Jumat, 19 April 2013

Sebuah Harapan

Katanya kalau semakin dewasa seseorang, maka dia akan semakin lebih banyak mengerti tentang segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya.
Dan itu yang saya rasakan saat ini.

Dulu ada satu hal yang sangat mengganjal dalam hati saya, yang baru saya pahami beberapa tahun belakangan ini.
Jadi, saat saya duduk di kelas 6 SD, ayah saya membeli sebuah mobil carry untuk dijadikan angkutan umum.
Saya sangat senang sekali (lumayan jadi anak juragan angkot..hehe). Apa saja yang dilakukan Ayah saya yang berhubungan dengan mobil itu selalu saya perhatikan dengan seksama.

Tapi anehnya, sampai saya SMA bahkan sudah lulus pun, saya tidak pernah dizinkan Ayah saya untuk "bersentuhan" dengan segala hal yang berhubungan dengan mobil itu.
Saat dia sedang memperbaiki mobil, saya tidak pernah diminta untuk membantu. Saya juga tidak pernah diajarkan menyetir mobil, padahal ada banyak anak lain yang belajar dengan mobil itu, termasuk kedua kakak saya. Bahkan saat hanya pergi berdua saja pun, tidak ada sedikitpun beliau menawarkan saya untuk mencobanya, padahal keinginan saya agar bisa menyetir sangat besar sekali.

Layaknya remaja labil, mulai muncullah perasaan marah, cemburu dan sakit hati. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan di kepala saya. Apa saya ini bukan anaknya? Apa beliau tidak sayang sama saya? Apa saya tidak pantas menyetir mobil?. Kekesalan dan kekecewaan pada Ayah saya waktu itu begitu besar, walaupun hanya saya simpan dalam hati. Tidak pernah saya ungkapkan ke beliau.

Belakangan baru saya menyadari kalau apa yang Ayah saya lakukan dulu, bukan seperti yang saya bayangkan selama ini. Saya baru sadar, kalau beliau memang sengaja melakukan itu karena tidak mau anaknya (saya) berakhir menjadi seperti dirinya. Hanya seorang "pensiunan" sopir truk, yang mengisi "masa-masa pensiunnya" di kebun.

Saya baru sadar kalau ada sebuah harapan, walaupun tidak pernah diungkapkannya. Harapan yang besar agar anaknya bisa menjadi seseorang yang lebih baik dari dirinya, bahkan jauh lebih baik, sehingga bisa membanggakan keluarga.

Harapan yang belum bisa saya penuhi saat ini, walaupun saya tahu bahwa beliau selalu bangga dengan anaknya setiap saat dan dalam kondisi apapun.
Tapi saya akan selalu berusaha untuk mewujudkan harapan itu. Membanggakan dirinya dan menunjukkan kepadanya kalau beliau sudah berhasil membesarkan seorang anak yang baik.

Thanks Dad. I Love You!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar