Jumat, 15 Mei 2015

Become United

Beberapa tahun yang lalu, saya suka dibilang FANS MUSIMAN oleh teman saya, gara-gara katanya suka mendukung klub yang berbeda-beda. Gak konsisten.
Jadi karena itulah saya memutuskan untuk membuat klarifikasi ini, agar tidak ada dusta diantara kita :p
__________

Cabang olahraga favorit saya saat masih SD sebenarnya adalah bulutangkis. Maklum, di awal sampai pertengahan tahun '90an, olahraga 'tepok bulu' itu sedang jaya-jayanya. Susi Susanti, Alan Budikusuma, Ricky Subagja, Rexy Mainaki, dan lain-lain, selalu wara-wiri di layar kaca. Ditambah lagi channel tivi yang bisa 'ditangkap' oleh antena biasa di kampung saya cuma TVRI saja, yang kebetulan selalu menayangkan secara live pertandingan bulutangkis.
Sementara sepakbola, di tivi nasional ini cuma Liga Dunhill saja yang ditayangkan. Itupun tidak rutin (kalau tidak salah ingat). Liga-liga luar cuma bisa di-update lewat siaran Dunia Dalam Berita TVRI, yang tentunya berkategori B ('Bapak-bapak'). Gak lazim bocah ingusan nonton yang begituan.

Brasil adalah tim sepakbola pertama yang saya suka. Itupun bukan karena nonton pertandingan mereka di tivi, tapi karena pengaruh orang-orang di kampung saya yang sepertinya born to be sambaholic. Tidak ada tim lain, selain Brasil, yang dibicarakan di sana saat itu. Bahkan negara lain yang mereka tahu cuma Maradona, Campos, Ruud Gullit, dan segelintir pemain bintang lainnya.
Final Piala Dunia '98 di Prancis menjadi tontonan perdana saya, walaupun masih sekedar ikut-ikutan saja. Kesan pertama yang agak tidak enak, karena harus melihat Zidane cengar-cengir di saat Ronaldo tertunduk lesu, melihat orang-orang menggerutu karena Brasil kalah, dan mendengar celotehan mereka yang merasa kalau Ronaldo diguna-guna pakai ilmu hitam biar lemas mainnya. #WTH

Tahun 2002 bisa dibilang sebagai turning point bagi saya untuk benar-benar 'terjerumus' ke dalam lubang besar pecinta sepakbola. Menyaksikan langsung para pemain tim Samba mengalahkan lawan-lawannya, sejak pertandingan pertama sampai merengkuh gelar juara dunia untuk kelima kalinya. Merasakan euforia kemenangan bersama (kemungkinan besar) 99% pendukung Brasil lainnya di tempat itu.
Tahun yang membuat saya menjadi seperti Bung Towel, karena tahu semua informasi sepakbola, berkat setumpuk ulasan piala dunia dari Pos Kupang.
Tahun yang membuat saya akhirnya punya seorang pemain favorit, RONALDINHO.

Pindahnya Ronaldinho ke Barcelona di tahun 2004, dan seiring bertambah banyaknya orang yang punya receiver digital, membuat saya selalu menghabiskan weekend bersama teman-teman menunggu tayangnya LaLiga Spanyol. Sepertinya tidak ada satupun pertandingan Barcelona yang tidak saya tonton, karena tidak mau melewatkan aksi sang idola. Tapi itu bukan berarti saya jadi fans Barcelona. Karena kalau Ronaldinho tidak main, malas nontonnya :D
Saat dia akhirnya dilego ke AC Milan di tahun 2008, saya pun berhenti nonton LaLiga, dan beralih ke Serie A Italia. Demi Idola :D
Dan gara-gara di tahun yang sama saya mulai kepincut permainan Manchester United, lalu sesekali menonton pertandingan mereka, disitulah saya dianggap seperti Fans Musiman tadi. Apalagi, di beberapa kesempatan, saya juga mendukung tim lain yang sedang melawan klub favorit teman saya. Maksudnya biar suasananya jadi agak panas. Nonton bola dengan tensi tinggi kan enak ya :D
__________

Manchester United sendiri sudah lama saya tahu. Bahkan dulu saya punya poster timnya saat meraih treeble winner di musim 1998/1999. Mudah-mudahan sih posternya masih tertempel di dinding kamar saya sampai sekarang. Tapi memang waktu itu belinya karena suka sama gambarnya saja. Dulu saya punya banyak poster di kamar. Agak random memang. Ada Zidane, Karel Poborsky, Inzaghi, Boomerang, Zamrud, Bob Marley, Eminem, bahkan poster film Kuch Kuch Hota Hai dan Rani Mukherjee pun ada (*semua orang punya masa alay-nya masing-masing :p).

Saya juga pernah sekali menonton mereka (MU). Kalau tidak salah waktu itu pertandingan Liga Champions melawan Juventus. Lupa siapa yang menang. Yang saya ingat cuma Scholes yang hampir saja mencetak gol dengan dadanya, dan juga kibasan rambut Edgar Davids dengan kacamata gaulnya.

Baru di tahun 2008, saya mulai mencoba 'mendekati' dan mengenal lebih jauh si Setan Merah ini. Eh tak disangka tak diduga, aku jatuh cinta :D
Walaupun di awal-awal masih malu dan sembunyi-sembunyi, karena banyak teman saya yang sudah sejak lama jadi fans Manchester United, sebelumnya pernah saya ejek kalau MU itu tim gak jelas, tim banci kaleng, tim ayam sayur, dan lain-lain. Kan malu ya kalau ketahuan akhirnya suka juga. Jadi kayak kisah percintaan ala FTV. Benci jadi cinta. Cinta pacarnya Rangga.
Tapi tidak apalah. Toh tidak masuk neraka ini :D
__________

Sebenarnya agak dilematis juga untuk mengakhiri tulisan ini. Karena intro-nya lebih banyak daripada cerita inti saya jadi fans Manchester United.
Tapi ya sudahlah.
Yang pasti, dengan ini saya nyatakan dengan seksama, demi kemaslahatan penghuni Galaksi Bima Sakti, kalau saya adalah fans Manchester United terhitung sejak tahun 2008. Sekian dan terimakasih ;)

*semoga foto-foto Chaning Tatum di bawah ini bisa menjelaskan semuanya :p =)))








Tabe!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar