, tapi saya tidak ada keinginan sedikit pun untuk kesana. Anti-mainstream kali ya. hehe

Nah karena akhir-akhir ini saya mulai menyadari pentingnya mengunjungi museum, sebagai tempat untuk napak tilas sejarah, makanya saat ke Jogja kemarin saya mengagendakan untuk ke museum.
Benteng Vredeburg yang ada di jantung kota Jogja, menjadi museum pertama yang saya kunjungi.

Gerbang Benteng Vredeburg
Benteng yang dibuat tahun 1767 oleh seorang insinyur bernama Frans Haak itu merupakan pusat pemerintahan dan pertahanan residen Belanda saat itu. Kelihatan dari bentuknya dan bangunan yang ada didalamnya, yang tidak terlihat seperti benteng pertahanan.
Di depannya ada parit kecil, sementara di dalam benteng (museum) yang pada awalnya bernama Rustenberg ini terdapat 2 ruangan diorama yang bercerita tentang sejarah perjuangan Indonesia. Disana juga dibangun patung 2 petinggi TNI dulu yaitu Jend. Sudirman dan Jend. Oerip Soemohardjo.
Saya tidak terlalu lama disini, juga tidak pakai guide, jadi untuk lebih detailnya monggo baca sejarahnya disini saja.

Halaman Tengah Museum
Diorama; Romusha
Diorama; Tentara PETA
Diorama; Soekarno-Hatta tiba di Jogja
Di samping kiri dari halaman depan museum ini dibangun Monumen Serangan Umum 1 Maret, yang selalu jadi obyek manusia-manusia narsis untuk berfoto.

Monumen Serangan Umum 1 Maret
Selain di Benteng Vredeburg, saya juga menyempatkan diri untuk ke Museum Perjuangan Yogyakarta dan Museum Taman Siswa. Sayang saat sampai disana, kedua tempat itu sudah tutup, jadi hanya mengambil foto bagian luar saja.

Museum Perjuangan Yogyakarta
Kamar Ki Hadjar Dewantara
Museum Taman Siswa
*Disclaimer : semua foto hasil jepretan saya

Senin, 24 Maret 2014

Promised Land

google pic
Film dengan genre drama, sangat jarang sekali saya tonton. Tapi saat melihat cover film ini di rak salah satu toko DVD bajakan di Glodok, saya langsung suka dan membelinya. Entah kenapa, karena covernya biasa-biasa saja, hanya menampilkan Matt Damon yang sedang berdiri di sebuah bukit.
Ternyata saya tidak salah pilih. Film Promised Land ini sangat berbobot ceritanya, dengan pesan yang begitu kompleks.

Bercerita tentang seorang sales perusahaan pertambangan bernama Global Crosspower Solutions, yaitu Steve Butler (Matt Damon), yang diutus perusahaan bersama rekannya Sue Thomason (Frances McDormand), ke sebuah kota kecil yang sedang mengalami masalah ekonomi, untuk menawarkan agar para warga mau menjual lahan pertanian miliknya kepada perusahaan tersebut, yang mau melakukan ekspansi pertambangan gas alam di daerah itu.

Sayang usahanya yang seharusnya sangat mudah, sedikit terkendala dengan munculnya seorang guru, Frank Yates (Hal Holbrook), pada saat pertemuan, yang meminta untuk dilakukan voting terlebih dahulu, karena dia masih mempertanyakan mengenai jaminan kalau proses tambang tersebut tidak merusak lingkungan, dimana kecenderungan akan kerusakan lingkungan akibat pertambangan sangatlah besar.
Hal ini diperparah lagi dengan munculnya seorang aktivis lingkungan, Dustin Noble (John Krasinski), yang melakukan kampanye penolakan dan mulai mempengaruhi warga dengan bukti-bukti pengaruh buruk sebuah pertambangan terhadap lingkungan.

Perlahan masyarakat yang di awal sepertinya sudah mau menyerahkan tanah mereka, mengingat iming-iming keuntungan jutaan dollar dari tambang ini yang diutarakan Steve, mulai menjauhi dan kemungkinan akan menolak saat voting nantinya.
Namun kemudian satu hari sebelum voting dilakukan, geliat kemenangan menghampiri Steve dan Sue, dimana mereka mendapatkan paket yang berisi bukti kebohongan atas dampak tambang yang selama ini disebarkan oleh Noble sebelumnya.

Saat euforia itu berlangsung, tiba-tiba muncul sebuah fakta mengejutkan kalau Noble ternyata adalah orang utusan dari Global juga, yang berpura-pura menjadi aktivis lingkungan. Jadi bukti-bukti palsu itu sengaja disebarkan untuk menggiring opini masyarakat, dimana apabila mereka akhirnya tahu kalau bukti-bukti tersebut tidak benar, mereka pasti akan memilih untuk menjual tanah miliknya.
Menyadari kecurangan dari perusahaannya, Steve pun membeberkan semua itu saat voting dilakukan, sehingga semua warga lebih memilih untuk tidak menjual tanah mereka.

Cerita tentang pemeran utama yang pada akhirnya berubah pendirian dan berbalik mendukung orang lain seperti itu memang bukan hal yang baru lagi. Tapi satu pelajaran disini bagaimana kita ditunjukkan seberapa buruknya sebuah perusahaan (khususnya pertambangan) dalam menjalankan usahanya. Mereka akan melakukan segala cara, seperti membuat organisasi lingkungan palsu, yang seolah-olah membela warga, tapi nyatanya ditujukan untuk menggiring opini masyarakat agar justru menerima apa yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut.
Dan ini merupakan sebuah kenyataan yang sering dipraktekkan oleh para pengusaha dalam memuluskan usaha mereka. Masyarakat, terutama yang awam, sering sekali tertipu oleh praktek-praktek kotor seperti ini.

Di film ini Matt Damon berhasil memerankan seorang Steve Butler, salesman yang melakukan pekerjaannya dengan profesional sesuai tuntutan perusahaan. Semua konflik yang ada, juga kegamangan yang mulai muncul disaat-saat terakhir, terlihat sekali di raut wajah mantan pemeran Jason Bourne itu. Sangat berkarakter.
Begitu juga John Krasinski, yang sukses berperan sebagai aktivis lingkungan yang militan dan tak kenal kompromi dalam melawan perusahaan yang bisa merusak lingkungan hidup, sehingga bisa menutupi siapa dia sebenarnya dan agenda busuk dibaliknya.
Satu peran yang saya pikir tidak terlalu penting-penting amat adalah karakter Alice, yang sepertinya hanya menjadi bumbu penyedap saja di film ini. Tidak adanya karakter ini pun tidak mempengaruhi cerita.
Satu yang sangat saya sayangkan karena porsinya hanya sedikit adalah karakter Frank Yates. Padahal peran karakter tersebut di cerita film ini cukup signifikan.

Saya punya kebiasaan baru beberapa tahun belakangan ini, yaitu setelah menonton film, di bioskop ataupun DVD bajakan, kalau film tersebut 'ngena' banget di hati (sesuai kriteria saya), pasti akan saya beli DVD aslinya untuk dikoleksi. Dan film Promised Land ini memenuhi kriteria tersebut. *kumpulin recehan. hehe

Rabu, 19 Maret 2014

Kearifan Masa Lampau

Melihat Candi Borobudur dan Prambanan dari dekat (setelah sekian lama selalu gagal), membuat saya terkagum-kagum dengan 'otak' nenek moyang yang membuat bangunan megah ini. Begitu detail dan sangat artistik sekali. Ornamen - ornamen yang menghiasi setiap sudut dan dinding candi begitu indah, dengan sentuhan seni tingkat tinggi.

Puncak Borobudur

Candi Prambanan
Membuat bangunan yang besar, tapi hanya disusun bertingkat-tingkat seperti itu, saya pikir membutuhkan perhitungan yang sangat matang agar bangunan itu bisa kokoh. Bayangkan saja, bangunan masa kini yang dibangun dengan teknologi tinggi pun begitu mudahnya roboh kalau terjadi gempa. Tapi kedua bangunan ini tetap berdiri tegak dengan gagahnya, waktu terjadi gempa Yogyakarta lalu.
Memang sudah banyak juga bagian candi yang hancur dan jatuh, juga sudah mengalami pemugaran. Tapi melihat usianya yang sudah ribuan tahun lamanya, hal itu tidak mengurangi kegagahannya.

Satu yang membuat saya tidak habis pikir adalah bagaimana mereka di masa itu, sudah memikirkan tentang teknik pembuangan air. Baik di Prambanan maupun Borobudur, saya melihat di setiap sudut candi selalu ada semacam saluran air/talang, yang berfungsi untuk mengalirkan air hujan agar tidak menggenangi candi. Bentuknya berbeda, yang pasti sangat artistik.

Talang Air di Borobudur. Yg di Prambanan ga kepikiran difoto :D
Itu kesimpulan saya sendiri sebenarnya, karena saya tidak menggunakan pemandu wisata waktu itu, jadi saya tidak tahu persis fungsinya. Tapi mudah-mudahan saya benar :D

Lokasinya yang begitu indah, asri dan hijau, juga menjadi kekaguman tersendiri. Bayangkan saja punya rumah di daerah yang seperti itu, pasti so romantic ya :)
Terimakasih untuk pengelola tempat wisata yang sudah merawat warisan budaya yang begitu indah itu dengan baik.

Taman di jalan menuju Prambanan 

Salah satu sisi bukit di Borobudur
Terlepas dari segala macam misteri dan mitos yang ada, kedua candi tersebut adalah bukti nyata kearifan lokal masa lalu, yang ditinggalkan oleh para leluhur untuk anak cucunya, yang pasti untuk dijaga dan dipelihara dengan baik.
Satu kebanggaan tersendiri bisa melihatnya dari dekat.

Salah satu bangunan candi di lokasi Prambanan

Prambanan
Salah satu sisi Borobudur

Pahatan di sisi Candi Prambanan

Sisi bukit Borobudur
Stupa Borobudur
*Disclaimer : Semua foto abal-abal ini adalah hasil jepretan ane sendiri ;)

Kamis, 27 Februari 2014

Lukas Lekot Jadi Caleg

Pagi itu di sebuah kolam renang di komplek perumahan elit yang dibangun oleh developer terkenal, Ciputri, terdengar obrolan 3 orang bapak rumah tangga pengangguran, yang sedang menunggu anaknya berenang.

"Eh jeng, pemilu udah dekat nie. Kalian udah ada calon untuk dicoblos?", si Tius tiba-tiba serius bertanya.

Dorus yang pernah kuliah sampai semester 2 di Fisip UI serius juga menimpali, "Gue masih bingung nie. Konstalasi politik di Negara kita ini makin lama makin keluar dari koridor yang sesungguhnya. Hampir semua partai saat ini sulit untuk dipercaya. Liat Partai Keindahan Sempurna, sebelumnya ane demen banget, tapi ujung-ujungnya tergiur daging sapi dan dara belia. Demokarat, Golkart dan yang lainnya sama juga. Trus, ……......................”

“Sorry bro. Lu juga udah melenceng dari konstalasi pertanyaan gue tadi. Gue cuma pengen tau udah ada apa belum doang”, potong Tius.

“Pokoknya gua kagak mau pilih bintang iklan, apalagi capres yang cuma bisa ngomong teeerlaaluu. Udah cukup 10 tahun dipimpin pencipta lagu yang cuma bisa prihatin doang. Titik”, Dorus agak kesal gara-gara materi kuliahnya tadi dipotong semena-mena sama si Tius.

Akhirnya si Domi yang dari tadi diam, angkat bicara juga, “Udahlah kenapa jadi serius gini sih obrolannya, masih pagi juga. Kalau gue mah bodo amat soal calon-calon gituan. Mending gue pikirin belanja apa, yang bakal jadi calon makanan bini gue entar pas pulang kerja. Apalagi apaan tadi, konstalasi. Gue ga ngerti. Gue taunya instalasi. Dari colokan ke rice cooker, ke oven, ke kompor gas, ke mixer, ke setrika, dan lain-lain. Mending daripada lu berdua pusing, pilih si Lukas Lekot aja tuh, dia kan nyalonin juga. Tetanggaan pula. Kalo dekat gitu kan enak, inspirasi kita lebih mudah tersampaikan, cuma 5 langkah dari rumah”.

“Aspirasi, kampreeeeeeeet!!”, teriak dua temannya.

Si tetangga 5 langkah dari rumah tadi, memang mencalonkan diri jadi anggota DPR RI Dapil Jakarta 1, dari Partai Hanuman (Hati Nurani Manusia).
Semua tim sukses dia saat pencalonan dirinya jadi Ketua RT, dikumpulkan lagi. Strategi baru kembali digodok, agar kekalahan saat pemilihan Ketua RT 3 bulan lalu tidak terulang lagi. Kali ini poster dibuat lebih banyak, dengan tampilan yang lebih artistik mendekati futuristik, dan foto dirinya pun lebih segar dengan senyum lebar, selebar daun keladi, menunjukkan gigi putihnya, ditambah dengan gambar idolanya, Robin Hood.
Pohon-pohon di sepanjang jalan, dipenuhi dengan tempelan poster dirinya, agar orang-orang yang kebelet dan kemudian kencing disitu, bisa melihat poster itu.

Banner dan spanduk diperbesar, agar orang bisa lebih jelas lagi membacanya. Setiap hari ada iklan tentang dia di radio miliknya, Radio Cinta Tuk Istri (RCTI), bahkan dibuat kuis settingan setiap jam 5 sore.
Penampilannya pun dirubah. Tak seperti biasa, Lukas yang dikenal sebagai laki-laki metroseksual di kompleks setempat, yang biasa memakai produk mahal seperti Prada, Dior, Ferrari, Apple, dan lain-lain itu, kini setiap hari pakai batik Tanah Abang, mobil Esemka, bahkan minumnya pun bir plethok, biar terlihat lebih merakyat dan nasionalis.
Saat blusukan pun, memaksakan diri untuk makan jagung bose, walaupun sehabis itu langsung kena diare stadium 2.

Visi misi dibuat seciamik mungkin. Slogan “siap mati demi rakyat”, yang dianggap terlalu seram, diganti menjadi lebih religius dengan mengambil dari Kitab Suci, yaitu : “Menjadi garam dan terang bagi rakyat, menuju tanah terjanji”.

Selain itu juga, dibentuk Rekot (Relawan Lukas Lekot), untuk menampung sukarelawan yang ingin ikut berpartisipasi menyukseskan pencalonan dirinya, sehingga bisa terpilih.

Sementara tetangganya, Tius, Dorus dan Domi, hanya menanti datangnya hari H Pemilu, dengan harapan akan ada serangan fajar dari tim sukses, sehingga bisa jadi tambahan untuk membeli bumbu dapur dan sayur.
Tapi ketiga bapak rumah tangga yang juga suami takut istri itu, sudah memutuskan untuk menjadi golput, tidak mau memilih siapapun dan partai manapun. Mereka sadar kalau semua yang disampaikan saat kampanye itu hanyalah sebuah fatamorgana belaka, yang cuma menjadi kamuflase untuk menutupi maksud yang sebenarnya, entah apa.

“Ujung-ujungnya OMDO”, kata Dorus, si sarjana tak kesampaian.

“Udah omong doang, bawaannya pasti cuma prihatin. Teeerlaaaluuu..!!”, si Tius yang mukanya mirip Balotelli, menimpali.

Dan Domi yang laki banget, menyimpulkan, “Yapz. Mending kita pikirin gimana caranya biar selalu menjadi suami yang baik, ciamik dan soleh di mata istri, biar uang belanja bulanan dilebihin dikit”.

Kedua temannya hanya bengong dan menatap tanpa ekspresi.