Kamis, 28 November 2013

My Best Old Man

Memang sedikit terlambat untuk menulis tentang the best old man in my life, Ayah saya tercinta, karena seharusnya saya menulis ini 2 hari yang lalu saat bertepatan dengan ulang tahun beliau. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan.

26 November 1947, tepat 66 tahun lalu, mungkin adalah hari paling bahagia buat kakek-nenek saya (Bernardus Sinakoli & Maria Nona), karena di hari itu lahir anak pertama mereka, yang diberi nama : Silvester Idrus. Bayi yang kemudian ditakdirkan menjadi Ayah saya.
Masa kecil beliau tidak banyak saya ketahui, karena tidak pernah ada yang menceritakannya (mungkin karena tidak saya tanyakan). Yang saya tahu, Bapa (panggilan kami ke beliau) menamatkan Sekolah Dasarnya di SD Katholik Nita 1, dilanjutkan ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Katholik Yapenthom - Maumere, dan terakhir di SMA Katholik Syuradikara - Ende, yang merupakan salah satu SMA favorit dan salah satu yang terbaik se-daratan Flores (mungkin se-NTT) hingga kini. Namun beliau tidak sampai tamat SMA, karena waktu itu Indonesia sedang ditimpa krisis pasca tragedi G30S-PKI, yang efeknya juga terasa sampai Flores.

Dari beberapa obrolan (lebih ke candaan) saat bertemu dengan teman masa remajanya dulu, sepertinya beliau orang yang sedikit nakal dan jahil. Suatu hal yang lumrah, layaknya ABG labil.
Saat masih remaja, beliau (katanya) pernah menjadi pemain sepakbola, dan berposisi sebagai gelandang sayap (kanan luar kalo kata bokap :D). Mungkin bakat ini menurun ke saya, walau permainan olah bola saya sangat jauh dari kata bagus. hehe

Sekitar tahun 1972, beliau mulai bekerja sebagai sopir truk, setelah sebelumnya sempat bekerja sebagai pegawai kantor desa, kenek, dll. Di tahun 1973, beliau bekerja (sopir) di Pulau Adonara, tepatnya di Kota Waiwerang.
Dua tahun sebelum itu (1971), beliau bertemu dengan pujaan hatinya, gadis asli Tebuk yang sedang bekerja sebagai guru honorer di SD Katholik Nita 2. Hal ini yang kadang membuat saya iseng-iseng berpikir, kok bisa ya mama suka sama pemuda tidak jelas dan suka mabuk-mabukan, yang hanya berprofesi sebagai sopir ini (mungkin ini yang namanya cinta kali ya :D). Tapi setelah sempat bertemu dengan mantan pacar Mama saya (dikenalin sama Mama), saya jadi berpikir lagi, untung Mama tidak menikah dengan orang itu (mantannya), bisa-bisa saya tidak seganteng seperti sekarang ini. hahaha

Mungkin kata pepatah : "don't judge the book by it cover", ada benarnya juga. Walau orangnya tidak jelas dan pemabuk, sepertinya cinta beliau tulus ke Mama saya (atau jangan-jangan karena guru nie, jadi ditulus-tulusin. hahahhaa. Kualat saya. Sorry dad!). Cinta dan tanggungjawab beliau itu dibuktikannya dengan selalu ke rumah Mama lebih dulu (kalau tidak salah) setiap pulang dari luar pulau, sebelum ke rumahnya sendiri. Bahkan pernah membantu membangun rumahnya Mama, padahal masih status pacaran. Laki banget kan! hehe
Sampai akhirnya mereka menikah pada tanggal 16 September 1978 (hal yang baru saya ketahui saat mau menulis ini). Dan sekali lagi, dia buktikkan cintanya dengan mau tinggal di rumah Mama, karena kedua orangtua Mama tidak ada yang akan menjaganya, kalau Mama ikut ke rumah suaminya.

Ada cerita lucu saat saya lahir.
Karena 2 anak sebelumnya laki-laki, beliau sangat mengharapkan kalau anak ketiga ini perempuan. Tapi yang nongol malah bayi laki-laki imut (sampai sekarang masih imut) bernama Paul de Chivo ini. Alhasil, beliau ngambek dan tidak mau menyiapkan semua keperluan layaknya orang yang baru mendapatkan momongan (yang sibuk malah tante-tante saya).
Anak yang tidak diharapkan. Padahal saya jauh lebih ganteng, imut, lucu dan menggemaskan, dibandingkan kedua kakak saya. hahahahaha. Untungnya dulu tidak ada fasilitas USG. Bisa-bisa ngambeknya sudah jauh-jauh hari =))

Dan kelucuan berlanjut saat adik perempuan saya lahir 2 tahun kemudian. Seperti orang yang baru menang undian milyaran rupiah, beliau bercerita kemana-mana dengan bangganya, kalau dia punya anak perempuan. hahahaha
Beliau tambah bahagia saat hadir si kecil Eva, 14 tahun yang lalu. Yes, you have two daughter now, man!! Cheeeers!!
Apalagi sekarang sudah punya dua cucu yang lucu :D

Bapa adalah seorang pribadi yang keras, watak yang tidak jarang menyebabkan beliau sering tidak sepaham dan akhirnya ada sedikit gejolak konflik dengan kedua kakak saya, yang sepertinya diturunkan sifat keras juga. Tapi yang saya bingung, kerasnya beliau ini hanya kepada kedua kakak saya. Mungkin beliau ingin mendidik keduanya untuk bisa menjadi orang yang tangguh, sehingga bisa menjaga adik-adiknya.
Sampai sekarang, saya tidak pernah dipukul, bahkan dibentak sekalipun (marahnya lebih ke mengingatkan). Apalagi adik perempuan saya yang adalah kesayangan beliau.

Tapi, walaupun demikian, saya tidak terlalu dekat dengan Bapa (sebagian besar anak laki-laki di Flores mungkin seperti itu). Tidak dekat disini maksudnya tidak pernah bertukar pikiran layaknya Ayah & anak membicarakan tentang hidup, masa depan, berdiskusi tentang masalah keluarga atau sekedar curhatan. Mungkin karena laki-laki di kampung dianggap sanggup mandiri sejak kecil, jadi tidak perlu bimbingan seorang Ayah (analisa asal-asalan. hehe).

Saat saya kira-kira 3 atau 4 tahun, Bapa sudah 'pensiun' dari pekerjaannya sebagai Sopir dan menjadi petani. Saya masih ingat, biasa diajak Bapa untuk menyadap nira di kebun (yang akan disuling menjadi Moke/Tuak). Saat itu yang paling saya tunggu-tunggu adalah pada saat air nira hasil sadapan itu menetes. Dengan sigapnya saya menjulurkan lidah agar tetesan air nira yang sangat manis itu masuk ke mulut (kalau sudah disuling jadi memabukkan :D).
Atau saat panen, beliau menangkap belalang kemudian di sate untuk kami makan, bahkan kadang kami dicarikan telur burung puyuh, ditembakin burung atau menjamu kami dengan masakan tempurungnya yang maknyos (inovasi alat masak pakai tempurung kelapa, jadi sekali pakai :D).
Masa kecil yang indah bersamanya.

Selain itu ada yang tak terlupakan, yaitu saat gempa Flores tahun 1992. Saat itu saya sedang bermain di rumah teman, kira-kira 3 - 4 km dari rumah. Semua orang dalam keadaan panik, kecuali saya dan teman-teman saya (maklum masih bocah banget). Tiba-tiba dari tikungan saya melihat beliau berlari panik mencari saya. Setelah ketemu, dipeluknya saya sebentar lalu kami berdua (saya digendong) pulang ke rumah, walau gempa semakin besar dan kami harus melewati 2 jembatan yang sesewaktu bisa saja rubuh.

Juga yang selalu saya ingat adalah lantunan lagu dari Panbers (gak tau judulnya apa), yang selalu dinyanyikan beliau saat sudah mabuk. "Aku gagal, kali ini................lalalalalala", entah ada apa dengan lagu itu. hehe

Mungkin agak subyektif, tapi bagi saya, Bapa itu orang yang berjiwa sosial tinggi. Banyak sekali orang yang dibantu olehnya. Bahkan orang yang baru hari itu dikenal sama beliau di jalan, diajak menginap di rumah. Sampai-sampai rumah kami terlihat seperti open house rumah pejabat saat lebaran.
Siapa saja boleh lalu lalang bebas, rumah tidak pernah dikunci (selain alasan karena pintu selalu dirusakin kakak saya kalau pulang malam, yang ketakutan dikejar 'setan' :D). Makan gak makan asal kumpul, mungkin itu prinsip beliau, mengingat ekonomi kami yang juga biasa-biasa saja.

Itulah Ayah saya, selama masih ada 'botol' di depan muka, it's gonna be alright. Hal yang sampai sekarang tidak bisa saya larang, walau nada bicara sudah meninggi. "Saya sudah minum dari kamu belum ada, sampai sudah besar seperti sekarang ini, tidak ada apa-apa kok", kata-kata yang selalu keluar setiap kali saya menyuruhnya untuk berhenti mabuk-mabukkan. Beruntung kalau sedang sakit, beliau sadar diri dan pasti 'puasa' dulu sampai sudah sembuh.
Walaupun orangnya santai, tapi bagi saya, beliau memiliki harapan yang besar untuk anak-anaknya, terutama dibidang pendidikan. Makanya beliau sangat marah saat kakak saya ingin berhenti dari SMP Frater, padahal itu sekolah paling berkualitas yang ada di kota kabupaten. Mungkin beliau tidak ingin anak-anaknya hanya sekedar menjadi sopir atau petani seperti dirinya (hal ini juga (analisa saya sendiri) yang membuat beliau tidak mau mengajarkan saya menyetir mobil :D).

Beliau juga sepertinya ingin mencontohkan kepada kami kebiasaan untuk selalu melek ilmu pengetahuan, dengan hobinya menonton berita (Dunia Dalam Berita-TVRI), baca koran (hal yang membuat saya punya koleksi ulasan piala dunia sampai 1 kardus, tahun 2002), mengisi TTS, menganalisa porkas a.k.a togel (eh yang ini kayaknya bukan deh. hahaha), dll.
Ayah saya juga jago main bilyard. Makanya setiap liat sopir metromini main bilyard di dekat terminal, saya jadi membayangkan jangan-jangan Bapa dulu seperti itu. hehe

Saat saya wisuda, terlihat sekali raut bahagia di wajahnya. Begitu pula saya. Ingin rasanya saat itu berpelukan lama, dan mungkin sampai menangis haru, tapi gengsi 'kelaki-lakian' itu tidak bisa dipungkiri, dan acara wisuda itu pun hanya menjadi seperti rutinitas beliau bertahun-tahun yang lalu saat menerima raport di sekolah.

Satu celetukan  beliau dengan om saya (teman 'minumnya') di telepon, 2 tahun lalu : "Biar saja orang omong apa. Kami santai saja. Yang penting, biar kami tukang mabuk begini, tapi bisa sekolahkan anak sampai sarjana". Awalnya saya ketawa mendengar hal itu, tapi bangga juga akhirnya. I know my dad is the best.
Tahun 2011 lalu (saya lupa momennya apa), di Jakarta, for the 1st time, saya 'minum' bersama beliau. Beberapa botol bir kami habiskan hanya berdua saja. Beliau yang menuangkannya ke gelas saya. Mungkin itu adalah pengukuhan dari beliau kalau saya adalah seorang laki-laki dewasa sekarang. Mungkin karena selama ini mau melarang saya 'minum' tapi 'enggan', jadi ya 'dijerumuskan' aja sekalian. hahaha
Agak janggal memang, saya malah senang, mengingat itu adalah hal yang negatif. Tapi ................... Ah sudahlah.

Itulah sekelumit cerita tentang My Best Old Man, Ayah saya tercinta.
Walau belum bisa memberikan 'sesuatu' untuk beliau, saya akan selalu berusaha sampai bisa membuat beliau menikmati masa tuanya dengan bahagia dan bangga, bahwa beliau sudah membesarkan seorang anak yang luar biasa. Sama bangga dan bahagianya seperti saat memiliki anak perempuan, 26 tahun lalu. Semoga!

You know dad, I Love You so much....!!!
What the f*ck the say, You're my best dad....!!!
May God bless you always....!!!
Keep strong, healthy 'n calm....!!!

HAPPY BIRTHDAY OLD MAN....!!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar